182 Juta Rakyat Divaksin, Sulit dan Butuh Biaya Besar

oleh -194 views
Edriana Noerdin (foto: dok)

Oleh: Edriana Noerdin

Temans,

Terlihat bahwa sepertinya program vaksinasi sulit akan berhasil dalam satu tahun seperti harapan Pak Presiden Joko Widodo.

Ada enam jenis vaksin dengan berbagai merek yang membutuhkan cara penyimpanan yang berbeda. Tentunya juga butuh tatacara pendistribusian yang juga berbeda.

Kemudian juga waktu penyuntikan ulang setelah vaksinasi yang pertamapun berbeda pula. Ada yg butuh waktu 14 hari ada yang satu bulan harus disuntik ulang setelah disuntik pertama.

Minimal 182 juta penduduk (70 persen dari jumlah penduduk) yang harus divaksin agar tercapai herd immunity dan masing-masing harus disuntik 2 X suntikan sementara pak presiden minta selesai paling lama 1 tahun.

Mengingat negara kita yang sangat luas dengan kondisi alam yang berbeda, disparitas daerah desa kota dan daerah kaya miskin yang juga berbeda maka tatakelola pendistribusian ini menjadi isu utama.

Sekarang baru tiga juta dosis tersedia untuk tenaga kesehatan saja masih banyak kendala dalam mendistribusikan di lapangan.

Selain itu ternyata juga harusnya vaksinasi diulang lagi setelah satu tahun kemudian.

Melihat kebutuhan vaksin yang sangat besar tersebut, yaitu sekitar 600 juta dosis, maka harus ada alokasi anggaran besar yang tentunya didapat dari hutang yang akan dialokasikan untuk pengadaan vaksin tersebut.

Ini akan menjadi bancaan rame-rame bila tidak ada pengawasan yg ekstra ketat dari lembaga berwenang dalam mengawasi anggaran negara. Belum lagi monopoli pengadaan yang tentunya sarat dengan kongkalingkong.

Anggaran Besar Harus Diawasi Ketat

Harapan pak presiden dan pernyataan para menteri yang menyatakan dengan vaksinasi pandemi akan segera mereda dan ekonomi 2022 akan tumbuh sampai dengan persen lebih sepertinya sulit dicapai.

Apalagi kalau kita lihat sekarang begitu banyak masyarakat yang tidak disiplin dengan protokol kesehatan dan abai dengan prinsip 3 M.

Karena vaksin ini hanya salah satu cara untuk menghentikan pandemi maka kita tetap harus secara ketat menjalan cara lain sesuai dengan protokol kesehatan bila tidak ingin melihat korban-korban akan berjatuhan lebih banyak lagi.(analisa)