oleh -65 views
oleh
65 views

Padang– Pakar para peneliti The 2nd Internasional Conference and The 11th Congress of The Entomological Society of Indonesia (ICCESI) 2023 digelar pada Jumat (29/9) di Hotel Santika.

Adapun sembilan negara yang hadir Malaysia, Filipina, Jepang, Australia, India, Uni Emirat Arab, Pakistan, Amerika Serikat serta juga beberapa kota dan Provinsi di Indonesia seperti Medan, Padang, Riau, Palembang, Lampung, Jambi, Bengkulu, Bandung, Bogor, Yogyakarta, Malang, Bali, Kalimantan, Makassar, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Papua.

Sekitar 230 peserta dari seluruh dunia berkumpul untuk bertukar ide, pengetahuan, dan pengalaman tentang serangga dan spesies mereka yang benar-benar menginspirasi pemandangan. Dalam kegiatan ini, kompetisi fotografi juga diselenggarakan yang dihadiri 90 peserta dari seluruh Indonesia dengan 132 foto serangga yang spektakuler dan kompetisi kuis entomologi yang diikuti oleh 10 universitas di Indonesia

Mengangkat tema “Mengurangi Perubahan Iklim melalui Penggunaan Serangga yang Menguntungkan untuk Mendukung Ekosistem Berkelanjutan dan Keamanan Makanan,” menghadirkan narasumber Dr. Nurul Wahida (University Kebangsaan Malaysia), Prof. Dr. Nurul Huda (University Sabah Malaysia), Maulana Marman, S.P. (Provivi Inc.) serta narasumber yang hadir secara hybrid Prof. Damayanti Buchori (IPB University), Dr. Susan MF Calumpang (UPLB), Dr. Katsuyuki Eguchi (Tokyo Metropolitas University), Dr. Kris AG Wyckhyus (Univ. of Queensland).

Wakil Rektor IV Universitas Andalas Dr. Hefrizal Handra, M. Soc mengungkapkan pentingnya konferensi dan kongres karena telah menyatukan sebuah pertemuan yang luar biasa dari para ahli, peneliti, dan penggemar dari bidang entomologi.

Dengan semangat kolaborasi, patut dicatat bahwa dua dari 16 fakultas di Universitas Andalas, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (Dr. Henny Herwina dan kolega), dan Fakultas Pertanian (Prof. Dr. Novri Nelly, Dr. Munzir Busniah dan kolega), telah memainkan peran penting sebagai anggota integral dari Komite The Entomological Society of Indonesia.

Ia mendorong masing-masing peserta untuk secara aktif terlibat dalam dialog, berbagi ide-ide inovatif, dan menumbuhkan kemitraan yang memiliki potensi untuk menghasilkan solusi substansial.

“Tantangan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim dan imperatif untuk sistem pangan yang berkelanjutan membutuhkan upaya interdisipliner, dan saya yakin konferensi dan kongres ini akan berfungsi sebagai katalis untuk kolaborasi penting ini,” pungkasnya.

Sementara itu, President Entomological Society Indonesia Prof. Dadang, MSc mengatakan serangga memiliki peran yang sangat penting dalam hidup kita.  “Saat ini banyak negara menunjukkan kekhawatiran untuk mempertahankan populasi serangga karena kecenderungan untuk menurunnya populasinya,” ujarnya.

Dikatakannya, tugas kita sekarang bagaimana melestarikan dan memanfaatkan serangga untuk ekosistem yang berkelanjutan serta menciptakan strategi pengendalian serangga yang dianggap sebagai hama.

Oleh karena itu, Masyarakat Entomologi Indonesia melakukan seminar internasional untuk membahas serangga dari semua aspek seperti biosystematika serangga, bio-ekologi, toksikologi, dan manajemen hama serangga.

“Hasil yang diharapkan dari seminar ini adalah IOP Scopus Index Procedure dan manuskrip lainnya untuk diserahkan ke Indonesia Journal of Entomology, dan juga mengharapkan semua anggota ESI dapat meningkatkan publikasi internasional dan nasional,” ucap Prof. Dadang.

Senada dengan itu, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansyarullah berterima kasih dan mengucapkan selamat dating kepada seluruh peserta yang mengikuti konferensi dan kongres ini dari berbagai Negara dan daerah di Indonesia.

“Baginya hasil dari konferensi ini diharapkan bisa menjadi masukan untuk mengoptimalkan program yang akan dilakukan nantinya,” ujarnya. Dikatakannya, Sumatera Barat konsen dengan pertanian itu ditandai dengan 10 persen anggaran digunakan dibidang pertanian.(