Atasi Dana Kurang, Mahasiswa STKIP PGRI Ngamen

oleh -891 views
Atasi kekurangan dana ke Yogyakarta, Mahasiswa STIKIP PGRI lakukan cara kreatif seperti ngamen dari kedai-kedai di Kota Padang. Selasa 16/7 (foto: dok/kapas)

Padang,—Tidak satu jalan ke Roma, demikian pepatah mengatakan. Selagi ada usaha, mudah-mudahan pasti ada jalan, semangat.

Itu diujudkan Mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Persatuan Guru Republik Indonesia (STKIP PGRI) Gunung Pangilun Padang, dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kesenian, mereka berencana ikut Temu Teater Mahasiswa se-Nusantara di Yogyakarta tanggal 27 Juli 2019 ini.

Tapi mereka terhadang dana dan tanpa ada usaha mereka biasa terancam batang ke Yogya. Namun mahasiswa UKM Kesenian itu tidak patah semangat, Kawasan Malioboro membayang terus di kepala mereka, akhirnya mengamen dari cafe ke cafe atau kedai tempat nongkrong anak muda Padang mereka lakoni, asal ke Yogya itu tidak menggadaikan harga diri.

“Acara (itu) selama 12 hari, jadi kami kekurangan dana. Timbullah ide untuk mengamen,” ujar Fara, gadis berhijab sang vokalis dari kelompok musik itu, Selasa 16/7 malam di kedai minum Teh Telur Pinang Muda, jalan Sawahan Kota Padang.

Mereka mengamen ada lima orang. Selain Fara, ada Iga, satu lagi gadis berhijab sebagai vokalis. Dan 3 orang lagi laki-laki, Irfan pemain violin, Deski gitar dan Aldo pegang jimbe (gendang).

Melihat penampilan mereka, banyak pengunjung di kedai di depan Gedung Dakwah Muhammadiyah Sawahan – Padang, bersimpati saat mereka mengalunkan lagu-lagu Minang dan pop. Tak ketinggalan Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar (Kapas) Isa Kurniawan, yang sedang minum di sana.

“Kita mengapresiasi apa yang dilakukan mahasiswa STKIP PGRI (ini) yang menunjukkan kreativitasnya untuk mencari dana. Walau ada keterbatasan, mereka pantang menyerah,” ujar Isa.

Lanjutnya, apa yang telah dilakukan para mahasiswa STKIP PGRI ini dapat menjadi contoh bagi mahasiswa lain, sebagai solusi untuk menutupi kekurangan dana saat ada kegiatan di kampus, dengan unjuk kreativitas kepada publik.

“Saya yakin, masyarakat akan bersimpati, dan menghargai kreativitas yang mereka tunjukkan melalui mengamen. Buktinya banyak pengunjung yang memberi (uang),” imbuhnya.

Isa mengimbau pihak kampus untuk peduli dan memberi ruang yang lebih besar terhadap bakat-bakat seni yang tumbuh di kalangan mahasiswa. Memfasilitasi para mahasiswa, baik infrastruktur maupun finansial (anggaran), dalam berkesenian. (rilis: kapas)