Badoncek, Membangun Padang Pariaman

oleh -260 views
Yohanes Wempi Calon Bupati Padang Pariaman Pilkada 2020. (foto: dok)

Oleh: Bagindo Yohanes Wempi         Calon Bupati Padang Pariaman 2020

BUDAYA badoncek adalah budaya sosial masyarakat Pariaman Minang yang dipakai dahulunya dalam bentuk saling memberikan sumbangan secara materil untuk menopang kegiatan publik atau wujud spontanitas membantu anak nagari memenuhi kebutuhan individu yang tertimpa musibah.

Bahkan lebih dari itu badoncek sebagai media menyukseskan semua kegiatan pembangunan infrastrukut untuk sosial di tengah-tengah nagari.

Istilah badoncek pada saat ini tidak lagi populer di kalangan masyarakat Piaman Minang secara utuh. Keadaan ini disebabkan pada era rezim Soeharto melalui kebijakan sentralistiknya menggalakan program sosial khusus masyarakat yang dinamakan dengan gotong royong. Akibatnya budaya badoncek tersebut nyaris punah.

Jika dibandingkan nilai-nilai badoncek dengan nilai-nilai gotong royong sangat berbeda. Secara filosifi budaya, maupun dasar korenah nilai adat istiadat Minangkabau yang ada dimasyarakat. Namun secara tujuan akhir memang sama, kedua-keduanya merupakan kegiatan membantu sesama masyarakat.

Perlu dipahami nilai-nilai badoncek yang diwujudkan ditengah masyarakat Piaman Minang tempo dahulu adalah suatu kegiatan sosial kemasyarakatan yang saling bantu membantu berdasarkan nilai adat basandi syarak-syarak basandi kitab bullah (ABS-SBK).

Melalui ikatan adat istiadat yang dikendalikan melalui budaya reward dan budaya punishment antara masyarakat Piaman Minang yang terlibat didalamnya.

Sekarang, budaya badoncek tidak lagi mengaung sebagai budaya Piaman Minangkabau yang menguntungkan Masyarakat seperti dahulu. Terkesan di kalangan para tokoh masyarakat Piaman, budaya badoncek ini sekedar kebiasaan adat salingka Nagari saja. Akhirnya budaya badoncek tersebut tidak lagi memiliki tempat di jantung rang Piaman Minangkabau sebagai nila-nilai yang memberi kebaikan untuk semua.

Sikap yang mengatakan budaya badoncek itu hanya milik beberapa Nagari, itu merupakan pemahaman yang keliru dan salah. Budaya badoncek pada dasarnya merupakan sosial budaya Pariaman Minangkabau yang menganut filosifi ABS-SBK sudah hilang dan perlu kembali digalakan.

Saat ini sosial budaya badoncek sangat dibutuhkan rang Paiaman Minangkabau untuk membangun dan memajukan daerah Padang Pariaman yang sudah jauh tertinggal. Perlu dipahami sama-sama bahwa masyarakat Padang Pariaman memiliki keterbatasan dibandingkan daerah lain di Indonesia. Jika tidak ada budaya badoncek di Piaman Minangkabau sebagai solusi, berakibat pembangunan di Piaman Minangkabau tidak akan berhasil.

Pembangunan yang ada ditengah masyarakat sebahagian besar diselesaikan melalui peran nilai kebersamaan, alias badoncek melibatkan banyak orang tanpa melihat latar belakangnya. Mari ambil contoh seperti pembangunan Istano gadang pagaruyuang yang hangus ditelan api pada tahun 2012.

Sekarang pembangunan rumah gadang tersebut telah selesai. Istana tersebut sudah kembali megah. Pembangunan tersebut sukses karna Bupati Tanah Datar, Shadiq Pasadigue membuka diri dan menghimpun donasi sumbangan melalu budaya badoncek di tengah masyarakat Minang. Baik yang ada di rantau maupun yang ada dikampung untuk membangunnya.

Begitu juga pembangunan jalan layang kelok sembilan yang sekarang dinikmati oleh masyarakat Sumatra Barat untuk berpergian ke Pekanbaru. Kesemua prosesnya juga melalui pelibatan banyak pihak. Dimulai dari perencanaan dan lobby-lobby agar proyek ini bersekala nasional melibatkan kalangan yang duduk di eksekutif, legislatif dan tokoh Minang ditingkat nasional.

Mereka sama-sama menyetujui bahwa pembangunan jalan layang kelok sembilan tersebut dibutuhkan. Langkah kebersamaan ini sudah ada diera Gubernurnya Ajo manih menjabat (Almarhun Drs. Zainal Bakar), akhirnya pembangunan dilanjutkan oleh Gamwan Fauzi, dan Irwan Prayitno, yang sekarang kelok sembilan sudah bisa dinikmati masyarakat.

Perlu diberikan apresiasi bahwa budaya badoncek yang dilakukan selama ini diakui sangat membantu pembangunan Minangkabau. Apalagi pembangunan infrastruktur yang ada ditengah masyarakat nagari yang tidak banyak tersentuh dana pemerintah seperti pembangunan kantor KAN, Kantor Wali Nagari, Kantor Wali Jorong/Korong, tempat pertemuan adat dan tempat-tempat pertemuan anak nagari, kesemua dibangun melalui badoncek.

Begitu strategisnya budaya badoncek dalam pembangunan Minangkabau selama ini, maka diminta para elit tidak boleh meninggalkan nilai-nilainya, baik secara aplikasi budaya badoncek untuk membangun Minangkabau maupun yang lainnya. Penulia bisa simpulkan bahwa kesuksesan membangun nagari, membangun kabupaten Padang Pariaman dan propinsi tidak akan bisa terwujud tanpa ada gerakan budaya badoncek ditengah masyarakat.

Mari lihat contoh pembangunan Masjid Raya Sumatera Barat karena tidak dibukanya peluang badoncek untuk pembangunannya, berakibat penyelesaiaan pembangunan Masjid itu agak lambat. Salah satu faktornya belum selesainya. dikarenakan tidak ada keterlibatan pihak luar untuk membantu memecahkan kebuntuan. Selain itu, pembangunan masjid merupakan proyek pemerintah, pemerintah propinsi terkesan jalan sendiri.

Pemerintah provinsi mengambil kebijakan sendiri membangun Masjid Raya Sumatera Barat tersebut dengan menggelontorkan APBD. Dana yang telah digelontorkan sebesar tersebut pun belum bisa menyelesaikan pembangunan masjid yang diharapkan cepat selesai.

Jika diambil contoh kecil kesuksesan hasil dari badoncek seperti pembagunan kantor-kantor ikatan-ikatan keluarga perantau di Jakarta, gedung Ikatan keluarga tersebut sukses dibangun dengan badoncek semua warganya.

Pelaksanaan lain seperti iven MTQ daerah Padang Pariaman dengan dilakukan budaya badoncek sehingga acara sukses dana dapat terkumpul baik dari rantau maupun di ranah sendiri sehingga kebersamaan itu timbul.

Kesuksesan gerakan budaya bandoncek ini bisa diperdalam maknanya melalui dukungan bersama. Mari pahami perumpamaannya sebagai berikut, “barek samo dipikua, ringan sama dijinjiang”. Artinya semua sama-sama terlibat.

Jika pemerintah Padang Pariaman mau jujur maka budaya badoncek ala Piaman bisa dijadikan sarana regulasi strategis (jika perlu di Perdakan) untuk menampung dana dan masukan lain untuk membangun Padang Pariaman yang serba terbatas dalam anggaran untuk mensejahterakan dan memakmurkan rakyatnya [*analisa/ kutip dari wag-pkdp]