Bangga Jadi Orang Minang yang Berkarakter

oleh -204 views
Semakin berkarakter makin bangga kita jadi anak rantau Minangkabau, Sabtu 27/6 (foto: dok/rul)

Jakarta – Tokoh Muda Minang, Yuliandre Darwis mengatakan pendidikan merupakan sebuah proses untuk membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, namun mampu berpikir secara saintifik dan filosofis tetapi juga mampu mengembangkan spiritualnya.

Pernah memimpin Lembaga Negara Independen Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Periode 2016-2019 ini menekankan bahwa anak rantau Minang di mana pun berapa diharapkan menjadi generasi yang berkarakter sangat menentukan kualitas moral, arah pengambilan putusan dan tingkah laku dari setiap generasi muda.

“Menjadi insan yang kompetitif, karena akan mampu mencapai keunggulan,memiliki daya saing dengan bangsa-bangsa lain,dan akan menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa Indonesia. Akan menjadi bangsa dan negara yang besar,kuat,disegani dan dihormati keberadaannya di tengah-tengah bangsa di dunia,”ujar Yuliandre saat menjadi pemateri dalam disksui berbasis daring yang diselenggarakan oleh Minang Diaspora Network dengan tema “Mempersiapkan Generasi Emas Minangkabau Untuk Mengguncangkan Dunia” di Sumatera Barat, Sabtu 27/6.

Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Pusat periode 2013-2017 ini mengungkapkan pemuda minang yang gidup dirantau dapat dipastikan menjadi pribadi yang mandiri dan memiliki sifat yang pantang menyerah di setiap kondisi.

Pria yang akrab disapa, Andre ini memandang perantau minang yang tersebar di penujru dunia dapat dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Dalam hal lain, perantau minang memiliki kemampuan yang tinggi untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

“Jika merantau nya ke luar negeri, tentu akan lebih sulit lagi, namun dengan kesulitan itu pulalah yang menjadikan kita kuat dan bermental baja, tutur Pemenang Favorit “Uda Sumbar Duta Wisata 2004” ini.

Andre memegang teguh pepatah minang yang dapat dijadikan dasar hidup perantau dimana pun berada. Ia menegaskan istilah “Alam Takambang Jadi Guru”.

Menurutnya Filosofi ini bermakna bahwa salah satu sumber pendidikan dalam hidup manusia adalah berasal dari fenomena-fenomena alam semesta.

“Karena alam itu bersifat dinamis, tidak statis, sehingga selalu ada kemungkinan untuk terjadi perubahan,” ungkap Andre.

Dalam kesempatan yang sama, Chief Executive Officer (CEO) Kitabisa.Com, M. Alfatih Timur mengatakan, senanda dengan  Yuliandre, ia mengungkapkan filosofi alam itu sangat luas.

Baginya, ketika mendirikan platform amal digital ini melahirkan karya yang beda dari yang lain. Pepatah ini mengajarkan, lanjut pria yang akrab disapa Timmy mengungkapkan masyarakat minangkabau secara umum untuk senantiasa menjadikan alam sebagai guru.

“Pembelajaran tidak hanya dapat dilakukan dalam bangku pendidikan formal. Hanya dengan mengamati apa yang ada di alam bisa membuat sebuah pembelajaran yang sangat berharga,” katanya.

Lebih lanjut, Timmy mengungkapkan Pelajaran tidak hanya didapatkan dari pendidikan formal saja. Dengan mengamati alam juga dapat mendapatkan berbagai pelajaran. Sebagai masyarakat minang dapat mengambil hikmah dari fenomena alam semesta yang banyak melahirkan tokoh besar dari ranah minang.

“Pribahasa sebagai kumpulan hikmah juga jamak diambil dari fenomena alam semesta, misalnya saja padi yang selalu menunduk mengajari manusia untuk tidak sombong,” katanya. (rul)