“Orangtua Icha tidak ada kabar,” katanya berkabar kepada kawannya.
Kawannya juga gulana. Tak banyak bisa membantu.
Tiap sebentar ia mencoba menelepon, tapi kawan Takengon, Aceh Tengah, lebih remuk dihantam banjir lumpur.
Enam hari setelah banjir di Padang, Icha risau, tak bisa kemana-mana, padahal ingatannya hinggap di rumah masa kecilnya. Ia rindu ibunya, yang kasih sayangnya sedalan samudera, sesejuk rimba raya.
Hari ketujuh ia berhasil ikut terbang ke Medan dengan Hercules. Badannya nyaris tak terurus. Begitu sampai, rumah masih sangat jauh.
Ia dibantu untuk sampai ke Takengon. Perjalanan belum sampai. Ia mesti berjuang lagi pulang ke rumah. Sejauh apapun sebelumnya seseorang pergi, rumah adalah pautan rindu.
Dan rumah itu, tempat ia tumbuh, bukan lagi rumah. Hanya lumpur di mana-mana. Se isi rumah tertimbun. Juga kamar dan foto-foto masa kecilnya.Di mana kedua orangtua Icha? Pengungsian!
Mereka bertemu, peluk paling erat, tangis paling dalam, sekarang terjadi. Anak gadisnya di Ranah Minang pulang dalam peradaan compang camping.
“Sudah makan Nak?” Nah kan orangtua, selalu begitu. Ia periksa sekujur tubuh anaknya. Sang bapak, jamaknya pria di Aceh, menahan sedihnya, tapi satu dua air matanya jatuh. Ia menyembunyikan. Pria dimanapun, tak mau berduka di hadapan anaknya.
Editor : Editor




