Bundo Kandung Manca Negara Bahas Virtual Potensi Madu Ranah Minang

oleh -908 views
Bundo Kanduang Manca Negera virtualkan potensi Madu Ranah Minang. (foto: dok)

Oleh : Henny Herwina

MINGGU pagi hingga siang yang cerah di Ranah Minang, namun telah beranjak malam hari di Amerika, tengah malam di Turki dan beda waktu pula di Australia.

Perbedaan waktu yang sangat besar tersebut tak menyurutkan semangat para Perempuan Minang yang tergabung dalam Bundo Kanduang Mancanegara (BKM) untuk bersilaturahmi dalam acara Halal Bihalal pada pagi hingga siang Minggu 30 Mai 2021 lalu.

Acara halal bi halal dimulai pada pukul 08,00 WIB melalui media Zoom yang diawali dengan merdunya lantunan pembacaan ayat suci Alquran oleh Sang Qoriah, Bundo Diana Demir langsung dari Turki.

Dua saudara yang kompak, Bundo Ulya Uti Fasrini dan Patra Rina Dewi bahu membahu menjadi host dan moderator yang tangguh pada silaturahmi virtual antar benua ini.

Pada sambutannya, Ketua Sekretariat Bundo Kanduang Mancanegara Nurbaini Mc Kosky, Bundo asal Pesisir Selatan dan sejak tahun delapan puluhan menetap di Amerika ini menceritakan terbentuknya BKM diawali oleh pertemuan dan perbincangan beliau dengan Prof.

Rhauda Thaib, Ketua Bundo Kanduang Sumatra Barat pada sebuah perjalanan udara menuju Bengkulu beberapa waktu berselang, sehingga terbentuklah wadah komunikasi yang mulanya berjalan menggunakan media sosial group ini.
Prof. Dr. Ir. Rhauda Thaib, M.P., Guru Besar di Universitas Andalas yang dikenal juga dengan Puti Reno Rhaudatul Jannah Thaib menjekaskan bahwa organisasi Bundo Kanduang telah ada sejak 18 November 1976.

Pada tahun 2016, telah dikukuhkan berdirinya Dewan Pengurus Pusat Bundo Kanduang Sumatra Barat dengan dukungan penuh Pemda Sumbar dan saat ini telah mendapat fasilitas kantor yang sangat elegan di Komplek Mesjid Raya Sumatra Barat. Selain kepengurusan di tingkat Provinsi, juga terdapat Bundo Kanduang di Kabupaten /Kota, Kecamatan sampai Nagari dan Kelurahan. Terdapat juga Bundo Kanduang Luar Provinsi pada beberapa wilayah, seperti di Bengkulu, Jambi dan Kepulauan Riau.

Bundo Rhauda menyatakan rasa syukur dan sangat berbangga bahwa tanggal 30 May 2021 telah dapat dilewakan sebagai tanggal berdirinya Bundo Kanduang Mancanegara melalui acara Halal bihalal yang digelar secara virtual ini. BKM diharapkan dapat menambah pemahaman semua pihak akan besarnya potensi perempuan Minang yang dikenal memiliki jati diri yang kuat juga mandiri, sehingga dibelahan dunia manapun mereka berada akan survive dengan jati diri yang tetap terjaga.

Dijelaskan juga oleh Bundo Rhauda, untuk keanggotaan Bundo Kanduang sendiri adalah perempuan Minang, istri orang Minang dan anak orang Minang yang muslim di berbagai belahan dunia. Beliau bersyukur sekali atas terselenggaranya acara virtual yang seolah telah meniadakan batas ruang dan waktu serta berharap agar BKM dapat memanfaatkan kesempatan silaturahmi seperti ini menjadi kegiatan yang terprogram secara reguler dengan niat yang diridhoi oleh Allah SWT.

Pada kesempatan ini juga hadir Duta Besar Indonesia untuk Vietnam Denny Abdi beserta istri, Bundo Kristien.

“Semua negara mempunyai cara untuk menghargai kaum wanitanya, namun di Minangkabau khususnya, dukungan yang kuat bagi perempuan dikukuhkan sangat jelas secara adat,’ ujar Denny yang sangat mendukung positif berdirinya BKM.

BKM lainnya dari Amerika adalah Bundo Ida Hasan yang pada awal bulan ini akan menggelar pernikahan putrinya Aanisah pada kediaman yag berjarak hanya beberapa menit dari White House melalui acara offline terbatas karena pandemi Covid sekaligus secara virtual.

“Untuk offline, kami menyiapkan menu makanan khas Sumatra Barat” jelasnya, menambahkan informasi yang beliau paparkan tentang maraknya bisnis makanan Indonesia yang mulai dirintis sesama warga Indonesia di Amerika yang di dorong oleh berbagai keterbatasan sejak Pandemi Covid 19.

Ada juga Bundo Nani Afdal yang giat melestarikan budaya Minangkabau melalui kegiatan seni di Amerika bersama putra putri yang secara khusus diajarkan mengenal budaya Minang sejak kecil dan membangun kecintaan akan budaya Minangkabau melalui pendirian dan pengelolaam sanggar seni Minangkabau di Amerika. Bundo Piet yang saat ini menikmati masa pensiun di Florida bersama suami John Sutan Sari Alam dan satu orang putra sangat berharap agar perkembangan fashion perempuan Minang tetap dapat mempertahankan nilai-nilai tradisional Minangkabau ditengah globalisasi. Semantara itu, dari Australia, Bundo Enny di Sidney berbagi cerita tentang pengalaman hidup di rantau termasuk kegiatan beliau yang tak henti memperkenalkan seni budaya minang terutama tari Minang yang khas, hingga suami beliau yang berasal dari Australia  pun ikut bisa menari Minang bersama.

Dari Indonesia ikut hadir menyemarakkan kegiatan BKM kali ini Bundo Hayatun Nismah Rumzy, Bundo Rosnely dari DPP Bundo Kanduang Sumbar, Bundo Armenia yang aktif di Fakultas Farmasi UNAND, Bundo Nurhelmi yang juga Ibunda Bundo Ulya dan Patra, Bundo Ul di Jakarta, Bundo Trimutri Habazar Guru Besar Pertanian UNAND, Bundo Yurnaliza, Huryaini Thamrin, Bundo Siti Salmah dan Henny Herwina yang sempat memperkenalkan aktifitas mereka sebagai peneliti Stingless bee atau galo-galo yang sangat potensial dewasa ini dengan keunikan spesies lebah Sumbar yang dapat menghasilkan madu dengan aneka spesifik rasa. Bundo Rosnely dan para Bundo Kanduang pada pertemuan ini menunjukkan ketertarikannya pada bahasan mengenai keistimewaan budidaya galo-galo serta usaha peternakan lebah (Apikultur) yang dapat dikelola dalam skala rumahtangga dan oleh perempuanpun sangat bisa sehingga saat WFH sekalipun berpotensi sekali menjadi peluang usaha rumahtangga yang sangat bermanfaat bagi keluarga secara ekonomi maupun kesehatan.

“Selain madu, galo-galo atau kelulut juga dapat menghasilkan bee polen dan propolis yang sangat baik sebagai penguat imun tubuh, bahan kosmetika bahkan pengobatan tertentu” jelas Bundo Siti Salmah yang merupakan peneliti lebah senior Indonesia.

(Laporan Henny Herwina (Pengurus DPP Bundo Kanduang Sumatra Barat, Ketua Perhimpunan Entomologi Indonesia Cabang Sumatra Barat).