Cak Imin dari Join hingga Garin

oleh
(foto: google)

Oleh:                                                         Pinto janir                                          Seniman , Budayawan

AKU tulis pikiran ini malam-malam.Kubuka jendela, terbentang cakrawala nan sunyi. Biasanya, dalam diam ini aku “membaca” apa benar yang terasa di hati dalam percakapan diri yang putih.

Di langit ada bulan nan satu tergantung bercahaya mesra dengan bintang-bintang. Begitu damainya malam. Aku berharap, damai ini terbawa hingga matahari bersinar siang nanti.

Entah mengapa, aku selalu menjadi seorang paranoid menghadapi siang. Siangku siang tak damai.Telingaku gaduh sekali. Hiruk pikuk dan perbedaan tampaknya makin meruncing makin berketentangan makin menyiksa batinku. Aku rindu nusantara yang damai. Aku rindu nusantara yang seiya sekata.Aku rindu nusantara yang teduh.Aku rindu pada nusantara yang sehina semalu.

Tapi betapa ngilu rasanya ketikamana saling hina, saling memberi malu menjadi tradisi buruk di tengah kehidupan kita ini.
Ah, aku mengumpat pada keadaan yang membuatku luka-luka.

Aku isap rokok yang hampir terpuntung ini dengan segelas kopi sisa berbuka tadi, aku picingkan mata kuat-kuat, ada noktah-noktah putih bagai telong-telong. Makin keras aku menekan mata, makin terdaguk nafas dalam diam, lalu titik-titik itu bersatu dalam pikiran mata terpejam.

Aku tarik nafas, melepaskannya pelan-pelan dan kemudian membuka mata diam-diam, lalu pandanganku terhantak pada dinding bercat hijau itu.

Aku kaget sendiri, ternyata alam bawah sadarku telah melukis bayang sendiri. Ya, bagai klise filem, bayang-bayang itu menjadi layar terkembang.

Ah, ada apa ini? Dinding yang bagai layar itu mengapa menampilkan sosok yang aku kenal. Sosok itu terhampar jelas di dinding. Dinding pikirankah? Atau, apakah ini bagian dari ilusi optik semata matanya mata?

Tapi mengapa, yang terona wajah seorang Muhaimin Iskandar yang akrab dengan panggilan Cak Imin. Mengapa? Ha, apakah aku berilusi.Di ruang pikiran, bayang-bayang Cak Imin tersenyum. Ia seperti menyapa. Aku ragu, apakah ‘telepati’ hati Cak Imin sudah begitu kuatnya merasuk dalam jiwaku ini?

Aku mengenal Cak Imin.Kami pernah berjumpa, pernah pula bercakap-cakap. Aku menangkap senyumnya. Tak ada kesan dibuat-buat.Mungkin itu senyum yang datang dari hati. Aku menangkap rona wajahnya, airmukanya, sejuk nian.

Begitulah aku, bagiku untuk mengenal orang tak butuh waktu lama-lama. Aku yakin sekali, batang tubuh adalah isyarat jiwa. Sedangkan gerak raga bukankah isyarat hati?

Kalau dalam kaji-kaji pandeka (pendekar atau pesilat) ada ruas-ruas yang dengan kasat mata bisa kita baca. Salah satu ciri pandeka sejati adalah keramahan dan kerendahan hatinya.

Cak Imin begitu sangat rendah hati. Ia menyapa. Ia menyambut kita dengan salam hangat. Kami bercakap-cakap seolah-olah dua sahabat yang sudah lama tak bertemu. Padahal, bukankah aku baru bertemu dengannya. Dan ujung perkataan sesaat akan berpisah, salamnya adalah salam rasa berdunsanak. “ Sampaikan salam saya pada keluarga !”.

Mulai dari gaya tegaknya, sungguhlah gagah. Dapat saya baca, ia memiliki kuda-kuda hati yang kokoh. Orang kampung saya, Minangkabau, kalau sudah melihat orang gagah, takah, tokoh maka kepantasan dan kepatutan lekat kepada dirinya. Karena patut ia menjadi pantas, karena pantas ia menjadi teladan, karena diteladani, ia menjadi pemimpin.

Ya, Cak Imin adalah tokoh yang patut dan pantas menjadi pemimpin di negeri yang sama-sama kita cintai ini.

Lalu, pandeka itu harus cerdas. Dari dialog-dialog pada percakapan itu, saya menangkap kecerdasan Cak Imin. Dan yang lebih terasa sekali, Cak Imin adalah sosok yang sangat responsif. Aku kira, Cak Imin kental dalam aroma kecerdasan sosial, spiritual serta intelektual.

Bercakap-cakap dengannya sungguh mengasikkan. Segala isu “berat” dikupas dengan cara ringan; bukan sebaliknya, di mana yang sering terjadi adalah isu ringan dikupas dengan gaya bicara yang berat.

Dan aku berupaya “mengenal” Cak Imin lebih banyak dari pikiran-pikirannya yang tersebar di berbagai media online. Dan dapat juga kita simak, bahwa Cak Imin adalah tokoh yang sangat taat.Ia sangat agamis. Kubaca pada sebuah literasi, bagi Cak Imin agama bukan untuk menyulitkan hidup.Bukan untuk dipersulit, tapi bukan pula untuk dimudah-mudahkan. Agama bagai suluh, ia memberi terang. Terang jalan hidup di dunia dan terang sampai menuju akhirat. Agama bukan media kegelapan atau gelap mata, agama adalah menuntun manusia untuk berpikir,berhati dan berakal menuju kehidupan yang bijaksana untuk selamat dunia dan akhirat.
Bagi Cak Imin, jihad bukanlah dengan cara meletuskan diri untuk orang banyak, namun mencetuskan perbuatan baik untuk umat dalam apa yang kita sebut dengan rahmatan lil alamin.

Oleh Cak Imin, meledakkan diri dengan bom dan kemudian menimbulkan korban jiwa bagi banyak orang bukanlah jihad, tapi jahat dan itu namanya bunuh diri dan pembunuhan. Ia tak mati syahid, tapi mata meninggalkan sayatan-sayatan luka bagi orang orang yang ditinggalkan akibat aksi bom bunuh diri.

Saya membaca pikiran Cak Imin dalam berbagai percakapan. Berkali ia berkata, Islam cinta damai dan Islam bukan agama kekerasan.

Cak Imin adalah pengutuk orang-orang yang berlaku merugikan diri sendiri dan orang lain.

Baginya, ia tak akan pernah melihat perbedaan-perbedaan dari perspektif yang melahirkan pertentangan-pertentangan. Katanya, bila kita berdiri dari sudut mata pertentangan, maka akan perlawanan perlawanan. Namun, jika kita berdiri melihat perbedaan dari kacamata hati, yang lahir adalah ‘persaudaraan’.

Saya mengikuti ‘pertentangan’ antara Cak Imin dengan Gus Dur yang nota benenya adalah pamannya (mamaknya) sendiri. Aku melihat, dan berasumsi bahwa beda pendapat antara Gus Dur dengan Cak Imin bukanlah sebuah pertentagan.Namun itu adalah cara unik dari seorang Gus Dur untuk melatih ponakannya dalam menghadapi “konflik” menuju kematangan. Mungkin begitulah cara unik seorang mamak mengajar dan memberi pelajaran pada seorang kemenakannya.

Gus Dur dan Cak Imin adalah pola mamak dan kemenakan yang sama-sama pintar dan saling menghargai dengan cara lain; cara yang tak biasa, yaitu seolah-olah bertentangan. Dalam bahasanya Minangnya, mamak berdaging tebal, ponakan berpisau tajam.

Dan kita tahu, NU dan Muhammadiyah adalah sepasang organisasi umat terbesar di Indonesia. Soal NU dan Muhammadiyah, menurut pandangan kita ia mirip sehulu dua sungai satu muara.Mengapa, karena Hasjim Asy’ari pendiri NU dan Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah berguru pada guru yang sama yakni Syaikh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi, ulama kharismatik asal Minangkabau.

Cak Imin sangat dekat dengan ulama-ulama NU. Dan, NU menetapkan dan mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa yang satu-satunya menjadi wadah penyalur aspirasi warga nahdlyin.

NU pasti PKB
PKB pasti Cak Imin.
Kekuatan NU kekuatan PKB sungguh sangat luar biasa. Kita tahu, warga nahdlyin adalah warga yang sangat setia kepada ulamanya. Dan ini yang menjadi kekuatan terbesar bagi Cak Imin dan PKB.

…….
Aku merenung sejenak. Aku tengok kembali langit, bulan makin bagus saja. Isapan rokokku makin keras.Pikiran dan hatiku sedang bercakap-cakap dalam makrifat jiwa ‘membaca’ Cak Imin.

Entah mengapa, ini malam ruang pikiranku berbilik lapang. Betapa asiknya sendiri mempercakapkan Cak Imin di ruang ini, ruang hati !

Kita melihat Indonesia pada saat sekarang ini bukan dari sudut Ganti Presiden atau tetap Jokowi. Tapi, adalah dari sudut bagaimana “membawa” Indonesia ke masa yang lebih terang,cerah dan bermasa depan lebih baik.

Baiklah, bagai iklan sebuh produk yakni “apapun makanannya minumannya tetap titik titik”. Kutegaskan di sini, siapun calon presidennya, bila wakil presidennya Cak Imin, maka itu akan memberikan kekuatan yang signifikan. Yang berpotensi besar untuk menang!

Cak Imin adalah “kunci wakil” yang memberi kekuatan pada sang Capres.

Kalau Jokowi berpasangan dengan Cak Imin (JoIn) , tak dapat tidak, keniscayaannya adalah kemenangan bagi Join. Dan itu siapapun lawannya.

Namun sekiranya, di sisi lain, kalau Gatot Nurmantyo meminang Cak Imin, dan akronimnya menjadi Garin, maka ancaman kekalahan bagi pasangan Jokowi dengan X akan menjadi momok yang sangat menakutkan.

Jokowi memang kuat. Tapi sekuat-kuatnya Jokowi, itu bukan berarti Jokowi tak bisa dikalahkan, apalagi kalau yang muncul adalah Garin. Namun, sebaliknya, kalau yang terpasang itu adalah Join (Jokowi Cak Imin) maka dapat diniscayai pada tahun 2019 adalah tahun-tahun tetapnya Jokowi-Cak Imin.

Aku menarik nafas dalam-dalam. Kulihat jarum jam telah menunjukkan pukul 03.30 Wib. Aku menutup jendela untuk bersiap-siap makan sahur.

Tapi, mengapa bayangan Cak Imin belum lenyap juga?

Selamat pagi Indonesia. Salam terbit, wahai dikau nusantara.

Sahurku sudah selesai. Subuh sudah berlalu. Fajar di ufuk timur, pula telah menyingsing. Tapi, mataku belum kunjung mau diajak tidur. Pikiranku, dan segala apa yang kupandang kini, terus menari-nari di pelupuk mata dalam rentak gendang nusantara.

Dari sini aku memandang Gunung Marapi dan puncak Singgalang; ia seperti sinyal dan energi yang gagah dan kuat sekali.

Kemudian angin menyampaikan ngiang dan kabar bathin, tentang Cak Imin. Hey, mengapa selalu Cak Imin nginap di tak benak kepalaku?

Melihat kekuatan massa, melihat dukungan yang ada yang menupang pikiran seorang Cak Imin, aku berpikir, bukankah peluang dan pintu yang sangat lebar terbuka untuk seorang Muhaimin Iskandar justru adalah menahkodai “kapal besar nusantara” bernama Indonesia.

Kalau kuutamakan egoistik emosional kedekatan rasa, fakta yang terlukis indah itu –setidaknya bagiku dan mungkin juga bagi kita semua; bahwa Cak Imin adalah tokoh yang pantas dan yang patut untuk jadi calon presiden.

Kita tahu, seorang Cak Imin adalah jago runding. Diplomasinya, diplomasi “menyembuhkan”. Kalau pun ada di tangannya pedang, niscaya, pedang itu bukan ia pakai untuk melukai, namun untuk merambah rimba-rimba yang penuh duri-duri yang menyemak di hutan nusantara; dan itu pun dengan kasih sayang.

Ini pula yang mengingatkan ku pada sorang Gus Dur. Tak seorang pun yang pernah menyangka, bilai Gus Dur yang kiyai dan sekaligus Gus Dur yang budayawan itu akan menjadi presiden Indonesia. Dunia tersentak. Ruang pikiran Gus Dur beristana !

Kalau pandang-pandang langit pandang bumi, banyak tokoh memang yang tak bisa lepas dari pelukan sejarah republik yang sangat kita cintai ini. Salah satunya Megawati. Sikap bijaksana Megawati tampak oleh saya ketika ia memberi lampu hijau pada kadernya untuk maju menjadi calon presiden pada pilpres tiga tahun silam. Maka nama Jokowi tak tertahankan. Jokowi JK melambung dan merebut hati rakyat Indonesia untuk kemudian ditetapkan dan dilantik jadi Presiden Republik Indonesia.

Kemenangan Jokowi JK tak bisa dilepaskan dari peran ulama, para kiyai dan umat nahdliyin yang mengirimkan gelombang besar dalam bentuk kesepakatan dan dukungan untuk Jokowi-JK. Sejak menuliskan, mereka menang.

Beberapa hari yang lalu, Indonesia menyampaikan kabar dan kita membacanya. Kabar berita itu adalah kabar santun ketika seorang Gatot Nurmantyo mengunjungi seniornya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dalam poto tergambar, betapa sungguh sangat santunnya Gatot. Ia cium tangan SBY. Seorang jendral mencium dengan hati , tangan seniornya. Ia membungkuk hormat sekali. Luar biasa pesan sejuk yang tampak dalam potret itu.

Munculnya Gatot di panggung politik Indonesia, bukanlah kemunculan yang tiba-tiba; bukan begitu.kemunculan gatot adalah kemunculan yang di saat mana waktu dan ruang telah menunggu. Ketika rakyat Indonesia menengadahkan tangannya untuk berdoa dan meminta “diturunkannya” seorang pemimpin, Tuhan mendengarnya; maka Gatot seolah-olah datang dari langit sebagai jawaban Tuhan atas doa anak bangsa.

Bagi saya, hidup adalah pikiran yang menyenangkan.Hidup adalah kabar yang membahagiakan. Hidup adalah energi positif untuk sikap berahmat dan barokah serta menyulam kebersamaan.

Kunjungan Gatot ke SBY itu pesan kabar bersulam bahagia; bahwa bisa saja Partai Demokrat akan menyerahkan amanah kepada Gatot.

Tapi, apakah Gatot akan dipersandingkan dengan “putra mahkota” yang akrab dengan akronim AHY. Saya berpendapat beda, Gatot – AHY adalah sikap politik riskan. Penuh risiko. Gatot-AHY begitu berpasangan, dalam dugaan-dugaan saya, isu yang akan mengapung adalah isu militerisasi. Isu ini akan menjadi makanan gurih dan makanan empuk bagi para lawan.

Dan aku melihatnya, politik terkini—di saat mana meningginya sensitivitas massa—maka “rasa” menjadi subjek bukan obyek. Kalau rasa tersentuh, orang tak memandang obyektivitas sebuah ketetapan; tapi lebih berpegang pada rasa. Keputusan politik dan keputusan publik, mungkin lebih cepat dari detak detik waktu yang berjalan. Sekalipun, di saat keyakinan bahwa kita akan segera mencapai puncak, bila sedikit saja tergelincir; semua menjadi anjlok dan jatuh tapai.

Saya berasumsi, SBY akan berbijaksana dan akan menyiapkan AHY pada pilpres 2024. AHY mungkin saja akan disiapkan menjadi calon “sekali maju untuk jadi” bukan “sekali maju untuk kalah dan maju lagi lalu kalah lagi” hingga menua dan lalu kehilangan momen.

Kedekatan dan jembatan emosional SBY dan Cak Imin di sisi lain, Partai Demokrat dan PKB di lain sisi sungguhlah saat kuat dan erat. Juga, kedekatan SBY dan ulama serta para warga nahdliyin, adalah sebuah cermin kebersamaan yang hingga kini tak pernah luka, belum pernah cabik.

Pada saat itu, pilihan paling VVVIP adalah mempertemukan Gatot dan Cak Imin atau dalam singkatannya “Garin” – dan demi sebuah kemenangan yang pasti.

Gatot adalah jendral yang meneduhkan. Gatot merebut hati umat memang. Ia datang di saat sebagian umat gelisah dan ia membawa kesejukan.

Bila begitu, ada kemungkinan, Pilpres 2019 akan memunculkan tiga pasang. Jokowi dengan X, Prabowo dengan X dan berhadapan dengan Garin ( Gatot-Cak Imin).

Besar kemungkinan, dua calon penghadang akan gamang.Bukan sekedar gamang; bisa-bisa tumbang.

Alasannya, Gatot dan Cak Imin sama-sama memiliki kekuatan umat yang sangat besar dan fanatik. Gatot dan Cak Imin bagai sepasang sayap yang saling memberi kekuatan yang akan mengangkasa bersama kegagahan burung garuda.

Isu politik kita terkini adalah “isu umat”.Umat pendukung Gatot, umat pendukung Cak Imin adalah kekuatan teramat besar di dada anak bangsa di hati yang tentram. Inilah pasangan yang sangat menentramkan hati kita semua.

Segala perbedaan akan lenyap dan tak akan sampai menjadi pertentangan yang menciptakan permusuhan permusuhan di kalangan umat kita sendiri yang nota benenya adalah rakyat Indonesia.

Garin adalah kebangkitan Indonesia untuk membuka lembaran baru: Indonesia kuat rakyat sentosa.

Garin adalah sepasang sayap, pasangan harapan, pasangan pikiran, pasangan hati, pasangan mimpi-mimpi untuk menjadikan Indonesia sangat dan lebih berarti untuk dunia.

Kalau ingin Indonesia lebih besar lagi, ingin Indonesia tak terjual terbeli, ingin Indonesia seayun selangkah, ingin merah putih benar-benar berkibar di ruang dada anak bangsa, di alam pikiran kita semua, tentulah dengan segala kesadaran diri untuk lebih mencintai Indonesia dan benar-benar menjadi jiwa dan raga, tak ada pilihan lain; Garin!

Terutama bagi orang Minang, Garin adalah sosok yang sangat dihormati. Tanpa Garin, surau kita roboh. Tanpa Garin, surau kita sepi. Tanpa Garin, surau kita “merimba”. Garin adalah orang yang merawat surau (masjid) seindah dan serapi mungkin, seindah dan sewangi mungkin, untuk umat beribadah.

Isu Garin memimpin Indonesia adalah isu yang dinanti-nanti.Adalah harapan seindah mimpi-mimpi itu adalah Gatot-Cak Imin.Adalah garin di hati kita.

Aminkan wahai Indonesia.
Aamiin !
Aku bahagia, izinkan aku istirahat sejenak !
Minangkabau 05062018.(analisa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *