Caleg Tuyul dan Abrakadabra Politik

oleh

 

*Catatan Ringan Bhenz Maharajo*

SEORANG kawan yang kini duduk sebagai pengurus partai bercerita tentang kurenah menghadapi Pemilihan Legislatif (Pileg) tahun 2019. Dengan beragam pembaharuan, baik dari segi aturan hingga metode penghitungan suara, Pileg 2019 benar-benar membuatnya pening. Sementara, dirinya hendak pula maju dan mencalonkan diri sebagai wakil rakyat.

Pikirannya kian ruwet karena di daerah-daerah yang di Pileg sebelumnya menjadi kantong-kantong suara partainya, kini sudah ditongkrongi calon lain, dari partai lain pula. Basis suaranya tergerus. Partai politik yang akan menjadi keretanya meraih kekuasaan pada Pileg juga berjalan timpang karena babak belur dihajar dengan isu buruk yang dihembuskan lawan politik tentang agama, etnis serta paham terlarang. Sementara, hasrat politik kian tinggi. Dia butuh kekuasaan, butuh power lebih untuk bisa terus eksis. Hal yang jamak dan manusiawi sebenarnya.

Dia bercerita panjang lebar tentang impian-impian, harapan serta tugas berat yang diembannya sebagai pekerja partai. Walau partainya diprediksi akan kalah telak di daerah tempat dia menetap, tapi dia tetap harus berdiri di sana. Mustahil baginya pindah partai. Sebagai orang yang lama berkelindan politik, sesuatu yang haram bagi teman saya itu untuk lompat pagar, walau peluang itu terbuka lebar. Politik adalah seni menjadikan yang tak mungkin menjadi mungkin, itulah pedoman yang terus dipegangnya. Kesempatan selebar lubang jarum pun, jika itu kesempatan akan tetap ditempuh. Pedoman itulah yang mengantarkan kawan saya itu ke dalam lingkaran kekuasaan. Seruwet apapun kondisi, saya hakul yakin dia bisa mengatasinya, secara dia memang benar-benar seorang yang ambisius, walau kadang-kadang menggunakan strategi yang ekstrem.

Selain impian agar dia duduk, ada banyak tugas lain yang tak kalah berat diembannya. Salah satu tugas itu adalah mencari caleg untuk partainya di Daerah Pemilihan (Dapil), yang sebenarnya menjadi ladang pertempuran bagi dirinya. Selain untuk mendongkrak suara partai, pola ini juga harus diakui sebagai wujud dari penggunaan jurus aji mumpung sekaligus bukti gagal dan lemahnya pola kaderisasi partai.

Saya menyebut secara negatif yang dicari kawan itu adalah ‘Caleg Tuyul’. Kalau dalam dunia pesugihan tuyul adalah makhluk yang dipelihara untuk mencuri uang, di dunia politik beda. Caleg tuyul adalah sosok yang tiba-tiba saja dimunculkan saat Pileg, dengan tujuan ‘mencuri’ suara. Di daerah lain, kadang untuk menghadirkannya cukup dengan mantra abrakadabra plus janji-janji manis tentang betapa enaknya mengemban jabatan politis. Sasarannya adalah sosok yang punya kemampuan finansial lebih tapi rabun politik. Perantau kadang acap jadi sasaran empuk untuk dihasut menjadi caleg tuyul. Ada yang berhasil dihasut, tak jarang pula berujung kesia-siaan.

Caleg tuyul biasanya di tempatkan di basis suara lawan yang dianggap berat. Gunanya untuk memecah perolehan suara, sekaligus mendulang suara partai. Alih-alih menang, caleg tuyul sudah jamak hanya sekadar penambal yang kosong, penambah suara partai, bahkan pundi-pundi suara bagi caleg lain, yang dengan kelihaian yang dimilikinya bisa memindahkan suara. Sederhananya, suara yang didapatkan caleg tuyul, ketika penghitungan, dengan segala keculasan dalam proses, dipindahkan ke perolehan suara caleg tertentu.

Nan parahnya, caleg tuyul kadang tidak memahami kalau dia sedang diperalat, atau bahasa saya, dijadikan kuda pelajang bukit. Dia merasa hebat tanpa sadar kalau yang dibuatkan orang untuknya adalah titian barakuak. Kondisi kian rumit jika orang-orang disekelilingnya juga buta politik, yang memahami pertarungan di atas kertas semata. Bukannya memberi masukan atau melarang, malahan ikut pula mendorong yang bersangkutan ke dalam jurang.

Namun, tak semua caleg tuyul diperalat. Ada pula nan sengaja memanfaatkan peluang. Dengan menjual popularitas yang dimilikinya, sosok tertentu yang dijadikan caleg tuyul membuat perhitungan dengan caleg ‘inang’, dengan konsekuensi, dia maju tapi dibiayai dan dibayar oleh inangnya. Perjanjiannya gampang, suara yang didapat nantinya dikonversi untuk caleg inang. Metode ini orientasinya hanya dua: Caleg tuyul menerima kompensasi dari suaranya, dan caleg inang meraup suara untuk mengejar kekuasaan. Pun demikian, keduanya sama-sama buruk.

Bagi kawan saya itu, nan berat bukan melawan caleg tuyul tersebut, tapi mencari sosoknya. Soal lawan melawan, dia sudah lihai. Jam terbangnya tinggi. Di tingkat penyelenggara Pemilu, konon kabarnya juga punya jaringan. Di kampung halamannya, walau tak sekolah tinggi, umumnya orang paham dasar-dasar politik. Budaya ota lapau atau duduak di lapau sejak dulu kala mengasah naluri orang kampung dalam menentukan sikap, terutama dalam dunia politik. Mereka mengerti dimana seharusnya berdiri, kapan harus memulai, beristirahat dan berhenti. Jarang yang mau jadi kuda pelajang bukit saja. Apalagi jika yang diberikan hanya janji pepesan kosong.

Tapi mencari calon lain di dapil sendiri sudah konsekuensi yang mesti dihadapi kawan saya itu. Secara khusus, dia dapat perintah mencari caleg perempuan untuk memenuhi kuota 30 persen keterwakilan perempuan dalam pencalegan sesuai yang diamanatkan undang-undang. Pemenuhan kuota perempuan merupakan syarat wajib yang mesti dijalankan jika ingin partai serta dirinya tidak dicoret sebagai kontestan Pileg di dapilnya.

Secara ringkas, keterwakilan perempuan adalah hal mutlak yang mesti dijalankan partai politik. Untuk kuota secara keseluruhan, jika jumlah calegnya hanya ada satu maka boleh tidak menempatkan calon perempuan. Jika jumlah calegnya dua sampai tiga orang, jumlah caleg perempuan minimal satu orang. Jika empat sampai enam, jumlah caleg perempuannya minimal dua orang. Kalau sampai 10, minimal tiga orang, begitu seterusnya.

Dalam kepasrahan itu, tak ada jalan lain yang mesti ditempuh kawan saya itu kecuali memanggil caleg tuyul. Dia harus pandai-pandai bermanuver, memberi janji agar target yang dijadikan caleg tuyul tidak jungkir balik, serta benar-benar terpengaruh dengan segala janji. Kalau perlu dipertemukan dengan orang-orang hebat, agar yang jadi target merasa hebat pula dan pikirannya bias. Dijanjikan hal-hal tak masuk akal, termasuk iming-iming, kalau nanti tidak duduk akan diberikan jabatan, baik di partai atau di tatanan staf ahli ini itu.

Fenomena caleg tuyul, secara tak disadari akan atau barangkali sudah merusak tatanan politik, bahkan pemecah kebersamaan masyarakat komunal. Tidak hanya bagi kesehatan demokrasi di negeri ini, tapi juga bagi partai politik yang menggunakan jasanya. Nan namanya tuyul sudah barang tentu meminta tumbal. Jika tak bisa dipenuhi akan memakan tuannya sendiri. Maka dari itu bersiaplah. Wassalam.. (analisa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *