Covid-19 Gerus Perbedaan Ideologi Privat dan Publik

oleh -250 views
Muhammad Dawam (foto: dok)

Oleh : M Dawam

SALAH satu hikmah Covid-19 adalah sebagai manusia kita tidak perlu lagi mempertajam perbedaan furu’iyah dan Fiqih, termasuk perbedaan politik,
perbedaan agama, perbedaan suku, perbedaan ras, gender dan agama bahkan perbedaan politik dianut antar lintas negara.

Mengapa? Covid-19 sudah menembus batas dengan memberikan keleluasaan masyarakat dunia, meninggalkan perbedaan menjadi sebuah kebersamaan dalam amal ibadah, sehingga ada titik temu, sembari membiasakan perbedaan menjadi kesamaan, bukan saling menyalahkan.

Misalnya, NU dengan HTI, dalam pandangan beberapa hal begitu tajam memelihara perbedaan, sehingga seakan-akan sengaja dibenturkan dengan nama organisasi. Kemudian “Wahabi – Sunni – Syiah” dalam batas-batas tertentu juga begitu tajam mengusung perbedaan, walaupun hanya bersifat amalan ringan, tetapi sudah semacam ada skenario sebagai bahan perbedaan.

Dan Alhamdulillah kehidupan pada masa pandemi Covid-19, setidaknya banyak perubahan dari perbedaan menjadi kesamaan bahkan menyamakan sikap karena sama-sama menjadi subyek dari situasi dan kondisi.

Bahkan lebih terasa bahwa Covid-19 menggerus perbedaan ideologi privat (baca: agama) maupun ideologi publik (baca: cara pandang mengelola tata kelola bernegara). Sehingga cara pandang dunia ke depan dalam beberapa persoalan yang selama ini ada gap (jarak), maka dengan virus Corona bisa disatukan.

Kebersaaam dalam pemikiran untuk pembangunan Sistem Tata Kelola Baru; New Era System:

(1). Sistem Pemerintahan yang Manusiawi dan Berkeadilan.

(2). Memerangi Kemiskinan.

(3). Membangun Sistem dan Komitmen Meningkatkan kualitas pendidikan dengan fokus mengurangi Kebodohan dan Keterbelakangan dalam berbagai sendi kehidupan

(4). Memaksimalkan Mengelola Hasil Alam secara Profesional dan Proporsional.

(5). Meningkatkan kualitas hidup sehat dengan membangun pabrik obat-obatan bermutu dengan harga terjangkau.

(6). Dan pengawal kehidupan sejahtera berkeadilan.

Ini pesan paling penting dari wabah covid-19, pengalaman pribadi, Jumatan di Masjid Media Dakwah, Jakarta pada Jumat terakhir Ramadhan 1441 H, tercengang setelah usai Jum’atan merenung sejenak:

“Yaa Allah Engkau telah menyingkirkan sekat friksi perbedaan keagamaan yang selama ini berabad-abad lamanya tak kunjung usai. Dengan kiriman wabah Covid-19 di dunia ini, maka semua bisa berdamai”.

Yakni perbedaan “kaum cingkrang” yang jika sholat berjamaah dengan menempelkan anggota tubuh dari kaki sampai pundak, bahkan kadang berlebihan, sudah berubah sendiri. Tradisi kaum nahdliyin atau NU bersalaman, berubah juga menjadi sekedar menyapa atau memberi isyarat.

“Maha Suci Engkau Yaa Allah, telah mengingatkan kami manusia yang amat lemah ini untuk tidak terkotak-kotak dalam memandang suatu realitas ini.”

“Maha Suci Tuhan Pencipta, Pemilik dan Penjaga Alam Semesta. Jangan Lihat NU, jangan lihat Muhammadiyah, jangan lihat HTI, jangan lihat Wahabi dan Kaum Cingkrang, dan lain sebagainya”.

Pandanglah Allah sebagaimana do’a pembuka ketika sholat “Innii Wajjahtu Wajhiya Lilladzi Fatharas-Samaawati wal Ardha Haniifan Musliman wa Maa Ana Minal Musyrikiin.”(analisa)