Dana Desa Bangun Jembatan, Bongkar Keterisoliran Nagari Katiagian

oleh
Dana Desa program Presiden Joko Widodo dilaksanakan Kementerian Desa mampu nyatakan mimpi tahunan masyarakat Mandiangin Katiagan digunakan bangun jembatan, Katiagan bebas dari keterisoliran, Minggu 10/6 (foto: mediacenter-tjdkemendes)

Pasaman Barat,—Sekian banyak program pemerintah, ternyata wajar dana desa menjadi primadona di era pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

Terbukti dengan Dana Desa, Nagari Katiagan Pasaman Barat yang lama merindukan jembatan penghubung akhirnya terealisasi, Dana Desa mampu membongkar keterisoliran Katiagan.

Ketua Tim Jelajah Desa (TJD) Kemendes, Silaturahmi ke Nagari dan Ramadan Berbagi, H Febby Dt Bangso tampak sunringah karena di Katiagan esensi dana desa membangun Indonesia dari pinggir terasa.

“Luar biasa di Katiagan Kecamatan Kinali ini realisasi dana desa sangat menyentuh persoalan akar rumput,”ujar Febby saat meninjau jembatan dibangun dari dana desa.

Nagari Katiagan memang sudah bertahun-tahun terisolir, kini nagari itu mendapatkan kemudahan akses dengan berdirinya sebuah jembatan.

Dengan dana desa tahun anggaran 2016, jembatan sepanjang 180 meter dan lebar dua meter telah menjadikan mimpi tahunan masyarakat jadi kenyataan.

Satu jorong yakni Jorong Mandiangin yang dulu terisolir, kini sudah terlepas dari sematan gelar itu. Dengan anggaran Rp280 juta, yang dibangun secara swakelola, jembatan yang menghubungkan Jorong Mandiangin dan Katiagan, kini telah berdiri kokoh. Manfaat besarpun telah dinikmati oleh masyarakat Mandiangin yang berjumlah sekitar 1500 jiwa ini.

“Dulu, sebelum ada jembatan, akses masyarakat ke Jorong Mandiangin bisa sampai sehari semalam. Karena harus menggunakan perahu sampan yang dapat berlayar, harus menunggu naiknya arus pasang teluk dulu,”ujar Kepala Jorong Mandiangin, Lefdi Siska di sela-sela kunjungan Tim Jelajah Desa Minggu 10/6 kemarin.

Lefdi bersyukur, dulu, kata dia, masyarakat antar dua jorong itu tak saling kenal. Walaupun kenal, masyarakat saling memperlihatkan ego masing-masing. “Padahal satu kenagarian, namun sangat sering bertengkar,”ujarnya.

Pengalaman lain, Lefdi berkisah, dengan kesulitan akses transportasi ada ibu hamil yang sampai melahirkan di atas perahu penyeberangan.

“Tak jarang ada ibu hamil berjuang melahirkan di atas perahu. Kalau perahunya tersangkut, ibu hamilnya digotong bersama-sama,”ujarnya.

Tokoh masyarakat Katiagan, Horizon Nangkodorajo, mengatakan, adanya jembatan biaya transpotrasi masyarakat jauh lebih ringan, dan jarak tempuh menjadi dekat.

“Namun yang terpenting adalah silaturahmi menjadi semakin erat. Secara ekonomi juga terbantu, dulu seharga hingga Rp 200 ribu. Sekarang, kalau pakai ojek paling sewanya Rp 10 hingga Rp 15 ribu,”ujarnya.

H. Febby Datuk Bangso menambahkan, pembangunan jembatan swakelola, dan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Tak hanya itu, bahan bangunan seperti pasir dan batu juga didistribusikan pada masyarakat.

“Ini memang satu dari banyak tujuan dana desa. Selain manfaat pembangunan, juga efek ekonomi yang terserap dari pembangunannya. Contohnya, ada 25 orang pekerja yang digaji. Belum lagi material bangunan. Diutamakan material kepunyaan masyarakat atau hasil nagari sendiri,”ujar Febby.(rilis: mediacenter-tjdkemendes)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *