Dekan FT Unand: Adopsi Teknologi 4.0 demi Masa Depan Pendidikan Tinggi dan Siaga Bencana

oleh
Dekan FT Unand Insannul Kamil menjadi anggota delegasi Indonesia pada pertemuan Insinyur Asean di Serpong 5-7 Agustus (foto: dok)

Serpong,—Delegasi Insinyur dari negara anggota Asean berdatangan ke Indonesia untuk mengikuti Pertemuan Pertengahan Tahun (mid term meeting) Asean Federation of Engineering Organization (AFEO) .

AFEO digelar di Alam Sutera Serpong pada 5-7 Agustus 2018. Satu dari sekian insinyur delegasi Indonesia, adalah Dekan Fakultas Teknik (FT) Unand, Insannul Kamil.

Menurut Insannul Kamil, pertemuan tengah tahun organisasi insinyur Asean ini membahas antara lain tentang Working Group Engineering Education & Capacity Building dan Working Group Disaster Preparedness.

Soal pendidikan tinggi, menurut Insannul Kamil, Indonesia saat ini sudah mulai melakukan sistem akreditasi engineering education berbasis outcome, IABEE.

“Juga, Pendidikan tinggi di negara-negara ASEAN perlu mengadopsi revolusi industri 4.0. Materi pendidikan tinggi soyogyanya mulai bertransformasi dan melakukan inovasi menjawab tantangan revolusi industri 4.0 yang akan lebih banyak berorientasi pada artificial intelligent, robotika, dan data besar (big data), analisis data, coding dan statistik, 3D Printing, block chain, dan lainnya. Adopsi ini sudah tak bisa ditunda lagi,” ujar Insannul Kamil, kepada media Rabu 8/7.

Pertemuan AFEO di Serpong juga membahas langkah-langkah peningkatan dan penerapan revolusi 4.0.

Selain itu, negara Asean sepakat untuk membuat panduan bersama soal pendidikan engineering. Tantangan yang timbul adalah masalah transformasi pendidikan engineering di masing-masing negara.

“Soal panduan bersama ini, masing-masing negara menyampaikan usulan panduan bersamanya secepat mungkin, sebelum CAFEO 2018 di Singapore November tahun ini,”ujarnya.

Pertemuan insinyur Asean ini bertepatan dengan terjadinya bencana alam (gempa) yang melanda Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (5/8), sehingga fokus pembicaraan Working Group Disaster Preparedness delegasi Indonesia pada pertemuan ini pada masalah gempa .

“Komunitas insinyur ASEAN sebetulnya belum memiliki wadah yang jelas untuk tindakan pencegahan, penanggulangan, dan penyelesaian bencana alam, seperti bencana gempa,”ujar Insannul Kamil.

Kata Dekan FT Unand ini, pencegahan terkait dengan infrastruktur dan bangunan gedung serta pengetahuan masyarakat tentang bencana, sangat penting apalagi di daerah rawan gempa bumi.

Sedangkan, penanggulangan menyangkut penanganan bencana, termasuk korban dan pemukiman serta logistik. Dan, penyelesaian mengenai hal-hal yang perlu dilakukan pasca gempa. Semacam pemulihan atau recovery.”
Karena bencana alam bisa saja terjadi di mana saja dan pada waktu yang sulit untuk diperhitungkan, maka sebetulnya saat ini perlu adanya semacam wadah atau gugus tugas bersama insinyur siaga bencana di antara negara-negara Asean (currently common work force of Asean natural disaster preparedness),”ujarnya.

Ketika bencana alam itu terjadi, seperti yang saat ini melanda NTB, kata Innsanul gugus tugas bencana Asean ini dapat langsung melakukan tindakan yang diperlukan untuk langkah-langkah penyelamatan dan penanggulangannya. Sampai saat ini, siaga bencana Asean masih di tatanan wacana.

“Semoga dalam waktu dekat, akan terwujud dalam bentuk tindakan nyata oleh komunitas insinyur ASEAN,”ujar  Insannul Kamil.(own)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *