Desa Wisata Sampah di Sumatera Barat

oleh -1.101 views

Oleh :

ANDRI MAHA PUTRA

(Ketua Organisasi Kepemudaan GEMA KOSGORO Sumatera Barat)

PROVINSI Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki keindahan alam sebagai penunjang sektor pariwisatanya.

Topografi daerah yang memiliki sungai, danau, gunung, lembah, air terjun, laut dan pulau-pulau membuat Sumatera Barat bisa mengeksplorasi alamnya tersebut menjadi sebuah Desa wisata alam.

Pembangunan pariwisata Sumatera Barat melalui keberadaan desa wisata sangat penting artinya dalam menunjang variasi pilihan wisatawan dalam melakukan aktivitas kunjungan wisatanya ke Provinsi ini. Beberapa daerah di Sumatera Barat yang sudah konsen dalam membangun desa wisata di antaranya Kabupaten Padang Pariaman, Agam, Pesisir Selatan, Tanah Datar, Solok Selatan, Kota Padang Panjang dan Sawahlunto.

Terkait upaya pengembangan desa wisata, Provinsi Sumatera Barat terus mendapatkan apresiasi dan penghargaan dari Pemerintah pusat. Baru-baru ini dua desa wisata di Sumatera Barat diberi penghargaan oleh Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal yaitu Desa Sungai Nyalo di Pesisir Selatan sebagai Desa perkembangan tercepat pariwisatanya dan Desa Madobak Mentawai sebagai Desa Adat terbaik.

Dengan adanya apresiasi berupa penghargaan tersebut kepada Desa Wisata di Sumatera Barat, maka akan membuat masyarakat penikmat wisata akan semakin tertarik berkunjung ke Sumatera Barat. Intensitas kunjungan wisatawan tersebut di Desa wisata tentunya juga dipengaruhi oleh seberapa besar masyarakat di lokasi tersebut mampu mempertahankan kearifan lokalnya melalui implementasi nilai-nilai sapta pesona.

Implementasi nilai-nilai sapta pesona pada Desa wisata di Sumatera Barat sebaiknya diawali dari masyarakat lokal dalam menjadi menerjemahkan konsep sadar wisata di daerahnya. Konsep sadar wisata tersebut dapat diartikan sebagai sebuah gambaran partisipasi dan dukungan segenap komponen masyarakat dalam mendorong terwujudnya iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan di suatu wilayah dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Sapta pesona merupakan jabaran konsep sadar wisata yang terkait dengan dukungan dan peran serta masyarakat sebagai tuan rumah dalam upaya menciptakan lingkungan dan suasana kondusif yang mampu mendorong tumbuh dan berkembangnya industri pariwisata melalui perwujudan tujuh unsur dalam sapta pesona. Salah satu unsur sapta pesona yang perlu diperhatikan sebuah desa wisata adalah unsur bersih. Kebersihan merupakan suatu gambaran di mana sebuah objek atau lokasi wisata tersebut dapat menampilkan suasana bebas dari kotoran, sampah, limbah, penyakit maupun pencemaran lingkungan lainnya.

Kondisi bersih yang dimaksud dalam nilai sapta pesona pariwisata tentunya dapat dirasakan jika sebuah Desa wisata itu bisa mengkolaborasikan perilaku masyarakat pelaku wisata dengan pengunjung wisatanya untuk berpatisipasi menjaga lingkungan sekitar objek wisata.

Penguatan nilai sapta pesona ‘’bersih’’ di desa wisata tentunya juga tak lepas dari upaya pemerintah dalam mengkampanyekan perilaku bersih peduli sampah kepada dua unsur penikmat pariwisata tadi yaitunya masyarakat sekitar objek wisata dan pengunjung wisata. Perilaku peduli sampah yang akan dikampanyekan haruslah dimulai dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempat sampah yang sesuai peruntukannya.

Konsep desa wisata sampah merupakan salah satu alternatif untuk menciptakan perilaku pelaku wisata yang sadar sampah. Fasilitas pengolahan sampah yang representatif berada di sebuah desa wisata tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung dan menetap di Desa wisata tersebut sambil menikmati keindahan alamnya.

Desa wisata sampah perlu menjadi perhatian khusus di Sumatera Barat karena selama ini gerakan-gerakan masif yang dilakukan Pemerintah Daerah untuk mengkampanyekan gerakan hidup bersih dan aksi-aksi bersih lingkungan dengan turun ke lokasi selalu dilaksanakan tetapi tingkat keberhasilannya sulit diukur karena hanya bersifat seremonial sesaat. Namun jika ada sebuah Desa wisata sampah, maka Pemerintah Daerah bisa melihat efektifitas dampak dari proses kampanye-kampanye dan sosialisasi lingkungan hidup yang telah dilakukan di suatu wilayah yang telah dilakukan dalam skala kecil seperti Desa wisata sampah tersebut.

Desa wisata sampah yang didukung oleh keindahan alamnya akan sangat menarik dikembangkan. Salah satunya yang bisa dikembangkan di sana adalah Desa wisata sampah yang berbasis bank sampah. Selama ini Pemerintah mungkin masih mementingkan keberadaan bank sampah di lingkup kawasan perumahan atau pemukiman penduduk. Sementara saat ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terus mendengungkan pembangunan pariwisata berkelanjutan di beberapa Kabupaten/Kota yang ada.

Oleh sebab itu pembangunan pariwisata khususnya di desa wisata haruslah terus didorong untuk lebih memperhatikan pengelolaan kebersihannya yang bisa menjawab nilai-nilai sapta pesona.

Wisata sadar sampah sangat tergantung terhadap sejauhmana Pemerintah mampu melakukan pemberdayaan masyarakat di desa wisata tersebut. Pemberdayaan masyarakatnya dapat dilakukan dengan pendekatan kegiatan pemberdayaan lingkungan.

Di mana pemberdayaan lingkungan ini dilakukan secara komprehesif melalui program perawatan dan pelestarian lingkungan hidup di desa wisata tersebut. Pemberdayaan lingkungan ini diharapkan agar mampu menjadikan masyarakat pelaku wisata bisa beradaptasi secara kondusif dan saling menguntungkan dengan lingkungannya. Untuk itu, proses pemberdayaan yang paling mungkin dilakukan pemerintah di desa wisata adalah dengan cara menentukan program aksi lingkungan yang akan menjadi prioritas bagi masyarakat Desa tersebut.

Salah satu program aksi yang dirasa mampu untuk mengatasi persoalan sampah di Desa wisata adalah melahirkan bank sampah yang langsung dikelola masyarakat pada desa wisata.

Sesuatu yang tidak dapat kita pungkiri bahwa persoalan pengelolaan sampah di desa wisata yang selalu dirasakan setiap pengunjung adalah dari banyaknya sampah berserakan di lokasi wisata.

Oleh karena itu sarana dan prasarana pengelolaan sampah mutlak harus dimiliki oleh sebuah desa wisata. Keberadaan tempat sampah terpilah, tempat pengolahan sampah serta sumber daya manusia pengelola sampah sangat penting rasanya dipenuhi oleh sebuah Desa wisata.

Tempat sampah terpilah di desa wisata sangatlah perlu disediakan dan menjadi perhatian bagi pengelola objek wisata. Dengan adanya tempat sampah terpilah, maka itu bisa mengukur tingkat timbulan sampah dilokasi wisata sehingga upaya pengelolaan sampah yang sesuai pun dapat diciptakan di Desa wisata.

Timbulan sampah di desa wisata masih belum jadi perhatian penting oleh pengelola wisata, hal ini dapat dilihat masih minimnya jumlah dan keberadaan tong sampah terpilah di desa wisata tersebut. Jika desa wisata lebih perhatian dalam mengelola sampahnya, maka akan berdampak positif pada jumlah dan waktu tinggal kunjungan di Desa wisata.

Perilaku sadar sampah dari pelaku wisata, salah satunya dapat diukur dari tingkat kebersihan suatu desa wisata.

Oleh karenanya, tong sampah terpilah merupakan sarana awal untuk memastikan sebuah desa wisata bisa mengelola dan mengolah sampahnya. Jika sampah sudah dibuang secara terpilah oleh pelaku wisata pada desa wisata, maka desa tersebut sudah mampu mengelola dan mengolah sampahnya. Penggunaan tong sampah terpilah di desa wisata yang tepat sasaran tentunya dapat membuat sampah yang dihasilkan bisa bernilai guna.

Nilai guna sampah yang telah terpilah sesuai karakteristiknya akan sangat ekonomis untuk masyarakat di desa wisata tersebut. Sampah yang telah terpilah tadi dapat dilakukan pengolahan lebih lanjut salah satunya di bank sampah masyarakat.

Bank sampah adalah salah satu cara penerapan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di tingkat masyarakat khususnya pada desa wisata yang dikelola langsung oleh masyarakat. Pelaksanaan bank sampah itu merupakan satu rekayasa sosial untuk mengajak dan membudayakan masyarakat memilah sampah. Jika bank sampah telah didirikan untuk dikelola oleh masyarakat maka output nyatanya yang bisa dirasakan adalah berupa adanya kesempatan kerja bagi masyarakat desa wisata dalam hal manajemen operasional bank sampah serta investasi dalam bentuk tabungan.

Pembangunan bank sampah sebenarnya tidak dapat berdiri sendiri tetapi harus disertai integrasi gerakan 3R secara menyeluruh dikalangan masyarakat. Konsep 3R melalui bank sampah sangatlah efektif untuk dicoba pada desa wisata karena 3R dapat membuat masyarakat berpartisipasi aktif dimulai dari proses pemilahan sampah, pendaur ulangan sampah, dan penggunaan ulang sampah. Semua aktivitas 3R tersebut dapat membuat desa wisata lebih produktif dalam hal pengelolaan sampah di objek wisata.

Keberadaan bank sampah di desa wisata mungkin belum menjadi perhatian khusus oleh stakeholder pariwisata di Sumatera Barat. Padahal menurut penulis, jika desa wisata itu dilengkapi dengan bank sampah, tentunya masyarakat pelaku wisata akan lebih sadar dan giat dalam aksi-aksi pemungutan sampah karena setiap sampah yang dipungut pasti menghasilkan uang.

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan pada bank sampah desa wisata antara lain kegiatan daur ulang sampah-sampah non organik menjadi barang yang bernilai guna seperti membuat tas dan souvenir dari sampah. Kemudian juga dapat dilakukan kegiatan guna ulang terhadap sampah yang ada di desa wisata seperti menanam bunga pada polibag yang berasal dari plastik minyak atau sejenisnya ataupun membuat tempat duduk di desa wisata dari sisa ban bekas.

Jika dua kegiatan tersebut secara berlanjut bisa dilakukan oleh bank sampah desa wisata, maka tujuan 3R telah bisa dicapai yaitunya memperkuat lingkungan dan ekonomi pelaku peduli lingkungan. Bank sampah di desa wisata dapat dimulai pengelolaannya oleh kelompok sadar wisata (pokdarwis). Jika bank sampah desa wisata sudah berdiri dan beroperasional dengan baik maka selanjutnya bisa dilakukan inovasi aksi lingkungan di desa wisata tersebut yang salah satunya bisa dengan memberlakukan diskon masuk ke desa wisata bagi pengunjung dengan sistem menabung sampah di bank sampah.

Tujuan memberlakukan sistem menabung sampah di desa wisata adalah untuk mewujudkan masyarakat wisata yang sadar sampah. Dengan telah menabungnya wisatawan maupun masyarakat pelaku wisata di bank sampah desa wisata, maka dengan demikian upaya penanganan pengelolaan sampah di sumber telah ikut masyarakat berpartisipasi aktif didalamnya. Masyarakat pengunjung maupun pelaku wisata secara tidak lansung telah disadarkan bahwa mereka sebagai unsur penimbul sampah di lokasi desa wisata ikut kembali menyelesaikan permasalahan sampah untuk mewujudkan Desa wisata sampah yang bebas sampah.(*amalisa)