Diprediksi Guncangan Megathrust Mengintai Sumbar

oleh
Letjend Doni Monardo (Ka BNPB), Nasrul Abit (Wagub Sumbar) foto berdama usia Rakor, Rabu 6/2 di Padang (foto: humas-sumbar)

BNPB : Tetap Pupuk Kewaspadaan 

Padang,—Sumatera Barat (Sumbar)saat ini terus dibayangi ancaman bencana gempa dan tsunami dari patahan Lempeng Indo Australia dan Lempeng Eurasia yang dikenal dengan Zona Megathrust. Bahkan sejak Sabtu-Minggu (2-3/2) kemaren 115 kali intensitas gempa bumi di Sumbar.

Kepala Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo ingatkan Pemprov Sumatera Barat beserta Pemerintah Kota dan Kabupaten harus lebih siap menghadapi ancaman bencana gempa bumi dan Tsunami.

“Pemerintahan  harus lebih siap lagi, apalagi kita sudah tahu bahwa telah terjadi kegempaan sebanyak 115 kali di wilayah Mentawai,” ujar Doni Monardo usai menghadiri Rapat Koordinasi Mitigasi dan Penanganan Bencana Gempa dan Tsunami di Padang, Rabu 6/2 di Auditorium Gubernur Sumbar.

Menyikapi itu, Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit berharap perhatian pemerintah pusat selalu, terutama membangun kewaspadaan masyarakat dan sarana prasarana kesiapan menghadapi megatrust siberut itu.

Wagub Sumbar Nasrul Abit

“Kami berharap pemerintah pusat dapat memberikan perhatian terhadap berbagai hal mendukung sarana dan prasarana kesiapsiagaan bencana, apakah itu tentang pembangunan shelter, peralatan deteksi dini, juga pelatihan aparat terhadap kegiatan penanggulangan bencana di Sumatera Barat,”ujar Wakil Gubernur Nasrul Abit saat memberi sambutan pada acara Rapat Koordinasi Mitigasi dan Penanganan Bencana Gempa dan Tsunami di Provinsi Sumatera Barat yang dihadiri Kepala BNPB Rabu 6/2 dk Auditorium Gubernur Sumbar.

Nasrul Abit yang mewakili Gubernur Sumbar menyampaikan, Sumatera Barat adalah supermarketnya bencana, semuanya ada di Sumbar, ancaman terbesar adalah gempa dan tsunami karena dikhawatirkan bisa merenggut banyak korban jiwa, terutama masyarakat yang berada di pinggir pantai, selain itu ada bencana gunung berapi, angin puting beliung, tanah bergerak, longsor dan banjir juga mengintai.

“Makanya, Sumatera Barat disebut daerah ‘supermarket’ bencana, untuk itu saya berharap berikan pengetahuan kepada masyarakat agar ketakutan bisa berkurang, dan tahu bagaimana cara menghadapi apabila ada bencana gempa dan tsunami,”ujar Nasrul

Dan Nasrul Abit  mengapresiasi Kepala BNPB tentang isu potensi gempa dan tsunami.

“Termasuk soal Megathrust Mentawai juga beberapa kali gempa kemarin juga mendapat perhatian dari Pak Doni Monardo,”ujar Nasrul Abit.

Doni Monardo pada Rakor Rabu tadi menyampaikan, agar Pemerintah Sumbar dan pihak terkait terus memperkuat mitigasi bencana pada infrastruktur utama, karena banyaknya gempa hingga sampai ratusan yang beruntun mengguncang wilayah pesisir Sumbar beberapa hari terakhir.

“Seluruh wilayah Sumatera Barat (Sumbar) berpotensi bencana, apalagi, daerah Sumbar berada di patahan lempeng dan cincin api. Potensi gempa, banjir dan longsor pun menghantui setiap waktu,”ujar Doni Monardo.

Dan suka tidak suka, senang tidak senang, warga Sumbar hidup di atas patahan lempeng dan cincin api.

“Sumbar berpotensi besar terhadap bencana. Ada gunung Marapi, gunung Talang, dan gunung Kerinci,” ucapnya.

Tujuan memupuk sikap mitigasi semua pihak itu, jika potensi gempa megathrust berkekuatan 8.9 Scala Richter keluar, hingga mengakibatkan tsunami, infrastruktur utama masih bisa difungsikan. Selain itu, kata Doni untuk menekan jumlah korban jiwa jika bencana itu benar-benar tiba.

“Bandara Internasional Minangkabau (BIM) yang berada di tepi laut, Pelabuhan Teluk Bayur. Harus diperkuat mitigasinya, karena ini adalah sarana vital bagi Sumbar, untuk itu kita harus mengurangi kecepatan tsunami dengan cara menanam pohon-pohon di tepi pantai, seperti pohon kelapa, cemara udang, mahoni, palaka, bakau, pule, ketapang dan lainnya yang kemungkinan tahan tsunami,” ungkapnya

Selanjutnya Doni juga meminta penegak hukum untuk menindak tegas oknum yang membabat vegetasi di sekitar pantai. Begitupula pelaku-pelaku kegiatan tambang illegal yang bisa berdampak pada kerusakan ekosistem dan menjadi sumber bencana.

“Tegas pada mereka yang merusak alam. Percayalah, kalau kita merawat alam, alam akan merawat kita,” pungkasnya.

Terakhir Doni Monardo menyampaikan pesan dari Presiden Joko Widodo yang ada enam Butir Arahan Presiden RI yakni, pertama, Pemda harus merencanakan tata ruang dengan memperhitungkan zona bencana, dan harus diimplementasikan dengan tertib dan tegas.

Kedua, pelibatan akademisi guna melihat lokasi yang rawan bencana melalui kajian dan analisis yang teliti, sehingga dapat diprediksi ancaman dan antisipasi dan pengurangan korban.

Ketiga, jika terjadi bencana, maka Gubernur otomatis menjadi komandan satgas, jangan setiap masalaah bencana langsung dibawa ke tingkat pusat.

Keempat, pembangunan Early Warning System (EWS) terpadu berbasis analisis pakar. Semua KL (Kementerian/Lembaga) dikoordinasikan sehingga sistem peringatan dini terwujud.

Kelima, edukasi kebencanaan tahun 2019 harus dimulai kepada masyarakat, sekolah, tokoh-tokoh masyarakat, dan lain-lain.

Keenam, simulasi latihan penanganan bencana dilakukan secara berkala, berkesinambungan sampai tingkat bawah.

Keenam poin tersebut harus segera dilaksanakan tahun ini oleh pemerintah daerah.

“Dengan tsunami seperti itu dan kondisi Kota Padang seperti sekarang, jika tsunami terjadi pada siang hari, kira-kira bisa menimbulkan 150 ribu jiwa, itu yang dihitung manusia bergerak dengan lebar jalan, belum termasuk hambatan lain seperti macet oleh kendaraan, tiang listrik dan bangunan yang roboh,” katanya menerangkan.

“Kitq tidak bisa membayangkan jika Kota Padang dihantam tsunami yang akan bisa merusak pelabuhan laut dan udara yang hanya terletak 300 meter dari pantai,”ujarnya menambahkan.

Doni membayangkan kota berpenduduk lebih 900 ribu jiwa tersebut akan terisolasi karena jalan darat juga melewati Bukit Barisan tidak bisa dilewati.

“Saya sarankan pemerintah pusat dan daerah segera membuat shelter dan jalan evakuasi untuk mengantisipasi ancaman bencana tsunami di Sumatera Barat,”ujarnya.

Mentawai Nomor Satu Diwaspadai

Kepala BMKG Dwikornita

Sementara itu Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, hasil pemantauan dan BMKG, terdapat 8 zona kegempaan di Indonesia yang patut diwaspadai dan salah satunya adalah Mentawai.

“Bahkan, Mentawai diposisi pertama yang harus diwaspadai dengan mengkhawatirkan patahan ‘semangko’ pulau Sumatera yang juga melewati Sumbar. Namun, dari analisis pakar dari BMKG maupun LIPI, prioritas utama tetap di zona Megathrust Mentawai,”ujar Dwikorita

Untuk mengantisipasi Megathrust Mentawai, BMKG sendiri telah memasang 10 stasiun pengamatan. Tahun ini, BMKG juga mengupayakan penambahan peralatan dari dana hibah Pemerintah Cina, untuk mengawasi gempa berkekuatan 8,9 SR.

Dwikorita Karnawati melanjutkan, bahwa BMKG akan bekerjasama dengan Cina untuk memasang alat sensor-sensor untuk menangkap gelombang gempa (primer) yang ada 50 sensor gempa yang akan di pasang di Sumbar.

Namun, pemasangan alat ini perlu waktu tambahan 1 tahun untuk ujicoba. Jika disetujui tahun ini, bisa dimanfaatkan 1 sampai 2 tahun berikutnya.

Sedangkan Ahli gempa Danny Hilman Natawijadja dari Laboratorium gempa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang sudah 20 tahun meneliti gempa di Mentawai, bahkan dia sudah mengangap Mentawai rumah keduanya.

“Ancaman gempa di bawah Pulau Siberut atau gempa megathrust sudah di depan mata, kapan waktunya, kita tidak tahu, tapi sebenarnya masanya sudah lewat, sejak gempa Mentawai 2007 namun ini baru buntutnya, kini tinggal menunggu bapaknya,”ujar Danny.

Ia mengingatkan pentingnya mitigasi. Ia mengatakan kegiatan mitigasi selama ini sangat kurang dan jauh tertinggal. Namun itu bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia internasional.

“Jangan sudah terjadi bencana gempa baru datang ramai-ramai melakukan tanggap darurat,”ujar Danny.(rlis: humas-sumbar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *