Oleh: AISYAH NURHANIZA Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB UNAND-
MATA UANG rupiah memuat banyak gambar tokoh, salah satu yang menarik perhatian ialah tokoh dalam uang pecahan Rp50.000,00 yakni Ir. H. Djuanda Kartawidjaja.Beliau merupakan seorang negarawan, administrator dan teknokrat yang mendeklarasikan sebagian hidupnya untuk mengabdi pada bangsa dan negara.
Hal ini dibuktikan dengan diangkatnya beliau sebagai pahlawan nasional pada tahun 1963 berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.244 oleh Presiden Soekarno. Selain itu, nama beliau juga diabadikan menjadi nama jalan di beberapa kota besar Indonesia dan juga diabadikan sebagai nama Bandara Kota Surabaya.Melalui pengangkatan ini, seolah menggambarkan betapa besar peran serta perjuangannya untuk Indonesia sejak masa penjajahan Kolonial Belanda hingga masa kemerdekaan.
Latar Belakang KeluargaBerdasarkan keterangan dalam buku “Pahlawan Nasional Ir. H. Djuanda: Negarawan, Administrator dan Teknokrat Utama” yang disunting oleh Awaloedin Djamin, dijelaskan bahwa Ir. H. Djuanda Kartawidjaja atau yang lebih dikenal dengan Djuanda lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat pada tanggal 14 Januari 1911. Beliau merupakan anak pertama dari pasangan Raden Kartawijaya dan Nyi Monat. Ayahnya merupakan mantri guru di HIS, yaitu sekolah dasar berbahasa Belanda bagi anak-anak bumiputra.
Sehingga, dapat dikatakan bahwa Djuanda lahir dari keluarga yang terhormat dan terpelajar, melalui profesi ayahnya sebagai seorang guru. Waktu itu, kedudukan sosial guru dalam masyarakat baik di desa maupun di kota sangat mulia dan terpandang, karena pengabdiannya memajukan dan mencerdaskan anak-anak rakyat. Pada saat kelahirannya, Indonesia sedang memasuki fase-fase awal pergerakan nasional untuk mencapai kemerdekaan, dimana terjadi perubahan bentuk perlawanan dari perlawanan fisik menjadi perlawanan secara diplomatis.Beliau termasuk ke dalam tokoh yang berjuang melalui jalur diplomatis lewat berbagai peran dan pemikirannya di lembaga pemerintahan.
Masa pendidikanKehidupan masa kecil dan remaja Djuanda, dihabiskan dengan berpindah-pindah tempat dari Tasikmalaya ke Kuningan dan Cicalengka di Jawa Barat. Sepanjang pendidikannya dihabiskan di beberapa sekolah yakni HIS, ELS, HBS dan THS. Djuanda tumbuh dalam didikan dan arahan ayahnya, sehingga mampu sukses menempuh jenjang pendidikan tinggi, yang di kemudian hari akan membawa beliau menjadi seorang tokoh nasional. Sebagai anak dari seorang guru, beliau memiliki kepribadian dan karakter pendiam yang diwarisi dari ayahnya, sifat ini akhirnya terbawa hingga masa tuanya. Memasuki tahun-tahun sebagai mahasiswa, Djuanda diterima di Technische Hoge School (THS) Bandung pada tahun 1929.THS memiliki kedudukan akademis yang tinggi di mata kaum intelektual Belanda maupun Indonesia. Lulusannya akan bergelar Insinyur dan pekerjaan sebagai Insinyur memiliki derajat tinggi dalam pandangan masyarakat dan pemerintah. Oleh karena itu, ayahnya sangat berharap beliau dapat diterima di sana, karena akan mendapat jaminan kehidupan yang layak.Ketika Djuanda menjadi mahasiswa, masa pergerakan semakin meningkat dengan dicetuskannya persatuan nasional melalui Kongres Sumpah Pemuda. Namun, pada awalnya beliau belum aktif dalam mengikuti pergerakan tersebut. Djuanda lebih memusatkan perhatiannya terhadap masalah kemasyarakatan, terutama rakyat sunda.
Beliau kemudian masuk dan menjadi anggota aktif organisasi Indonesische Studenten Vereniging (ISV), hingga akhirnya pada tahun 1930 terpilih menjadi ketua ISV. Jabatan sebagai ketua ISV adalah capaian tertinggi Djuanda dalam berorganisasi sebagai seorang mahasiswa. Hingga pada tahun 1933, di usia yang ke 22 tahun, harapan ayahnya agar beliau menjadi insinyur dapat terwujud dengan lulus menjadi sarjana dan berhak menyandang gelar civil ingenieur (Ir).Memasuki Dunia Kerja
Selepas tamat perkuliahan ditahun yang sama, sebelum memasuki dunia kerja Djuanda memilih untuk berumah tangga terlebih dahulu. Hal ini beliau wujudkan dengan mempersunting Julia seorang guru Frobel Kweekschool (sekolah taman kanak-kanak keluarga) di Bandung.Pada tahun 1933, dunia sedang dilanda krisis ekonomi Malaise yang membuat para insyinyur muda kesulitan dalam mendapat pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan mereka. Hingga akhirnya di tahun 1934, Djuanda diterima sebagai guru AMS dan Kweekschool Muhammadiyah di Jakarta.
Tidak lama kemudian, beliau diangkat sebagai direktur sekolah tersebut. Pada masa jabatannya, Djuanda menghadapi berbagai tekanan dari pemerintah Kolonial Belanda yang mengawasi dengan ketat sekolah-sekolah swasta, karena dicurigai sebagai ajang untuk propaganda politik melawan pemerintah.Pada tahun 1939, beliau mulai meletakkan jabatan sebagai direktur AMS dan mendapatakan pekerjaan sesuai dengan latar pendidikan sebagai insinyur pada Provinciale Waterstaat (Jawatan Pengairan) Provinsi Jawa Barat.
Editor : Adrian Tuswandi, SH
