Dosen Faperta Unand Ajarkan Teknik Mini Grafting Pembibitan Durian di Batu Busuak

oleh -81 views
Anggota kelompok tani praktekan teknik mini grafting di Batu Busuak ujud pengabdian dosen Faperta Unand, Jumat 8/11 (foto: dok/timdos)

Padang,—Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) merupakan rutinitas tahunan dilakukan oleh Tim Dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Faperta Unand) khususnya di desa-desa lingkar Kampus Unand.

Desa Batu Basuak Kelurahan Lambuang Bukik Kecamatan Pauh menjadi sasaran Tim Dosen Faperta Unand tahun ini. Desa Batu Busuk merupakan sentra produksi durian lokal yang dikelola oleh Kelompok Tani beranggotakan masyarakat di sekitar desa itu.

Tapi untuk pengetahuan dan keterampilan masyarakat desa Batu Busuk tentang pembibitan durian masih sebatas pembibitan secara konvensional.

Berangkat dari itu Tim Dosen Faperta Unand tergerak untuk memberikan pelatihan dan demonstrasi pembibitan durian menggunakan teknik mini grafting. Tekni ini mendapat respon  Kelompok Tani desa Batu Busuk.

Bahkan anggota Kelompok Tani di sana sangat aktif terlibat dalam persiapan kegiatan, mulai dari penyemaian biji durian untuk persiapan batang bawah durian.

“Kesempatan untuk mendapatkan pelatihan seperti ini sangat sayang jika dilewatkan. Oleh sebab itu saya beserta anggota Kelompok Tani ingin mengetahui dan mempelajari proses nya dari awal hingga akhir. Apalagi kami dapat belajar langsung dari ahlinya,”ujar Anwar ketua RW sekaligus Ketua Kelompok Tani tersebut, Jumat 8/11 di sela-sela pelatihan teknik minj grafting.

Teknik mini grafting. Bapak … menjelaskan “Teknik mini grafting merupakan salah satu teknik sederhana yang banyak digunakan dalam pembibitan tanaman buah. Teknik ini bisa dilakukan mengunakan alat yang sederhana yaitu pisau dan plastik untuk mengikat dan menutup sambungan. Keterampilan dalam menggunakan teknik ini sangat menentukan keberhasilan sambungan terlepas dari proses perawatan yang dilakukan setelah proses penyambungan dilakukan”.

Sukarmin dari Balitbu Tropika Solok mengatakan  pohon induk varietas ungulan di Indonesia dan varietas introduksi. Kegiatan demonstrasi oleh Tim Ahli dilanjutkan oleh kegiatan praktek teknik mini grafting oleh peserta pelatihan yang hadir saat itu.

“Ternyata bibit durian bisa disambung dan prosesnya juga tidak sulit. Saya sangat berterima kasih kepada Tim Ahli dan Tim Dosen Faperta Unand yang telah mengadakan pelatihan ini. Saya jadi bisa mengetahui informasi baru dan mempraktekkannya sendiri. Saya berharap bibit durian yang telah disambung bisa tumbuh dengan baik dan nantinya bisa ditanam di lahan atau kebun durian masyarakat di desa Batu Busuk,” ujar seorang anggota tani.

Kegiatan pelatihan juga diikuti dan melibatkan mahasiswa Faperta Unand yang juga sangat berminat untuk mempelajari teknik ini.

“Saya senang karena dapat mempelajari dan langsung mempraktekkan teknik mini grafting. Banyak hal terkait teori teknik mini grafting yang bisa saya dapatkan dari membaca atau sumber literatur. Teori itu baru berguna jika dipraktekkan. Ketika mempraktekkannya ternyata banyak tips yang saya dapatkan dari Tim ahli. Waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan satu sambungan masih kurang cepat karena belum terbiasa, namun saya yakin hal tersebut bisa ditingkatkan jika saya sering-sering berlatih,”ujar Edwin mahasiswa yang ikut pengabdian.

Monitoring yang dilakukan oleh Tim Dosen Faperta Unand beserta Kelompok Tani setelah kegiatan pelatihan dan demonstrasi pembibitan durian menggunakan teknik mini grafting, memberikan hasil yang cukup baik. Meski bibit durian yang paling banyak berhasil tumbuh adalah yang di sambung oleh Tim Ahli, beberapa bibit yang disambung oleh peserta baik itu anggota kelompok tani ataupun mahasiswa juga berhasil tumbuh.

Ketua Tim Dosen Faperta Unand, PK Dewi mengatakan elatihan dan demonstrasi pembibitan durian menggunakan teknik mini grafting ini diharapkan dapat menunjang kegiatan budidaya durian yang dikelola oleh Kelompok Tani di Desa Batu Busuk.

“Pembibitan durian secara konvensional (dari biji) tentu akan mempengaruhi waktu panen pertama dari durian yang ditanam oleh masyarakat, yaitu mencapai 4-5 tahun. Waktu panen pertama ini dapat dipercepat salah satunya melalui penggunaan bibit yang berasal dari perbanyakan vegetatif, sehingga menjadi 2-3 tahun saja,”ujarnya.

Meskipun hasil sambungan dari masyarakat belum banyak yang berhasil, setidaknya masyarakat telah dibekali dan mengetahui tentang teknik perbanyak vegetatif yang bisa mereka lakukan sendiri.

“Hasil dari pembibitan durian dari pelatihan ini selanjutnya akan didistribusikan ke masyarakat Desa Batu Busuk agar dapat mereka tanam di kebun masing-masing dan mudah-mudahan dapat dinikamti hasilnya 2-3 tahun kedepan,”ujarnya.(rilis: timdos)