Ekonomi Dunia Turun, Lima tahun PE Sumbar Melambat

oleh -330 views
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat, Wahyu Purnama A. (foro: riko)

Padang,—Sumbar dan Indonesia tidak bida menafikan iklim jelek ekonomi dunia, imbasnya, Pertumbuhan Ekonomi (PE), khususnya Sumbar melambat.

Tahun 2014 sebesar 5,88 persen, tahun 2018 sebesar 5,14 dan tahun 2019 diperkirakan pada kisaran 5 sampai 5,2 persen. Lalu di tahun 2020 diproyeksikan paling tinggi 5,3 persen.

”Jika pemimpin Sumbar ke depan tidak fokus pada sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru, melakukan transformasi dan inovasi serta membangun sinergi dengan kabupaten dan kota, maka perekonomian Sumbar akan terus melambat,”ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumbar Wahyu Purnama A saat pertemuan dengan Jaringan Pemred Sumbar (JPS) di Kantor Bank Indonesia Perwakilan Sumbar, Rabu kemarin 15/1.

Sektor yang bisa menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi Sumbar adalah pariwisata, di samping manufaktur.

”Pertanyaannya apakah industri cocok untuk Sumbar? Tidak. Karena jauh dari sumber bahan baku dan akses transportasi pengangkutannya sehingga menimbulkan biaya tinggi. Jadi, yang jelas-jelas aja dulu dikerjakan dengan fokus. Sektor pariwisata lebih masuk akal dan kembangkan itu,” kata Wahyu didampingi Deputi Kepala BI Perwakilan Sumbar Gunawan Wicaksono.

Selama ini, dari sisi lapangan usaha, Sumbar termasuk beruntung karena memiliki sektor pertanian yang menyumbang 22 persen, lalu pedagangan 16 persen, transportasi 13 persen dan konstruksi 10 persen. Beda dengan daerah tetangga yang rentan terganggu perekonomian global karena banyak bergantung pada komoditi ekspor.

”Jadi, sektor pertanian harus kita pertahankan karena terkait dengan ketahanan pangan dan pengendalian inflasi. Tapi kalau untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, kita perlu menggerakkan sektor lain, yaitu sektor pariwisata karena multiflier effect-nya banyak. Kalau sektor pariwisata dikembangkan, artinya kita sudah menggerakkan berbagai sektor, baik itu perhotelan, kuliner, perdagangan, UMKM, transportasi, dan banyak sektor lainnya,” jelasnya.

Wahyu mengungkapkan, saat ini perkembangan pertumbuhan ekonomi Sumbar jika dilihat dari sisi permintaan, penggerak ekonomi Sumbar itu masih konsumsi swasta dan masyarakat.

”Sebesar 55 persen penggerak ekonomi Sumbar itu konsumsi. Pengeluaran pemerintah dari APBD itu share-nya 12 persen. Jadi yang menggerakkan ekonomi ya masyarakat, angkanya 55 persen. Investasi 31 persen, tapi investasi itu kan ada swasta dan pemerintah. Investasi swasta lebih besar dari investasi pemerintah. Nah, apa yang perlu digerakkan untuk membangun ekonomi Sumbar? Ya, investasi. Investasi yang mana? Yang paling jelas dan clear adalah investasi sektor pariwisata,” jelas mantan pimpinan BI di Bengkulu, Gorontalo dan Tasikmalaya ini.

Belanja pemerintah bukan penggerak utama perekonomian. Maka, perlu diarahkan ke sektor-sektor potensial, seperti investasi dan ekspor. Wahyu merinci, investasi swasta seperti hotel, restoran, infrastruktur, dan semua yang terkait dengan pariwisata perlu digerakkan di Sumbar.

”Banyak investasi yang lain, tapi yang berpeluang menggerakkan ekonomi itu adalah pariwisata. Dari mana investornya? Bisa dari dalam Sumbar, nasional maupun internasional. Tapi kalau ada orang Sumbar yang mau berinvestasi untuk menggerakkan investasi itu, kenapa harus dari luar. Multiflier effect-nya akan lebih besar,” sebut pria asal Solok itu.

Lebih lanjut, alumni Fakultas Ekonomi Unand itu menyarankan, perlu adanya sinergi, tranformasi, dan inovasi dalam menggerakkan sektor pariwisata di Sumbar. Misalnya, mencanangkan tahun kunjungan wisata Sumbar bertajuk

”Visit Beautiful Minangkabau”. Dalam merealisasikan itu, Pemprov Sumbar merangkul dan mengkoordinir semua kabupaten dan kota dalam mengembangkan pariwisata.

”Jadi, itu (Visit Beautiful Minangkabau) adalah payung besar yang harus dilakukan,” kata mantan Kepala Grup BI di Departemen Regional I Sumatera.
Pengembangan sektor pariwisata juga mencakup perhatian pada kegiatan ekonomi kreatif.

Misalnya, saat ini yang dilakukan BI Perwakilan Sumbar adalah menyatukan komoditas unggulan songket Minang, membangkitkan semangat para perajin serta membuka pasarnya. Lalu, membangun kreativitas dan transformasi.

”Bentuknya kecil, tapi itu melibatkan ribuan perajin. Jadi, pemimpin Sumbar ke depan harus bisa melakukan itu dalam bentuk yang nyata. Misalnya di BI Sumbar, kita mewajibkan pemakaian songket Minang ini dua kali dalam seminggu. Kami lagi mengajak instansi lain dan pemerintah daerah agar bergerak menggunakan songket ini,” tukasnya.

Selain songket, upaya nyata yang dilakukan BI adalah mengembangkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di klaster hortikultura, cabai merah, pembibitan sapi, sapi perah, bawang merah, padi organik, industri kreatif dan komoditas ekspor.

”Kita juga memfasilitasi UMKM untuk bergabung dengan platform jual beli secara online serta bergabung dengan platform pembayaran digital,” kata penerima penghargaan Pena Emas 2016 dari Harian Radar Tasikmalaya (Grup Padang Ekspres) karena dinilai menginspirasi dan berkontribusi membangun ekonomi kreatif di daerah itu.

Dalam pertemuan dengan JPS yang dikoordinir Heri Sugiarto yang sehari-hari Pemred Padang Ekspres itu, Wahyu juga mendorong adanya program besar bertajuk ”Keramahan Minangkabau” dalam melayani wisatawan yang datang ke Sumbar.

”Harus ada motivasi untuk berubah. Keramahan kita di dalam melayani pariwisata itu perlu diperbaiki. Di samping itu, harus ada program wisata bersih seperti toiletnya, tempat ibadah, dan destinasi wisata. Kita harus ubah. Itu memang perlu semangat besar dan pemimpin yang kuat dalam melakukan transformasi,” tegas ayah tiga putri tersebut.

Pemerintah daerah di Sumbar juga perlu membuat roadmap pengembangan pariwisata lima tahun ke depan. Harus diterapkan secara konsisten dan jelas targetnya.

”Harus clear targetnya apa. Roadmap ini dilakukan secara berkelanjutan. Selain itu kita juga harus melangkah pada pariwisata digital. Nah ini sudah harus ada program dan konsistensinya. Jangan diubah-ubah,” katanya.

Sebagai daerah yang berfilosofi adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, Wahyu juga mendorong Sumbar terus memperkuat pariwisata halal. Dalam aplikasinya, semua hotel-hotel harus mencerminkan itu, bukan sebatas label.

”Konkretnya, begitu orang masuk hotel harus ada petunjuk arah kiblat, ada sajadah, al-quran, dan ada logo sertifikasi halal dari MUI,” tukas Wahyu.

Untuk mewujudkan itu semua, menurut Wahyu, Sumbar membutuhkan pemimpin yang memiliki leadhership yang kuat, dan melihat secara jeli sektor-sektor mana yang perlu didorong menggerakkan perekonomian. Lalu, faktor-faktor penggerak pertumbuhan ekonomi baru Sumbar.

”Jadi, Sumbar butuh pemimpin yang kuat. Pemimpin yang bisa melakukan perubahan dalam bentuk nyata, transformasi dan inovasi serta membangun sinergi bersama seluruh kabupaten dan kota serta pusat. Pemimpin yang paham bisnis dan perekonomian,” jelasnya.(*rilis/padeks-kamis)