Frozen Food, Makanan Sehat dan Praktis di Masa Pandemi

oleh -108 views
Frozen Food. (dok)

Oleh: Fuji Rahayu Amri dan Ferdinal

Civitas Akademica Unand

BANYAK rumah tangga memilih makanan beku (frozen food) menjadi makanan alternatif yang sehat dan praktis di masa pandemi Covid-19 saat ini. Permintaan dan pilihan sebagian rumah tangga ini membuat bisnis frozen food naik daun sekarang.

Para PKL dan pedagang terancam harus menutup bisnisnya untuk sementara sampai PSBB selesai. Hal tersebut membuat para pedagang harus mencari alternatif untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari harinya.

“Mereka dituntut untuk dapat mengambil keputusan yang cepat di tengah perubahan industri yang cukup dinamis saat ini” ujar Dimas Beck, seorang artis yang juga memiliki bisnis frozen food.

Oleh karena itu selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) frozen food menjadi tren yang meningkat pesat sebagai pilihan panganan saat di rumah saja.

Tentunya, tidak semua makanan beku menjadi pilihan yang sehat. Tergantung kepada makanan yang kita pilih. Pilihlah sayur, buah buahan, dan daging yang tidak menggunakan bahan tambahan. Sementara itu, cemilan beku seperti cireng, cimol, kebab, dan lain lain, apabila dibekukan, bandingkan nilai gizi tiap kemasan tersebut.

Banyak cemilan beku yang mengandung banyak kalori, garam, dan gula. Oleh karena itu kita harus bijak dalam memilih makanan yang sehat.

Hippocrates, seorang filosof, sudah mengingatkan kita “Orang bijak harus mempertimbangkan bahwa kesehatan adalah berkat terbesar manusia. Biarkan makanan menjadi obat dan obat menjadi makanan anda.”

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of The Academy of Nutrition and Dietetics menemukan bahwa “Orang yang secara teratur mengkonsumsi makanan beku memiliki 253 kalori dan 2,6 gram lemak jenuh lebih rendah perhari dibanding dengan orang yang mengkonsumsi makanan cepat saji.”

Hal ini karena makanan beku buah dan sayuran langsung dibekukan setelah dipetik, sehingga kandungan nutrisinya cendrung masih utuh dibanding buah segar yang dapat dengan cepat berkurang nutrisinya jika hanya disimpan.

Selain sehat, frozen food juga praktis diolah. Kita bisa mengolah makanan beku siap saji dengan cara mengoreng, mengukus, atau sekedar merendamnya di air hangat. Proses pengolahannya pun cenderung lebih singkat daripada memasak makanan dari bahan mentah.

“Tatkala dipaksa lebih banyak di rumah, masyarakat bahkan lebih senang memasak sendiri makanannya. Karenanya agar tidak repot, frozen food atau makanan beku menjadi pilihan mereka” kata salah seorang pebisnis frozen food.

Hal ini juga dibenarkan oleh sejumlah kalangan termasuk mahasiswa.

“Seperti yang kita rasakan pada masa pandemi ini, banyak orang yang kehilangan pekerjaan sehingga mereka harus mencari peluang buat kehidupan. Nah dengan adanya Frozen food ini bisa menjadi salah satu peluang yang baik untuk diperjualbelikan karena pengolahan yang praktis. Tidak hanya itu Frozen food juga merupakan makanan yang tahan lama dibandingkan dengan makanan lain, walaupun demikian Frozen food tetap mempertahankan nutrisi yang terkandung” kata Talifha, seorang mahasiswa di Padang.

Meskipun menjadi pilihan alternatif bagi rumah tangga dan mereka yang hidup membujang, pebisnis frozen food memiliki kendala tersendiri dibandingkan dengan pebisnis produk makanan biasa.

Makanan biasa tidak mengutamakan kecepatan dalam pengiriman produknya. Sebaliknya, pemasaran frozen food dipengaruhi oleh faktor kecepatan pengiriman.

Frozen food tidak bisa terlalu lama berada di luar alat pendingin seperti kulkas atau freezer. Produk ini harus segera sampai tujuan dan disimpan kembali di ruang pendingin pembeli kalau tidak langsung dikonsumsi.

Inilah salah satu kelemahan bisnis frozen food. Oleh karena itu, sejumlah pakar menyarankan untuk mencoba berbagai macam cara pemasaran. Diantaranya dengan menggunakan media sosial.

Mereka menganjurkan pebisnis ini untuk membuat akun di media sosial populer seperti Instagram dan Facebook. Kemudian memposting konten-konten yang bagus yang berhubungan dengan frozen food agar bisa menarik perhatian orang yang melihatnya.

Seperti yang diungkapkan oleh Pakar pemasaran Yuswohadi jika ingin bertahan, maka pelaku UMKM harus mampu memaksimalkan manfaat perkembangan digital.

Saat ini, media digital menjadi media komunikasi yang sangat diharapkan dapat memberikan profit bagi berbagai jenis usaha di belahan dunia manapun. Komunikasi pemasaran pun kini bergeser drastis secara online.(analisa)