Gempa Palu tak Sekuat IWO

oleh
Amdri Gultom. Ketua IWO Sulteng, bertemua IWO Way Kanan, bencana mempertemukannya. (foto: andrigultom)

Oleh : Andri Gultom                              Ketua IWO Sulawesi Tengah

20 April 2017 saya diamanahkan untuk menjadi Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Sulawesi Tengah. Di awal saya telah merasakan kekuatan dari organisasi wartawan media online ini dan setidaknya dengan organisasi ini, silaturahmi sebagai cucu Adam di Indonesia semakin kuat.

Seiringnya waktu, IWO terus tumbuh dan itu terlihat melalui grup Whatsapp IWO se Indonesia yang dibuat oleh Pengurus Pusat IWO. Satu persatu kabupaten, kota bahkan propinsi bergabung di grup itu, pertanda telah terbentuknya organisasi di daerah tersebut.

Bagi saya, sebagai pimpinan IWO , saya tidak menjadikan organisasi ini sebagai wadah untuk belajar menjadi bos. Melainkan saya jadikan sebagai ladang perlindungan bagi wartawan di Sulawesi Tengah, dan wadah silaturahmi wartawan se Indonesia. Dan saya yakin, suatu saat nanti organisasi ini akan melindungi saya.

Tepat 28 September 2018, Kota Palu, Sigi dan Donggala mengalami musibah yang dahsyat. Gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter disertai Tsunami dan Likuifaksi menelan apa saja yang ada di hadapan dan yang menumpu padanya.

Semua orang berlarian menyelematkan diri. Kala itu, saya seperti merasakan kiamat yang akan terjadi. Karena memang, pada saat Tsunami terjadi, saya berada dekat pantai, sementara istri dan anak saya berada di tempat lain.

Tingginya air yang saya lihat itu membuat nadir saya bergetar. Ditambah ketika melihat secara langsung korban berguguran, dan keluarga saya yang juga ikut menjadi korban amukan alam itu membuat batin saya hancur berkeping keping. Rumah dan harta semuanya telah diambil NYA. Saya seperti zombi, bisa bergerak namun tak hidup.

Usai musibah itu, seluruh kota lumpuh hingga seminggu. Makanan, minuman sangat sulit didapatkan. Anak-anak, istri, orangtua dan keluarga saya semuanya kelaparan. Saya kebingungan dan nyaris putus asa. Jujur, saya adalah pelaku penjarahan supermarket kala itu. Saya mengambil makanan, minuman yang bisa untuk mengganjal perut keluarga. Susu anak menjadi keutamaan untuk saya ambil.

Seminggu berlalu, jaringan telekomunikasi sudah mulai aktif. Saya gelisah, tak sepeser pun uang untuk membeli bensin mencari logistik di tangan saya. Saya tidak tahu, kemana saya harus memenuhi kebutuhan kami sebagai pengungsi. Tapi, saya selalu bersyukur Allah SWT masih memberikan nikmat hidup, dan saya yakin ia akan menolong saya.

Dalam kegelisahan tersebut, Pendiri IWO Pusat Witanto menghubungi saya. Ia menanyakan kabar saya dan keluarga. Beliau adalah orang pertama yang menghubungi saya, kemudian disusul keluarga. Saya memberikan kabar kepadanya soal kondisi yang semakin sulit. ‘Kami tidak berdaya dan butuh pertolongan’ lapor saya padanya.

Tak lama kemudian, Sekjend IWO Pusat menghubungi saya. Beliau meminta rekening saya dan mengirimkan beberapa dana yang cukup untuk kami gunakan agar bertahan hidup sementara.

Tak lama kemudian, sejumlah pengurus IWO satu di antaranya ada dari IWO Sumantera Barat Adrian Tuswandi, juga ikut memberikan bantuan. Kata beliau, ini adalah hasil dari penggalangan dana dari jurnalis dan mitra pers di Sumbar. Air mata saya menetes tak kuasa menahan haru.

Saya kemudian menyalurkan ke sejumlah pengurus yang mendapat dampak musibah ini. Meski ala kadarnya, mereka bahagia dan sangat bersyukur.

Sebulan pasca gempa, saya dihubungi Ketua Umum IWO Jodhi Widono dan pengurus IWO Sulbar serta IWO Pasangkayu. Kami bertemu dan saling berbagi kisah. Saya mengajak mereka untuk datang ke pengungsian saya yang hanya pakai terpal. Jodhi mendapatkan ibu saya, sedang mengayun anak. Di tenda itulah kami akan menyambungkan hidup selanjutnya, kata saya kepada Jodhi.

Dan hari ini, Fikri pengurus IWO Way Kana dari Lampung ikut mengunjungi saya bersama pengurus lainnya. Mereka datang bersama Pemerintah Kabupaten Way Kana sambil menyerahkan bantuan logistik. Dia merangkul saya. Tatapan kasih sayang yang begitu dalam dari mereka tak kuat menahan kelopak mata saya. Air mata jatuh tanpa disedari. Saya tak mengenal mereka semuanya, bertemu dan bertegur sapa pun tidak pernah. Namun kami dipertemukan di sini karena persaudaran IWO. Saya merasa telah dikunjungi keluarga jauh saya. Dalam lisan saya berdoa, Semoga Allah SWT menjaga dan membalas kebaikan kalian semua.

Dan kali ini saya sangat menyadari kekuatan IWO. Kekuatan persaudaran yang terbangun dari awal ini menunjukan jati dirinya sebagai organisasi kemanusiaan yang nyata. Kekuatan itu melebihi Gempa Palu.(analisa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *