Geografi Pekerjaan

oleh -93 views
Prof Elfindri (foto: dok)

Oleh : Elfindri, Direktur SDGs Unand

SEWAKTU pertemuan tahunan ahli ekonomi tahun 2019 di Atlanta Amerika, sebuah paper utama yang ditulis David H Autor, dan diterbitkan dalam American Economic Review (AER) tahun 2020 telah membahas tentang peta pekerjaan masa depan.

Sengaja paper itu melihat bagaimana perubahan (peningkatan dan penurunan pekerjaan) selama kurun waktu 40 tahun (dari data 1970 sampai akhir 2010). Dan menemukan bahwa pekerjaan profesi, dan keperluan managing, terlihat meningkat tajam pertumbuhannya. Ini pada kelompok mereka yang berpendidkkan tinggi.

Sementara mereka yang hanya berpendidikan sampai tamat SMA akan semakin sulit dipakai di pasar kerja. Jumlah mereka digantikan oleh inovasi teknologi digital, dan pengurangannya sebagai akibat peningkatan produktivitas kerja.

Sementara World Economic Forum (2020) memperkirakan sebesar 51 persen tenaga kerja yang ada sekarang di Amerika Serikat memerlukan training ulang “re-training”.

Dua hal penyebab perubahan dari permintaan tenaga kerja, selain alih teknologi akibat inovasi, covid-19 membuat pekerjaan serba berubah.

Pekerjaan robotik pelan pelan menggantikan manusia, diperkirakan sampai 2024 di negara maju robot akan menggantikan pekerjaan manual sampai 30 persen.

Bagi Indonesia sangat relevan sekali informasi ini. Apalagi mobilitas tenaga kerja dan modal semakin bebas. Jumlah pencari kerja serta lay off pekerjaan menaik. Diperkirakan sampai 13-14 juta orang.

Subsidi upah bagi pekerja beri upah rendah dan penyediaan biaya bagi pencari kerja esensinya tidak akan terwujud, kecuali hanya menggenjot permintaan. Dalam jangka pendek tidak efektif mengingat alokasinya tidak mengarah pada penyiapan bisnis dan keterampilan.

Masih banyak pekerjaan yang khas yang mesti disiapkan saat sekarang yang berdampak jangka panjang.

Menemukan jalan ke luar lewat penyiapan tenaga kerja yang menguasai daring bisa.

Tapi itu bisa dipastikan hanya sementara. Mengingat permintaan agregate masib merangkak lamban naiknya. Ini hanya terutama dipicu oleh peningkatan konsumsi.

Tantangan tenaga kerja kita selain peningkatan permintaan adalah peningkatan dan penyesiaian keterampilan.
Paper di atas sepakat bahwa pendidikan tinggi diperlukan oleh tenava kerja apapun jenis dan status pekerjaanya.

Yang mungkin dapat dilakukan oleh pemerintah daerah adalah bagaimana meningkatkan keterampilan dan keterampilan yang diseuaikan dengan perkembangan ekonomi daerah.

Sekarang baik yang putus sekolah hingga SMA maupun yang tamat PT masih belum memiliki kemahiran dalam jenis pekerjaan.

Semestinya kita merapikan lagi keterampilan keterampilan kerja yang memiliki prospek pada masa mendatang.

Masalahnya ketika masa covid-19 saja masih ada permintaan terhadap barang dan jasa. Namun tentunya memerlukan inovasi produksi dan marketing yang disesuaikan dengan keperluan pasar.

Berbagai tayangan kisah sukses di Metro atau Kompas TV jelas memperlihatkan bahwa mereka yang berhasil adalah memiliki kegigihan, dan inovasi baru dalam bekerja.

Semangat untuk memetakan ini perlu. Dan kemudian dapat disediakan pusat pusat keterampilan pemuda di kecamatan kecamatan.

Implikasinya pada pendidikan tinggi adalah diperlukan penyesuaian bahan dan kurikulum serta kompetensi alumni PT pada masa yang akan datang.

Oleh Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan disikapi dengan menawarkan kampus merdeka. Kampus yang diberi otonomi untuk menetapkan bagaimana alumninya melalui proses pendidikan di luar departmen, lintas ilmu dan terkait dengan praktek.

Sehingga keperluan mendatang tidak saja penguasaan kognitif, tapi juga kemampuan psikomotorik, soft skills dan kesolehan alumni.

Komponen komponen capaian yang baru ada pada dimensi kognitif itupun terlalu luas. Ukuran mahasiswa seharusnya mampu menguasai keterampilan manajemen untuk mengeksekusi proyek yang menjadi pilihan mereka.

Di negara seperti Amerika Serikat mereka berupaya sekarang mengisi ulang kemampuan dan keterampilan TK dengan program re-skilling.

Perlu penyusunan peta tenaga kerja secara geografis. Ini diiringi dengan penyediaan proses keterampilan, pemahaman proses bisnis dan perbaikan tekat untuk bangkit dan sungguh sungguh.

Dari sekian agenda masa depan yang serius, masalah tenaga kerja dan perluasan lapangan kerja yang paling serius.(analisa)