Gubernur Mahyeldi Apresiasi Kepedulian IASMA 1 Landbouw Bukittinggi Terhadap Pasien Bibir Sumbing di Sumbar.

oleh -726 views
oleh
726 views

SAWAHLUNTO – Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah membuka kegiatan bhakti sosial operasi bibir sumbing yang digelar oleh Ikatan Alumni SMA 1 Landbouw Bukittinggi di RSUD Sawahlunto. Sabtu (13/1/2024).

Gubernur Mahyeldi yang juga merupakan alumni SMA 1 Landbouw mengapresiasi aksi yang secara rutin telah digelar IASMI SMA 1 Landbouw Bukittinggi dalam beberapa tahun terakhir dibeberapa daerah di Sumatera Barat.

“IASMI Landbouw telah melakukan kegiatan yang sama di banyak tempat, hebatnya itu dilakukan secara konsisten. Terima kasih dari kami kepada seluruh alumni IASMI SMAN 1 Landbouw Bukittinggi lintas generasi,” ujar Mahyeldi.

Ia mengaku bersyukur, selain IASMI SMA 1 Lanbouw Bukittinggi, juga ada beberapa organisasi lainnya yang begitu peduli terhadap masa depan pasien bibir sumbing dan cekah bibir. Menurutnya, itu berarti pemerintah tidak sendiri dalam mengatasi fakta sosial ini.

“Ini bukan hanya tentang tindakan pemulihan secara medis, tapi juga psikologis. Sehingga manfaatnya begitu besr bagi pasien penyandang bibir sumbing dan celah bibir,” jelas Mahyeldi.

Sementara itu Pj Wali Kota Sawahlunto, Zefnihan yang juga merupakan alumni dari IASMA 1 Landbouw menyebut bangga pelaksanaan bhakti sosial itu dilaksanakan di RSUD Sawahlunto.

“Ini sekaligus menunjukkan pengakuan terhadap kualitas pelayanan kesehatan di Sawahlunto,” katanya.

Kemudian Ketua Panitia Bhakti Sosial Operasi Bibir Sumbing IASMA 1 Landbouw, Arfida Pepi mengatakan kegiatan bakti sosial ini diikuti oleh 18 orang anak yang berasal dari berbagai kabupaten/kota di Sumbar.

“Bakti sosial kita kali ini, diikuti oleh 18 orang anak dengan skema tindakan medis yang berbeda, ada yang melakukan operasi pertama, operasi kedua dan operasi ketiga, tergantung analisis dokter terhadap masing-masing pasien,” ucapnya.

Usai mendapatkan perawatan, secara umum keluarga para pasien mengaku sangat bersyukur. Bagi mereka, operasi secara mandiri secara biaya masih tergolong berat, apalagi sebagian besar diantaranya berasal dari masyarakat kurang mampu. (adpsb/Bs)