Hambatan Perempuan Dalam Politik

oleh -186 views
oleh
186 views
Nugel Dwiputra, Mahasiswa FISIP. UNAND. (dok)

Oleh: Nugel Dwiputra

Mahasiswa Ilmu Politik UNAND

PEREMPUAN bukanlah aktor politik yang dominan dalam ranah politik nasional pada berbagai negara.

Hal ini dibuktikan pada periode 2019-2024, hanya 120 orang perempuan yang mampu menduduki kursi DPR RI yang total 560 orang.

Jumlah ini merefleksikan bahwa representasi perempuan pada kursi parlemen masih jauh dari cukup untuk memperjuangkan dan mengangkat isu perempuan pada ranah parlemen sehingga perlu adanya usaha agar meningkatkan representasi tersebut.

Representasi perempuan memainkan peran penting dalam pengelolaan dan peningkatan kualitas isu perempuan dalam politik.

Terlepas dari usaha untuk meningkatkan representasi perempuan pada parlemen, terdapat berbagai bentuk hambatan intrinsik yang ada pada perempuan yang mana menghambat perempuan untuk berjuang lebih dalam peran politiknya.

Hambatan yang dialami kaum perempuan dalam menjalankan perannya yaitu hambatan kultur sosial masyarakat, hambatan psikologis, dan hambatan ekonomi.

Hambatan kultur sosial dan masyarakat yang dimaksud ialah adanya pandangan masyarakat yang masih menilai perempuan tidak seharusnya untuk terjun pada urusan politik dan sebaiknya mengatur urusan domestik keluarga saja (mengurus rumah, mengurus anak, mengurus suami).

Pandangan ini mengakibatkan perempuan tidak mendapat dukungan di berbagai langkahnya dalam memasuki dunia politik. Hal ini juga menjadi faktor rendahnya dukungan kepada calon perempuan karena dinilai tidak layak untuk menjadi seorang pemimpin.

Hambatan psikologis yang ada pada diri perempuan ialah rendahnya rasa percaya diri dalam bersaing dengan laki-laki dalam pemilu. Hal ini terkait juga dengan hambatan kultural yang ada yang mana sangat memengaruhi perempuan sehingga memiliki pola pikir tersebut.

Rasa percaya diri yang rendah ini mengakibatkan perempuan untuk enggan dalam melanjutkan proses berpolitiknya dan berujung kurangnya perempuan dalam politik.

Hambatan ekonomi juga memainkan peran yang besar dikarenakan pemilu merupakan kegiatan yang tidaklah murah. Modal ekonomi yang rendah mengakibatkan perempuan sangat kecil kemungkinan untuk menang dalam aspek kampanye, terlebih apabila dibandingkan dengan laki-laki yang biasanya memiliki modal ekonomi yang lebih tinggi.

Hambatan ekonomi ini juga mengakibatkan tingginya rasa enggan bagi perempuan untuk mencoba dikarenakan tidak ada jaminan bahwa uang yang digunakan akan kembali pada akhirnya.

Hambatan di atas merupakan sedikit dari banyaknya permasalahan yang dirasakan perempuan dalam mendobrak realita politik yang ada pada saat ini.

Kunci dari keberhasilan bagi meningkatkan representasi perempuan di parlemen jatuh kembali kepada perempuan secara umum untuk saling mendukung antar sesama. Dengan begitu barulah perempuan memiliki kesempatan lebih agar berhasil mengisi kursi parlemen dan membawa perubahan yang telah dinantikan.(analisa)