Hari Perempuan Internasional dan Perjuangan Tokoh Minang

oleh -276 views
Rasuna Said, kisahnya didedikasikan untuk Peringatan Hari Perempuan se Dunia, 9 Maret 2020. (foto:.dok/google)

Oleh : Usman Manor                                 Abdi Muda Indonesia (abdimuda.id)

KAUM perempuan di dunia, khususnya di Indonesia mempunyai kedudukan dan peran yang penting dalam menentukan jalannya sejarah di samping perannya dalam rumah tangga. Tak heran, setiap tanggal 9 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) sebagai upaya menghargai hak dan martabat perempuan yang turut menentukan alur sejarah di dunia, termasuk di Indonesia.

Jika kaum laki-laki memiliki “Singa Podium” seperti Ir. Soekarno, kaum perempuan juga memiliki Rasuna, “Sang Singa Betina”. Rasuna Said yang memiliki nama lengkap Hajjah Rangkayo Rasuna Said merupakan salah satu dari sekian banyak perempuan yang berjasa dalam proses nation and state building di Indonesia. Sebagai wujud penghormatan atas jasanya, nama Rasuna Said diabadikan sebagai nama jalan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Rasuna Said lahir saat pemuda-pemudi sedang menggelorakan semangat kebangkitan nasional dan anti kolonialisme yang dipelopori oleh munculnya organisasi Budi Utomo. Ia lahir di Maninjau, Sumatera Barat, tanggal 15 September tahun 1910. Situasi dan kondisi pergerakan nasional kala itu membentuk pribadi Rasuna Said muda sebagai perempuan yang religious dan anti kolonialisme. Sejak kecil ia tinggal bersama pamannya karena ayahnya telah meninggal dunia. Ia didik dan diajarkan pendidikan Islam mulai dari sekolah dasar. Setelah itu, ia pindah ke Padang Panjang dan masuk ke Sekolah Diniyah Putri.

Saat belajar di Sekolah Diniyah Putri, ia mengenal Rahmah El Yunusiah, Rohana Kudus, dan Zainuddin Labai El Yunus. Perkenalan ini mulai membuka pikirannya tentang Islam dan pentingnya pendidikan. Ia kemudian berkenalan dengan Haji Udin Rachmany yang saat itu memimpin Sekolah Thawalib. Haji Udin Rachmany inilah yang banyak mengajarkannya mengenai politik, gerakan pembaruan Islam dan pidato.

Rasuna Said kemudian mulai aktif berorganisasi politik dengan menjadi anggota Sarikat Rakyat yang berafiliasi dengan Partai Komunis atas ajakan dari Haji Udin Rachmany pada tahun 1926. Selain aktif dalam Sarikat Rakyat, Rasuna Said yang akrab dengan sapaan Kak Una juga aktif mengajar pelajaran kewanitaan di Sekolah Diniyah Putri. Ketika terjadi pemberontakan komunis di daerah Silungkang pada tahun 1927, Rasuna Said dan Haji Udin Rachmany disinyalir terlibat oleh pemerintah Hindia Belanda sehingga Sarikat Rakyat dibubarkan.

Pasca pemberontakan ini pemerintah Hindia Belanda bertindak lebih represif terhadap organisasi kepemudaan. Hal ini justru membuat Rasuna Said semakin tertantang dan membuktikannya dengan ikut serta dalam Partai Sarikat Islam pada tahun 1928. Ia dipercaya menjadi ketua cabang Maninjau.

Pada tahun 1930, Rasuna Said bergabung dengan Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI). Bersama dengan Rasimah Ismail dan Ratna Sari, ia menjadi propagandis perempuan yang mengkampanyekan modernisasi pendidikan, persamaan hak antara perempuan dan laki-laki, reformasi pergerakan Islam, serta kemerdekaan Indonesia. Dalam setiap kesempatan, terutama saat mengajar di Sekolah Diniyah Putri, ia menanamkan pentingnya politik dalam upaya keluar dari belenggu penjajah. Saat Rasuna pindah ke Padang pada tahun 1931, ia berkenalan dengan pemimpin PERMI, yaitu Muchtar Loethfi.

Pasca diasingkannya Muchtar Loethfi ke Bogen Digul, kepemimpinan PERMI diambil alih oleh Rasuna Said. Sejak tahun 1931, bersama dengan Muhammadiyah, PERMI mulai diawasi dengan ketat. Bahkan Gubenur G. F. E. Gonggrijp menyurati Gubernur Jenderal De Graeff yang menyatakan bahwa PERMI dan Muhammadiyah tidak loyal dan bersikap anti-Barat.
Setelah Indonesia diakui kedaulatannya oleh Belanda dan memiliki bentuk negara Serikat, Rasuna menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Serikat (DPR RIS). Ia memiliki kedekatan dengan Soekarno. Dalam beberapa kesempatan Soekarno sering menanyakan pendapat Rasuna mengenai kebijakan politik.

Beberapa tokoh politik yang berasal dari Sumatra saat itu mayoritas bergabung dengan Partai Masyumi, namun Rasuna tidak mengikuti jejak para tokoh-tokoh tersebut. Saat situasi Sumatera mulai tidak kondusif dengan munculnya isu pemberontakan yang akan dilakukan oleh Kolonel Achmad Husein, ia menemui Achmad Husein dan memberikan nasihat untuk membatalkan rencana tersebut. Ia pun memberikan pandangan untuk tetap setia pada Republik.
Kiprahnya dalam bidang politik tidak berakhir sampai di situ.

Rasuna kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung pada masa Demokrasi Terpimpin, yaitu tahun 1959 hingga akhir hayatnya. Rasuna menghembuskan nafas yang terakhir pada 2 November 1965. Sepanjang hayatnya, Rasuna memegang teguh sikap progresif, revolusioner, dan pantang menyerah. Rasuna telah membuktikan bahwa seorang wanita tetap mampu untuk mandiri, menginspirasi dan menggoreskan tinta sejarah dalam upaya menyatukan bangsa dan negara. Mentalnya yang ditekan oleh kondisi penindasan kolonialisme tidak membuatnya surut untuk tetap berevolusi dan menjadi cahaya bagi kegelapan yang saat itu tengah melanda bangsanya. Baginya, kemerdekaan terbagi dalam tiga unsur penting, yaitu keislaman, kebangsaan, dan kewanitaan. Kemerdekaan tidak hanya sebatas pada terbebas dari belenggu penjajah, namun kemerdekaan memberikan makna yang lebih luas; Merdeka itu Terdidik, Tersadar dan Tercerahkan.(analisa)