Hari Randang Internasional, Perlukah

oleh -92 views
Hari Rendang Internasional perlukah?

Oleh : Sirajul Fuad Zis

SETIDAKNYA ide dan konsep membuat Hari Randang Intenasionalini sudah pernah saya tulis di mediaharapan.com sekitar Julitahun 2019 lalu. Dengan melirik randang sebagai kuliner asal Minangkabau patut dilestarikan karena memikat perhatiandunia, berbagi potensi yang bisa dirasakan manfaatnya untukpertumbuhan ekonomi masyarakat Minangkabau kedepannya.

Randang kuliner asal Sumatera Barat yang pernah sukses masukdaftar 50 hidangan nikmat berkelas dunia pada tahun 2011 dan2017 versi CNN Travel, bahasa minangnyo masuak  ka daftar 50 hidangan talamak di dunia. Randang sebagai kuliner beradadiposisi pertama, tentu sudah seharusnya dipertahankan bahkandijadikan peluang untuk mengekspor randang lezat yang dibuatoleh Ibu-Ibu di Minangkabau. Kemudian dikirim ke berbagaibelahan dunia. Atau mencoba menghadirkan sebuah konsepvariasi randang. Ada randang daging, ayam, itiak, talua, ikan, paru, pensi, lokan, dan hati.

Setelah berusaha untuk menyampaikan ide-ide ini kepadabeberapa tokoh dan teman selama kurun waktu setahun, tampaknya gayung belum bersambut distribusi pesan-pesan ide tersebut belum menarik perhatian. Dipikir dan direnungkan, perlu kekuatan komunikasi yang lebih besar agar agenda initerwujud.

Konsep ini boleh digunakan oleh siapapun yang inginmembangun nagari, baik itu untuk kepentingan pribadinya, kepentingan politik yang jelas ada progres ekonomi di Minangkabau. Sebenarnya Kota Payakumbuh tepat untukmenyelanggarakan ide ini, karena identitas kota tersebut dikenalsebagai Kota Randang (city of randang).

Barangkali di masa krisis ini, belum memungkinkan ide initerwujud. Setidaknya ini adalah gambaran peluang besar yang bida diwujudkan pada tahun 2021 atau tahun-tahun berikutnya.Bisa saja memulai perencanaanya dari sekarang.

Sebelum melangkah lebih jauh, memang perlu memaknaifilosofi randang sesungguhnya dan melakukan riset yang lebihmendalam. Kalau ado sanak nan saiyo sakato, buliahlah kitomaota lamak tantang randang untuak nagari.

Bahasa lebih enak didengar dalam penyampaian ide ini sepertiyang disampaikan oleh seorang penulis asal merika Max LucadoNo one can do everything, but everyone can do something”.

Konsep

1. Hari Rendang Internasional sebagai wujud melestarikankuliner yang berasal dari Minangkabau agar semakindikenal oleh dunia.
2. Meningkatkan ekonomi masyarakat Minangkabau, dengankeahlian Ibu-Ibu membuat randang yang nikmat dan lezat. Artinya ada gerakan ekonomi berbasis kearifan lokal.
3. Mengadakan Hari Randang Internasional, denganmengundang tamu-tamu dari nasional dan Internasionaldengan makan randang akbar bersama. Hari randang dapatsebagai roda perputaran ekonomi terbesar di Sumatera Barat, dengan menghitung banyak tamu yang datang dariberbagai daerah dan negara, pemotongan sapi sebelum harirandang, terjualnya randang Ibu-Ibu Minangkabau, sewahotel juga laris, oleh-oleh Minangkabau terjual dankunjungan ke tempat wisata. Banyak keuntungan yang didapat dalam Hari Randang.
4. Membuat lomba randang terbaik yang pernah ada di Sumatera Barat. Lomba ini tidak harus repot-repotmembawa kompor dan peralatan masak. Cukup denganmembawa hasil masakannya, kemudian diserahkan kepadapanitia. Setelah itu dinilai oleh juri.
Target
1. Meningkatnya Ekonomi Masyarakat di Minangkabau
2. Mendapatkan Rekor Muri sebagaiPeserta MakanRandang Terbanyak
3. Promosi Randang sebagai kuliner identitas Minangkabau di wajah Internasional. (analisa)