ICGCS 2021 Digelar… Tingkat Perceraian Tinggi Jadi Sorotan Ahli

oleh -233 views
ICGCS 2021 digelar secara zoom meeting online diikuti 50 penyaji berkaliber ahli, Senin 30/8-2021. (dok)

Padang,— Hari ini menjadi first time pelaksanaan International Conference on Gender, Culture and Society 2021 (ICGCS 2021). ICGCS 2021 secara virtual zoom.

Konferensi internasional ini dimulai dengan opening speech Ketua 1st ICGCS 2021, Dr. Ike Revita, M.Hum. Ike menyampaikan tujuan dari penyelenggaraan conference ini yaitu untuk mempromosikan wawasan dan diskusi baru mengenai perspektif global saat ini.

“Yang tetap mempertimbangkan perbedaan pendekatan bidang akademik dan mata pelajaran dari waktu ke waktu, negara dan sektor ekonomi dengan implikasinya,” ujar Dr Ike Senin 30 Agustus 2021.

Selain itu ICGCS 2021 untuk meningkatkan dan berbagi pengetahuan ilmiah tentang penelitian gender, anak dan keluarga.

Ketua Asosiasi Pusat Studi Wanita, Gender, Anak dan Keluarga Indonesia (ASWGI), Prof. Emy Susanti, MA dan Rektor Universitas Andalas, Prof. Yuliandri, SH., MH juga turut membuka ICGCS 2021 tadi.

ICGCS 2021 diselenggarakan Pusat Pengembangan Gender, Anak, dan Keluarga (PPGAK) Universitas Andalas dan ASWGI Indonesia. PPGAK Universitas Andalas saat ini diketuai oleh

Dr. Jendrius, M.Si. ICGCS sendiri untuk pelaksanaannya akan dilakukan secara virtual dengan menggunakan aplikasi Zoom Online Meeting.

“Dalam kondisi pandemi covid-19 yang belum kunjung usai ini, penyelenggaraan 1st ICGCS 2021 secara virtual diharapkan mampu menjadi media dan juga pioneer tempat bertemunya para scholar, civitas akademika, peneliti, akademisi, mahasiswa, pembuat kebijakan, pemerhati masalah gender serta lembaga pembangunan nasional maupun internasional dalam upaya menyiapkan langkah-langkah dalam menghadapi tantangan yang berkembang terhadap kesetaraan gender dan inklusi sosial,” ujar Dr Jendrius MSi.

Dari penyelenggaraan 1st ICGCS 2021 kaga Jendrius diharapkan adanya suatu keputusan dan juga kesepakatan sehingga persoalan gender di ranah nasional dan internasional dapat diminimalisir.

“Seperti kita ketahui permasalahan ketidaksetaraan gender (gender equality )masih terus menerus terjadi hingga saat ini di seluruh penjuru dunia. Akar permasalahan dari masih banyaknya terjadi ketidaksetaraan gender antara lain pola asuh (nurture) dan budaya (culture) yang melekat didalam suatu daerah. Dari beberapa hasil riset juga dilaporkan bahwasannya melalui pola asuh netral gender juga mampu mendorong anak untuk menggali minat, bakat, karir dan hobi yang diinginkan,”ujar Direktur PGAK Unand itu.

1st ICGCS 2021 diketuai oleh Dr. Ike Revita, M.Hum dengan Andri Rusta, S.IP., M.PP sebagai sekretaris akan berlangsung sampai Selasa (31 Agustus 2021)

“ICGCS ini sampai besok dengan menghadirkan pembicara-pembicara dari tujuh negara yakni Jepang, Australia, Amerika Serikat, Canada, Malaysia, Inggris, dan Indonesia,*ujar Andri Rusta.

Lima keynote speaker kata Andri tampil memberikan materi secara virtual untuk menyampaikan berbagai diskusi dan topik menarik mengenai gender, yaitu:

1. Prof. Alimatul Qibtiyah, MA, Ph.D. (UIN Sunan Kalijaga/Komnas Perempuan)

2. Dr.Jendrius, M.Si (Universitas Andalas)

3. Prof. Hiraishi Noriko, Tsukuba University Jepang

4. Dr. Adis Duderija (Griffith University, Australia)

5. Dr. Bernadette P.Resurrecion (Queen’s University,Canada)

“Hari pertama tadi total peserta hadir pada 1st ICGCS 2021 ini sebanyak 135 penyaji dari 50 institusi, tidak hanya universitas tetapi juga NGO serta Lembaga riset negara, seperti. Nagoya University Jepang, Portsmouth University Inggris, Universiti Kebangsaan Malaysia, Women Research Institute dengan berbagai sub tema,”terang Andri Rusta.

Adapun luaran kegiatan ini direncanakan dipublikasikan di prosiding terindeks Scopus dan jurnal nasional terareditasi Sinta. Pada hari pertama ini, ada tiga pembicara kunci yakni Dr. Bernadette P Resurreccion dari Queen University, Canada, Dr. Jendrius dari Universitas Andalas, Indonesia dan Dr. Adis

Duderija dari Griffith University Australia.

Dr. Bernadette P. Ressureccionmenjelaskan kaitan antara gender and climate change dimana dalam program clean and green yang mendukung kesehatan lingkungan serta kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana tidak selalu adil atau setara bagi semua gender, masih ada beberapa pihak yang termarginalkan seperti perempuan yang tidak terlibat dalam prosesnya.

“Keynote speaker dari Indonesia yang saat ini juga sebagai Ketua PPGAK, Dr. Jendrius, M.Si melalui presentasinya melaporkan terkait perceraian di mana menurut Jendrius pada 10 tahun terakhir terjadi peningkatan kasus perceraian di Indonesia,” ujar Andri mereview konferensi tersebut.

Kasus cerai gugat kata Jendrius di materinya juga mengalami peningkatan, hal ini tampak pada data dari Pengadilan Agama.

“Kasus perceraian lainnya yang juga banyak terjadi adalah cerai ghaib yang didefinisikan sebagai tidak diketahuinya keberadaan dari suami / istri yang menggugat,” ujar Jendrius

Selain itu masih menurut Jendrius, perceraian tidak bisa dianggap sebagai hari kiamat bagi keluarga atau pasangan, bahkan perceraian bisa dianggap menjadi suatu konsekuensi positif dari hidup berpisah tetapi bersama.

Dr. Adis Duderija, pembicara dari Griffith University dalam sesi presentasinya memaparkan tentang bagaimana interpretasi Al-Qur’an dan Hadist yang berdampak pada pemahaman tentang peran perempuan dan laki-laki yang mengakibatkan munculnya bias gender.

“Dengan banyaknya ahli interpreter laki-laki menjadikan interpretasinya menjadi cenderung patriarki,” ujar Adis.

Adis mencontohkan surah An-Nisa’, ayat 34 hasil translasi Al-Qur’an oleh Prof.Abdul Haleem yang merupakan pakar translasi Al-Qur’an dari Oxford University memiliki perbedaan translasi dengan konsep qawaamuuna dengan menyebut suami harus menjaga istrinya.

“Sementara Tafsir dari Islam Klasik (Al-Zamakhshari (1070-1143) dalam 4:34 yang menyebut laki-laki adalah pemimpin yang memiliki arti sebagai yang mengarahkan ke kebaikan dan mencegah kepada kekufuran,” ujar Adis.(rls/ar)