Ingat Pesat Bung Hatta, PSI Sumbar Minta Pemprov Kembangkan Potensi Cagar Budaya

oleh -196 views
oleh
196 views
Rizki ingatkan Pemprov Sumbar lebih intens awasi dan kebangkan potensi cagar budaya,, Jumat 3/3-2023.(dok)

Padang – Belajar dari kasus perobohan cagar budaya Rumah Singgah Bung Karno di Padang yang heboh dan mengundang beragam kecaman itu.

“Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sumbar meminta Pemprov Sumbar dan seluruh kabupaten/kota se-Sumatera Barat untuk menginventarisir ulang cagar-cagar budaya yang,” ujar Sekretaris DPW PSI Sumbar, Nofria Atma Rizki kepada media, Jumat (3/3-2023.

Kata Rizki, hal ini penting dilakukan untuk mengetahui dan melestarikan cagar-cagar budaya yang ada di sumatera barat.

“Berdasarkan data dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat terdapat 736 cagar budaya tersebar di 19 kabupaten/kota di Sumatera Barat,” ungkapnya.

Data-data tersebut, menurut Rizki, perlu dipastikan lagi faktualnya di lapangan. Selain itu, tokoh muda di pentas politik Sumbar itu, BPCB Sumatera Barat sebagai unit pelaksana teknis yang bertugas melaksanakan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya perlu mensosialisasikan kepada masyarakat tentang cagar-cagar budaya di Sumatera Barat.

“Agar masyarakat juga tahu cagar-cagar budaya kita dan terlibat aktif dalam melestarikannya, Kmi meminta kepada Pemprov Sumatera Barat agar mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi di Kota Padang,” katanya.

Dengan banyaknya cagar-cagar budaya yang ada daerah ini, hendaknya semua pihak termasuk masyarakat lebih peduli, ternyata Sumbae ini negeri pejuang dan budaya.

“Mari gali dan kembangkan potensi cagar-cagar budaya kita. Misalkan dalam rangka mengembangkan potensi pariwisata di sumatera barat. Sehingga cagar-cagar budaya kita tidak hanya lestari tapi juga memberi manfaat dan arti bagi masyarakat Sumatera Barat,” harapnya.

Terakhir, Rizkingin menyampaikan apa yang pernah disampaikan oleh Bung Hatta, Sang Proklamator Kemerdekaan dari Ranah Minang

“Bangsa Indonesia yang bersatu, sejahtera kehidupannya, demokratis penyelenggaraan negaranya, dan negara itu bukan saja sebuah negara hukum tetapi juga negara kultural,”ujat Rizki.

(*rt)