Inilah Kisah Para Pendamping Desa

oleh -520 views
Syafril, seorang pendamping desa di Kecamatan Padang Sago, Kabupaten Padang Pariaman akui awal tugas sempat tak dikehendaki (foto: mediacenter-tjdkemendes)

Kehadirannya Sempat Ditolak

Padang Pariaman,—Tak seperti tempat bekerja dibayangkan, menjadi pendamping ternyata punya cerita dan pengalaman yang berkesan ketika memulai tugas menjadi pedamping kala dana desa dikucurkan.

“Ada nagari yang tak berkenan menerima kehadiran pendamping desa. Mereka beranggapan seakan-akan membatasi ruang geraknya, padahal tidak,”ujar Syafrizal, menceritakan kisahnya kerika memulai pekerjaan sebagai pendamping desa saat Tim Jelajah Desa berkunjung ke Padang Pariaman 9 Juni lalu.

Syafrizal merupakan pendamping desa (nagari) di Kecamatan Padang Sago, Kabupaten Padang Pariaman, sejak November 2017. Sebelumnya, lelaki itu pernah bekerja di PNPM di Kabupaten Pasaman Timur.

“Saya tertarik menjadi pendamping desa agar bisa berkomunikasi dengan masyarakat dalam membantu program pemberdayaan pemerintah,”ujarnya.

Meski mendapat penolakan seperti itu, tidak menyurutkan tekad Syafrizal menjadi pengabdi dan memberdayakan program dana desa Kemendes PDTT.

“Wajar, tahap awal disambut begitu, itu tantangan, sebagai pendamping desa, cara penyambutan seperti itu harus dijadikan motivasi baginya. Percayalah lambat tapi pasti, masyarakat pun menerima kehadiran kita sebagai pendamping desa,”ujarnya.

Ayah dari Angga Emirisa Putra, Noval Mukti Arif, Saskia Fatina Nabila, ini menyadari bahwa peran pendamping desa sangat krusial sekali dalam keberhasilan program pemerintan. Jika program itu gagal, pendamping desa akan disorot.

“Meyakini mereka dengan sering berkunjung dan memberikan pemahaman kepada mereka bahwa pendamping desa itu mendampingi mereka supaya tidak salah langkah,”ujar Syafrizal.

Syafrizal, menyampaikan, setiap pendamping desa ada dua orang di tiap-tiap kecamatan. Dengan masing-masing memberdayakan tiga sampai 15 nagari.

“Saya mendampingi enam nagari di Kecamatan Padang Sago, yakni Nagari Batu Kalang, Nagari Koto Dalam , Koto Dalam Selatan, Koto Dalam Barat, Nagari Koto Dalam Utara dan Nagari Koto Baru,” ujar Syafrizal.

Di antara nagari yang tidak berkenan itu, tuturnya, masih ada juga masyarakat nagari yang bersedia menerima kehadiran pendamping desa.

“Bagi masyarakat yang koperatif, yang ingin nagarinya maju, mereka sangat terbuka dan sekali. Bahkan bersedia mendengarkan dan mengerjakan arahan yang diberikan,”ujarnya.

Program-program pendampingan yang sudah dilakukannya sudah nyata hasilnya oleh masyarakat. Upaya masyarakat untuk mandiri sudah sangat terlihat adanya karena sudah ingin maju.

“Sebab itu, saya selalu menyakini masyarakat harus terus menerus berusaha, jangan cepat puas, tanamkan semangat yang kuat,” ucapnya.

Nyaris Disengat Lebah

Lain cerita Syafrizal, lain pula kisah Alva Anwar kepada crew media center tim jelajah desa Kemendes PDTT, Alva mengaku nyaris disengat lebah.

“Saya menjadi pendamping di nagari yang berbatasan dengan Kabupaten Agam, jarak sekitar satu jam perjalanan. Bahkan, untuk menuju nagari dampingan, sepeda motor saya pernah mogok, jalannya buruk, apalagi jika hujan. Saya pun nyaris digigit lebah saat menuju ke lokasi, karena ada orang mengambil Cempedak di batang yang ada sarang lebahnya,”ujar Alva teringat kisah awal penugasannya.

Alva, pendamping desa atau Nagari Tigo Koto Aur Malintang Timur, Nagari Tigo Koto Aur Malintang Utara, yang perbatasan antara Kabupaten Padang Pariaman dengan Agam, Lubuk Basung, dia bertekad ingin berhasil. Alva Anwar ingin memanfaatkan segala potensi yang ada di nagari itu.

“Kedua nagari ini punya potensi, terutama sekali potensi wisata dan juga di sektor pertanian. Dengan memaksimalkan potensi ini, dapat memberikan income  kepada nagari,” ujar Alva, alumni Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Syekh Burhanuddin, Pariaman.

Staf Ahli Kebijakan Strategi Mendesa PDTT, H. Febby Dt Bangso, menyebutkan pendamping desa di seluruh Indonesia sebanyak 38 ribu orang, di Sumbar 831 orang.  Anggaran yang dikeluarkan untuk pendamping desa pertahun lebih dari Rp 2 triliun.

“Pendamping desa terus melakukan upaya-upaya profesionalisme. Selaku tenaga pendamping mereka terus bekerja membantu, mengawal, menginformasikan apa-apa yang menjadi pijakan bagi para perangkat desa menyusun APBdesnya,”ujar Febby.

Pendamping desa merupakan perpanjangan tangan Kementrian Desa PDTT,  peran pendamping desa harus dioptimalkan agar tercipta sinergi informasi dan komunikasi untuk mendampingi perangkat desa.

“Jadi, para perangkat desa tidak boleh juga merasa enggan tidak boleh merasa kurang nyaman kalau ada pertanyaan yang diajukan oleh pendampin desa. Semua itu dilakukan dalam rangka pengawalan agar kita semua berjalan on the track,”ujar Febby.(*rilis:  media-partner -tjdkemendesa)