Integrated Minangkabau Culinary

oleh -76 views
iBumi kuliner viral di Anai Padang Pariaman. (dok)

Oleh Elfindri/ Direktur SDGs Center

BAPAK dan ibu, percayalah ketika wisatawan datang ke Sumatra Barat, apa jawaban jika mereka datang ke Ranah Minang.?

Saya yakin pasti jawabannya adalah mencari kuliner khas Minangkabau. Kuliner khas ini disebut sebagai “slow Minangkabau food culinary”.

Sebuah kajian oleh saudara Intan (2022) yang baru saja lolos program Doktor ilmu ekonomi, dari Universitas Andalas, menemukan makanan asli sebagai salah satu penarik dikunjunginya daerah tujuan wisata. Di Toba sekalioun di daerah non muslim, pengunjung lebih cendrung mencari makanan lokal, serta makanan halal sesuai dengan tipologi agama dari pengunjung.

Pengeluaran untuk kuliner selama perjalanan akan menentukan berapa jumlah uang yang akan beredar dan seberapa banyak titik titik layanan kuliner yang terbuka dimana banyak orang yang bekerja.

Jelas kuliner slow yang tersedia di Sumatra Barat akan melebihi dari kuliner ketika kita mengunjungi daerah atau negara lain.

Tidak saja Rendang, atau Masakan yang mendanpingi nasi, namun juga makanan kecil yang dibuat di lokal, katakanlah lemang tapai, lapek, bika, kerupuk kerupuk.

Teknologi tampilan sangat menjadi perlu kita perbaiki dan tata secara terus menerus.

Namun selain dari culinary, jangan lupa bahwa “costumer oriented” menjadi sangat diperlukan. Layanan sekali layanan yang mampu menterjemahkan keperluan kostumer.

Para penikmat makanan mereka juga memerlukan pelayanan saat dan setelah berbelanja. Mulai dari penyambutan, duduk dan menawarkan menu, termasuk yang juga akan dibawa sebagai oleh oleh. Layanan semua ini mesti terintegrasi.

Kakau mungkin juga para touris dioerlihatkan lokasi dimana makanan dibuat, beserta standar standar yang diterapkan selama proses produksi.

Sesekali mereka memerlukan toilet umum yg super bersih di lokasi tempat mereka mencicipi makanan, termasuk segala fasilitas penunjang.

Suatu saat, jika ada titik titik culinary yang baru dikembangkan di minang ini, maka wisatawan akan lebih terkesan tentunya.

Sebagai contoh, dengan dibukanya resrort baru iBumi di Malibo Anai, Padang Pariaman, maka tipologi daerah tujuan wisata yang seperti ini yang diperlukan oleh masyarakat. Selain tempatnya bersih, lokasi strategis uniq, hargapun terjangkau. Anak anak pun melayani terlatih. Bebas uang parkir adalah sebuah cara terbaik, walau harga per transaksi bisa mrnambahkan biaya oarkirs sekitar Rp 3000.

Penghasilan iBumi kemudian bisa membayarkan PP1 ke Pemda Padang Pariaman. Ini akan banyak manfaatnya untuk kepentingan pembangunan.

Jumlah omzet iBumi belum kita ketahui. Namum perkiraan saya, sorang yang makan dan minum mengeluarkan kocek sekitar Rp 50 ribu. Jika saja sehari ada pengunjung 1000 orang, maka sekitar Rp 50-100 juta penjualan per hari. Setidaknya telah membuka sebanyak 100 orang lapangan kerja, yang pada umumnya anak muda yang terlatih.

Ayo. Jangan tanggung tangung buat daerah tujuan wisata yang membuat para pendatang ke ranah minang menjadi terkesima. Tingkatkan layanan, dan mantapkan kebersihan daerah daerah yang dikunjungi. Semoga kuliner minang selalu berjaya.(analisa)