Jadilah Pemuda Peduli Kampung

oleh -1.185 views
Faldo Maldini Anak Minang pertama Jadi Presiden BEM UI dan Ketua Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Inggris

*Peduli Kampung Jangan Larut di Diskusi Saja*

Faldo Maldini Anak Minang pertama Jadi Presiden BEM UI dan Ketua Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Inggris

Oleh                                                                              Faldo Maldini 

Di bukunya yang berjudul Merantau, Pola Migrasi Suku Minangkabau (1984) Mochtar Naim mencatat, perantau Minang awalnya bergerak dari pusat Minangkabau di Luhak Nan Tiga, yakni Tanah Datar, Agam, dan Lima Puluh Kota, ke sepanjang Pesisir Barat dan Pesisir Timur Sumatera. Ada pula yang merantau hingga Negeri Sembilan, Malaysia. Ketika itu merantau masih dalam konteks mencari daerah koloni dan wilayah usaha. Budaya merantau tersebut masih hidup sampai hari ini sebagai bentuk perjuangan Orang Minang menuju kesuksesan, kesejahteraan bagi kehidupannya.

Di Rantau orang Minang bekerja keras untuk menjadi orang hebat agar suatu hari bisa pulang kampuang. Hari ini,  tidak sedikit Pemuda Minangkabau sudah mulai merantau. Mereka sudah merantau untuk melanjutkan pendidikan atau mencari penghidupan dengan bekerja.

Rantau memang selalu menawarkan pilihan dan peluang yang terbuka untuk berkembang. Pesona Ibukota selalu menggoda bagi orang yang berada di luarnya, sehingga tidak sedikit orang-orang berdesak-desakan untuk mendatanginya.  

Saat Ibukota semakin sesak dimasuki setiap warga, saat itu pula negara ini terasa berat di Pulau Jawa. Kepadatan penduduk yang tidak merata ternyata menimbulkan permasalahan baru, seperti kemacetan dan ketimpangan d imana-mana. Hal itu semakin diperparah dengan pembangunan yang tidak merata sehingga Indonesia masih belum baik-baik saja.

Oleh karena itu, belakangan banyak muncul gagasan untuk memajukan Indonesia dari daerah karena potensi Indonesia tersebar di seluruh wilayahnya, bukan hanya di Ibukota.

Daerah perlu dibangun untuk menopang pembangunan Bangsa dan Negara karena saat ini kita tidak bisa hanya berharap dari Ibukota saja. Belakangan, sudah ada banyak pemuda yang memilih untuk kembali melirik kampung halamannya untuk berbuat nyata. Mereka menjadi orang yang peduli dengan kampung di mana Ia berasal, untuk turut memajukan Indonesia.

Membangun Indonesia dari Daerah

Gagasan membangun Indonesia dari daerah sebenarnya adalah sebuah perubahan paradigma. Konsep ini harus duduk di kepala dengan sebuah keyakinan bahwa ada banyak hal yang harus diubah di kampung halaman untuk turut dalam upaya membangun Indonesia.

Gagasan ini yang mendorong adanya energi dari Pemuda daerah untuk berkontribusi secara nyata di kampungnya. Jika selama ini Pemuda hanya melihat eksploitasi kekayaan daerahnya tanpa bisa menikmati karena uangnya mengalir ke Ibukota, hal itu tidak bisa terlalu lama dibiarkan lagi.

Pemuda harus mendorong kekayaan dari daerah dimanfaatkan semaksimalnya untuk mendukung kemajuan daerahnya. Kita tentu sudah tidak ingin mendengar lagi, sebuah daerah yang kaya akan minyak bumi namun listriknya saja masih tidak sering menyala. Atau sebuah tanah yang kaya akan emas, namun kondisi kehidupan manusia di sana masih jauh dari rata-rata batas wajar serta anak mudanya masih banyak yang tidak bersekolah.

Kepedulian Secara Bersama

Dunia yang semakin berkembang hari ini semakin menuntut kita melakukan kerja yang di atas rata-rata, salah satunya bagaimana cara peduli ke kampung halaman. Saat ini peduli kampung tidak bisa hanya dilakukan seorang diri saja oleh Pemuda.

Pemuda harus mengajak rekan-rekannya agar bisa merasakan dan melakukan hal serupa. Pemuda harus menularkan kepedulian ini agar bisa memberikan dampak yang jauh lebih besar. Untuk melakukannya para pemuda bisa berjejaring dengan memanfaatkan komunitas/organisasi untuk saling berbagi kepedulian.

Saat ini sudah banyak Pemuda yang membentuk komunitas untuk mengakomodir ide dan semangat tersebut. Untuk Pemuda Minangkabau sendiri sudah mulai tumbuh dan bergeliat kelompok-kelompok Pemuda yang menciptakan kepedulian berjamaah seperti pulangkampuang.com, Anak-Anak minang, Gerakan Muda Mudi Minangkabau, dll.

Dengan adanya komunitas ini, para Pemuda saling mengingatkan akan selalu peduli kepada kampung halaman, walau berada di rantau atau bahkan sedang di kampung.  Mereka bisa dengan cepat turun aksi ketika ada bencana atau bahkan turut mengembangkan budaya Minangkabau di mana pun berada.

Memanfaatkan Teknologi

Peduli dengan kampung halaman bukan berarti harus tinggal dan menetap di kampung halaman. Kepedulian itu bisa mewujud nyata walau  berada di luar dari kampung.

Teknologi adalah jawabannya. Dengan memanfaatkan teknologi, akses informasi dan akses bekerja dan akses untuk berkarya bisa dilakukan dimana saja. Teknologi bisa mendekatkan jarak yang jauh. Bukan hanya Ibukota, luar negeri pun bisa terasa dekat dengan adanya teknologi. Teknologi ini pula yang akan menghantarkan ide-ide pembangunan daerah mengemuka di jagad dunia nyata dan dunia maya.

Dengan teknologi kita bisa melakukan patungan secara online. Dengan teknologi, informasi bencana bisa cepat sampai dan bantuan bisa diberikan secara tepat. Dengan teknologi pula, kolaborasi rantau-kampung bisa semakin mudah. Kita sadari atau tidak, banyaknya grup WhatsApp atau Facebook yang beranggotakan Orang Minang adalah dampak dari teknologi.

Tidak sedikit karya pembangunan dari daerah hanya berawal dari obrolan di dunia maya dan berakhir menjadi tindakan nyata.

Lakukan Aksi Nyata

Gagasan hanya tinggal gagasan jika tidak mewujud dalam satu tindakan nyata. Teknologi hanya tinggal teknologi jika tanpa menghasilkan satu kolaborasi dalam karya. Peduli hanya menjadi obrolan tanpa makna jika hanya larut dalam diskusi saja. Kesemuanya harus disempurnakan dengan melakukan satu aksi nyata. Aksi nyata inilah mendorong para pemuda untuk bisa berbuat untuk kampung halamannya. Dengan aksi nyata pemuda akan semakin bertanggungjawab atas tindakan yang dilakukan dan bisa mengukur dampaknya. Dengan begitu perubahan dan pembangunan yang diharapkan bukan hanya menjadi utopia.

Setiap pemuda harusnya memiliki satu tindakan nyata yang dibuatnya baik secara personal ataupun berorganisasi. Kampung menawarkan banyak masalah yang bisa diselesaikan baik itu pendidikan, kesehatan, kewirusahaan, pertanian, dll.

Setiap lokus permasalahan tersebut menanti uluran tangan para Pemuda yang peduli untuk menyelesaikannya. Tantangan ini perlu disambut para Pemuda dengan kemampuang yang dimilikinya. Bayangkan jika setiap Pemuda yang peduli kampung melakukan satu aksi nyata, hal tersebut akan mendatangkan perubahan besar-besaran melalui tangan para pemuda. Kita tentu mendambakan hal ini terjadi

Konsistensi: Janji Suci Pemuda

Menciptakan perubahan tidak seperti membalikkan telapak tangan. Para Pemuda harusnya sadar betul hal ini. Tidak ada perubahan yang bisa diperoleh dalam sekejap mata, apalagi sebuah upaya pembangunan kampung halaman.

Ada banyak cerita bahwa untuk mencapai kemajuan akan menemui banyak tantangan baik dari diri sendiri (faktor internal) ataupun dari orang lain (faktor eksternal).

Terlebih jika berbuat nyata di Minangkabau, tantangannya lebih berat dari biasanya, karena menghadapi orang Minang yang tidak mudah.

Namun percayalah, Pemuda yang mampu mencapai cita-cita perubahan dan membangun kampung halamannya adalah yang bisa bertahan. Hal ini bisa jadi akan memakan waktu tidak hanya setahun, dua tahun. Bisa jadi butuh bertahun-tahun upaya perubahan itu diwujudkan. Atau bahkan akan terwujud ketika Pemuda tersebut tak ada lagi di dunia. Di titik ini tentu kita akan bersepakat bahwa, Pemuda harus memiliki konsistensi dalam berjuang sampai akhir hayatnya.***