Jalan Tol, Solusi Macet di Sumbar???

oleh

Oleh : Anggun Gunawan

KEBERHASILAN dan kegagalan seorang gubernur adalah sejauh mana dia bisa mencapai apa yang sudah dibuatnya sendiri dalam visi dan misi, antaranya “Terwujudnya Sumatera Barat yang Madani dan Sejahtera….”

Kembali pada persoalan pembangunan jalan tol di Sumbar… ada dilema dan varian soal kesejahteraan… jalan tol dalam beberapa aspek akan memudahkan akses dan menghemat waktu dan tenaga serta memperlancar jalur distribusi dan mobilisasi masyarakat…

Apalagi kemudian jalur macet yang selama ini merugikan banyak orang (yang kasihan itu kalau melihat mobil ambulan juga ikutan terjebak macet)…

Macet juga akan berpengaruh kepada minat untuk berwisata, sementara di sisi lain, pembebasan lahan untuk memperlebar jalan membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan akan menggusur banyak bangunan yang selama ini sudah eksis berada hanya beberapa cm saja dari jalan.

Jalan tol kemudian dikhawatirkan akan mematikan ekonomi masyarakat yang sepanjang jalan membuat toko, kadai, dan warung-warung semi permanen. Tetapi warung-warung tersebut masih minim parkiran,  sehingga saru saja mobil berhenti sekian menit, maka sudah berjejer mobil yang berhenti di belakangnya.

Laju penjualan mobil memang tidak sesuai dengan kapasitas jalan yang kita punyai. Apalagi kemudian di musim-musim liburan dan musim lebaran. Sebuah dilema memang, solusinya menurut saya, moda transportasi massal harus dipercepat di Sumatera Barat

Bapak dan ibu pejabat Sumbar yang sering ke Eropa tentu sangat paham betul bagaimana jalur antar kota dan negara mengandalkan dua hal.

Pertama adalah kereta api dan kedua adalah jalan yang lebar. Sehingga percepatan pembangunan rel kereta menjadi solusi jitu mengatasi persoalan macet di Sumatera Barat.

Tapi sayang dana Rp 2triliun untuk membangun infrastruktur kereta api ditarik kembali oleh pemerintah pusat.

Saya pikir kalau mau menarik investor, rasanya bisa diperuntukkan untuk pembangunan kereta api dalam kota dan antar kota di Sumatera Barat. Kalau di luar negeri biar dibuat di bawah tanah, tetapi kalau di Sumatera Barat tentu perlu dipikirkan apakah cukup aman dengan konsep kereta api di bawah tanah melihat Sumbar merupakan daerah yang rawan gempa.

Kalau tidak memungkinkan kereta api yang berada di permukaan pun sebenarnya tidak masalah, tetapi pembebasan lahannya tentu juga akan memakan biaya yang besar. Dan tentu saja rel yang dibuat harus rel ganda paling tidak ada dua sampai empat jalur sehingga kedatangan dan perjalanan kereta api bisa dibuat secepat mungkin.

Tapi itu butuh waktu lama dan dana besar, kerja-kerja gubernur sekarang ini memang agak mandeg terutama dalam hal pembangunan, karena dana dari pusat dipotong besar-besaran, investor pun menjadi andalan.

Tetapi dalam perspektif ekonomi global, investasi ini merupakan bentuk dari kapitalisme, darah dan spirit mereka adalah pengimplementasikan jaring-jaring kapitalisme yang tentu saja sangat berlawanan dengan prinsip-prinsip ekonomi kerakyatan yang merupakan ruh dari MASYARAKAT MADANI.

Dari sisi epistemologis inilah Sumatera Barat mengalami kegamangan, baik dari segi idelogis, teknis maupun dari sisi epistemologis.(analisa-Anggun Gunawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *