Jangan Anggap Enteng Wartawan

oleh
Yurnaldi, bahagia wartawan itu, bisa mencari dan mempublikasikan sesuatu yang bikin pembaca tahu, Kamis 3/1 (foto: abby)

AKU lebih takut pada pena wartawan dari pada seribu bedil atau pedang serdadu musuh,”

Itulah ungkapan seorang Kaisar kesohor Prancis, Napoleon Bonaparte (1769-1821), selaib Kaisar, Napaleon juga panglima militer dan pemimpin politik Prancis yang menjadi terkenal saat Perang Revolusioner.

Kini profesi wartawan terus berkembang maju, bahkan wartawan adu cepat beritakan peristiwa, di Indonesia wartawan juga disebut pilar ke empat demokrasi.

Artinya wartawan buka pekerjaan iseng, wartawan itu profesi yang mulia dan bekerja penuh tantangan, beruntung wartawan www.tribunsumbar.com, Abby berhasil menggali ilmu dan pengalaman dari seorang yang sudah termasuk begawan jurnalis di Sumbar, yaitu Yurnaldi.

“Untuk menjadi seorang wartawan itu harus giat mencari berita, bukan hanya duduk santai menunggu datangnya sebuah berita”ujar Yurnaldi yang dulu pernah berkarir di Kompas dan kini mengabdi sebagai Komisioner Komisi Informasi Sumbar, Kamis 3/1 di kantornya jalan Sawo Purus 5 Padang.

Bahkan kepada wartawan portal ini Yurnaldi yang di kalangan literasi Indonesia termasuk aktif menulis dan menerbitkan buku, seperti karyanya ‘Menjadi Wartawan Hebat’, konon menjadi penuntun jurnalis pemula, ketika memulai profesinya, ingatkan jangan pernah bawa kepala kosong dalam mencari berita. Wartawan bekerja jurnalis, saat mencari berita, harus memahami 50 persen persoalan yang akan diberitakan.

“Pahami persoalan minimal 50 persen baru cari dan buat berita, termasuk dalam bertanya kepada narasumber, jangan pernah terjebak dengan alur cerita atau keterangan narasumber, tapi bawa narasumber itu masuk kecerita yang sesuai dengan kebijakan redaksi media masing-masing,”ujar Yurnaldi.

Satu yang utama menjadi kunci berita wartawan supaya dipercaya pembaca yakni 5W1H, menjadi pakem seorang jurnalis dalam bekerja.

“5W1H kunci wartawan dalam membuat sebuah berita yang sangat rinci dan dapat menarik perhatian masyarakat untuk membaca,”ujar Yurnaldi.

Saat ditanyai mengenai pengalaman berkesan seorang  jurnali, Penulis buku ‘Kritik Presiden dan Jurnalisme Hoax’  mengatakan memberitahu masyarakat atas ketidaktahuannya.

“berkesan itu bisa mencari dan mempublikasikan suatu berita agar masyarakat dapat mengetahui apa yang tidak mereka ketahui, ini sudah membuat wartawan bahagia,”ujar Yurnaldi. (abby)