KAHMI Award dan peran perempuan Minang

oleh -148 views
pemberian penghargaan KAHMI award di Hotel Rangkayo Basa, Padang , Minggu (19/9/21).(doc/ilh)

Padang–Politik KAHMI bukan politik praktis, melainkan politik moral yang menekankan pada nilai. Sebagai warga negara dan insan cendekia KAHMI berkewajiban menjaga dan merawat NKRI. Sedangkan sebagai Muslim, KAHMI berkewajiban menjaga amal makruf nahi munkar.

Pernyataan yang disampaikan Koordinator Presidium Prof. Dr. R. Siti Zuhro, MA dalam rangka milad KAHMI ke 55 menjadi penguat penting kemana kapal besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini diarahkan.

Pada saat negeri mengalami persoalan ancaman keterbelahan yang berefek pada intoleransi, tak lagi menghargai sopan santun dan nilai-nilai agama, merupakan persoalan yang harus diselesaikan oleh organisasi paguyuban independen yang warna anggotanya bak pelangi di langit Nusantara ini.

Pernyataan peneliti senior politik LIPI ini sangat relevan dengan situasi nasional dikaitkan kondisi terkini ranah Minang yang perlu di carikan solusinya.

Banyak tantangan yang harus dijawab saat pemberian penghargaan KAHMI award yang pertama kali di berikan di Sumatera Barat ini, salah satu yang menarik adalah tampilnya sejumlah perempuan sebagai penerima award.

Paling tidak ada tiga bidang utama permasalahan bangsa ini, yaitu Politik, Pendidikan & Ekonomi. Pada ketiga pilar ini KAHMI Sumbar punya stok mumpuni dan patut dihargai untuk keberaniannya menampilkan pada publik. Tentu bukannya tidak ada maksud menawarkan Emma Yohana, Wirdanengsih & Dian Eka Putri, yang bisa pula dianggap mewakili tiga genre, senior, mapan dan milenial. Harapan nya adalah situasi centang perenang peri kehidupan berbangsa dan bernegara, bisa jadi akan lebih efektif di selesaikan melalui pendekatan keibuan. Dengan kelembutan, dibungkus kekuatan hati dan profesionalisme yang dibangun, patut tertumpang solusi alternatif dihadirkan oleh trio ini.

Kendati berkiprah didunia ‘macho’ politik, korpres Siti Zuhro telah membuktikan kelas dan kualitas penjaga marwah KAHMI di ajang nasional. Asa tercurah pada kolaborasi yang sudah seharusnya mereka rajut untuk melanjutkan perjuangan Zakiah Darajat, Aisyah Aminy atau generasi awal perempuan republik, seperti Rasuna Said, Rahmah El Yunusiah dan banyak nama besar lainnya. Maka pada ketiga nama ini dinanti proposal dan langkah konkrit dalam skala lebih luas.

Emma Yohana, politisi anggota DPD peraih suara terbanyak dari seluruh 18 (delapan belas) penghuni Senayan asal Sumbar. Wirdanengsih, Doktor pendidikan karakter, penulis isu-isu sosial yang juga Ketua Pusat Kajian Kearifan Lokal UNP serta figur energik Dian Eka Putri, perempuan yang lebih suka membuktikan kemandirian membangun bisnis ketimbang berharap menjadi PNS.

Berbagai faktor yang membuat para perempuan hebat ini bersama dengan tokoh kelas berat sekaliber Prof. Dr. Fasli Jalal, Prof. Dr. Masrul, dr. Alis Marajo, walikota Solok Zul Elfian, dll menjadi cambuk untuk lebih berkontribusi ditengah masyarakat sekaligus pembuktian bahwa lekat tangan limpapeh rumah gadang tidak kalah dengan sejawatnya kaum bapak.

Mudah-mudahan ditangan mereka ini, KAHMI Sumbar, Ranah Minang dan Bundo Kandung, langkah negeri dan nagari berkemajuan bisa terungkit dengan nyata. Semoga.(ms/ilham)