Kenapa 33% Positive Rate Adem Saja?

oleh -186 views
Prof Elfindri (foto: dok)

Oleh : Elfindri Dir SDGs Unand

HARI ini perkiraan positive rate Sumbar 33 persen. Begitu kami baca di media sosial, pak Dr. Andani berucap dan masih kecendrungan meningkat.

Tidak banyak perubahan pemahaman dan tindakan taat kala presiden juga sudah mengumumkan malam tadi perpanjangan PSBB.

Berbagai kota di Indonesia.Sumatra Barat termasuk, Padang, Bukittinggi dan Padang Panjang.

Biasa saja adem-adem kami saksikan dalam seminggu terakhir baik di kota Bukittinggi atau di desa-desa.

Di kota Bukittinggi diterjemahkan penutupan skala mikro adalah ditutup masuk kota Bukittinggi. Itupun ditutup dan disumbat dari jam 14.00 sampai maghrib. Paginya lalu lalang tak apa.

Penutupan itu memang aneh. Yang dimaksud skala mikro bukan pada level kota, mestinya level kelurahan. Di mana terjadi temuan covid dan trend perpindahan cukup tinggi.

Di kelurahan Batung Taba Padang seorang sahabat melaporkan sudah 8 kematian dalam akhir-akhir minggu ini.

Tetapi masyarakat tidak ketakutan. Yang bermasker ada tapi yang cuek sangat banyak. Seolah olah tidak terjadi apa apa.

Artinya di hulu penanganan yang dilakukan sepertinya tidak jalan. Dulu tahun 2020 sangat ketat dan semangat masyarakat bahu membahu membantu. Sekarang sepertinya luntur.

Berjalan sepanjang Bukittinggi Payakumbuh kota sampai Suliki, adem adem saja.

J[ka ada kematian masih banyak ngumpul takziyah. Jika ada menaiki rumah maka banyak yang datang tanpa protokol. Pasar nagari juga bebas biasa.

Memang pada pelaksanaan shalat ied diumumkan di masjid untuk pakai masker, namun keefektifannya rendah.

Nagari Tageh tidak jalan walau riuh ketika lima bulan lalu. Kongsi Covid di kota juga tidak terlalu jelas jalannya.

Kenapa ya masyarakat kita begitu abay? Peranan media yg mengungkap dan tidak percaya covid membuat tingkat kepatuhan menurun bahkan semakin abai.

Masyarakat Sumbar mungkin juga semakin tidak respect karena banyak kebijakan yg inkonsisten. Apalagi kalah dalam pemilu bisa jadi berdampak pada pendirian.

Yang mungkin dilakukan tetap mengontrol pada level Puskesmas. Ada baiknya rapat evaluasi per Puskesmas dilakukan setiap tiga hari sore dan melaporkan kepada satgas atau pimpinan kabupaten dan kota.

Rapat evaluasi per tiga hari mungkin akan membuat puskesmas yg kasus kawasannya tinggi bisa lebih aktif dan dikeroyok ramai ramai.

Tentu kasus yang tinggi di Puskesmas menurut laporan bisa dijadikan sebagai dasar penutupan penyeleksian ketat lalu lintas manusia. Jika tidak kita akan kewalahan.(analisa)