Kolaborasi Pameran Karya Instalasi Seni Rupa dengan Teather Mencabik Pekik Sunyi hadir di Taman Budaya

oleh -92 views
Sutradara Pertunjukan Teather “Mencabik Pekik Sunyi” Mahatma Muhammad bersama Perupa Instalasi dan Penata Panggung, Khairul Mahmud dan Pemerhati Ekonomi Kreatif Sumbar, Yulviadi. (foto: dok)

Padang,—-Karya instalasi seni rupa berbahan limbah laut, bakal dipamerkan di Galery Taman Budaya, Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar, 10 hingga 13 Desember 2020.

Pameran nantinya berkolaborasi dengan pertunjukan teather bertajuk “Mencabik Pekik Sunyi” disutradarai Mahatma Muhammad.

Ada 10 hingga 15 instalasi seni rupa karya Perupa Instalasi dan Penata Panggung, Khairul Mahmud yang dipamerkan. Pameran karya instalasi berbahan sampah laut nanti, mengusung tema isu ekologi lingkungan. “Melalui pameran ini, sampah laut bisa jadi karya seni instalasi dan setting latar teather,” ungkap Khairul, Sabtu 5/12.

Pria Tamatan S1 Seni Rupa Universitas Negeri Padang (UNP) itu mengatakan, untuk menghasilkan tema satu karya instalasi seni rupa, melibatkan satu tim untuk sharing konsep cerita. Karena setiap tema karya seni rupa yang diangkat memiliki sebuah cerita.

Misalnya, satu karya instalasi seni rupa berbentuk ikan paus. Bahan untuk membuat bentuk ikan paus diambil dari kayu-kayu limbah laut khusus yang diambil di pantai Teluk Buo, Kota Padang. Karena di Teluk Buo tersebut ada cerita ikan paus banyak di laut teluk tersebut. Setiap nelayan di sana pergi melaut, dekat kapalnya ada ikan paus yang menemani.

“Jika ada ikan paus dekat kapal, maka menandakan banyak ikan di lokasi tersebut. Nah cerita inilah yang kita angkat menjadi sebuah karya seni instalasi berbentuk ikan paus,” terang Khairul.

Selain karya instalasi ikan paus, juga ada karya instalasi berbahan limbah laut lainnya yang dipamerkan, seperti figur manusia, kerbau dan lainnya. Untuk mengerjakan satu karya instalasi, mulai dari mengumpulkan limbah kayu di pantai, hingga membentuk karya, membutuhkan waktu satu bulan.

Pembuatan instalasi dilakukan dengan memaku setiap kayu-kayu sampah laut hingga membentuk suatu bentuk. Baik itu bentuk menyerupai manusia maupun bentuk menyerupai binatang dan lainnya. “Kayu-kayu sampah laut kita kumpulkan di tiga lokasi pantai di Kota Padang, yakni teluk Buo, Pantai di Air Tawar dan Pantai Pasir Jambak,

Khairul mengungkapkan, instalasi seni rupa merupakan sebuah karya. Namun sifatnya sementara. “Instalasi ini bisa dipindah pindah. Tidak permanen. Apa pun bahan kalau dikumpulkan bisa jadi karya instalasi. Bahkan pasir kalau ditumpukan jadi instalasi,” ujarnya.

Sementara, Mahatma Muhammad yang jadi sutradara pertunjukan teather bertajuk “Mencabik Pekik Sunyi” mengatakan, pertunjukan teather nanti ,merupakan kegiatan produksi rutin tunggal Nan Tumpah, yakni sebuah komunitas independent. Pada pertunjukan kali ini, Mahatma mengajak seniman lintas komunal untuk berkreasi.

“Melalui kreasi lintas komunal ini, kita hadirkan pertunjukan teather melibatkan kawan-kawan seni rupa instalasi. Mereka kita ajak terlibat, karena lebih cenderung dekat dengan pertunjukan panggung untuk setting property,” terangnya.

Mahatma mengatakan, karya dari bahan limbah dan sampah laut tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk pertunjukan teather. Tetapi juga bisa dikolaborasikan dengan pameran. Sehingga, pertunjukan teather “Mencabik Pekik Sunyi” akhirntya melebur menjadi tema besar.

Mencabik Pekik Sunyi terdiri dari dua naskah, yakni Mencabik dan Pekik Sunyi. Naskah ini dikonstruksi ulang untuk jadi struktur pertunjukan naskah baru. Pertunjukan teather ini mengandung pesan kepada masyarakat, agar memiliki kepekaan kepada siklus berulang. Mulai dari kehidupan privasi dalam keluarga, hingga siklus peristiwa dan kejadian global yang terjadi hingga saat ini. Seperti isu tentang ekologi lingkungan saat ini.

“Perlintasan peristiwa yang fenomenal yang berulang direlevankan dengan kondisi hari ini. Ruang ruang informasi peristiwa global, membuat kita tidak sensitif dengan ruang paling dekat dengan kita, yakni keluarga,” ungkapnya.

Dalam pertunjukan dan pameran nanti, akan melibatka 36 seniman dan budayawan. “Untuk pembukaannya dimulai tanggal 10 Desember, kemudian dilanjutkan pameran dan pertunjukan teather tanggal 11 hingga 13 Desember,” terangnya.

Kegiatan pertunjukan teather dan pameran nantinya, dilaksanakan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Di mana penonton dibatasi jumlahnya 100 orang per hari. Ada 100 area penempatan yang diatur dengan menerapkan protokol kesehatan.

“Untuk pengunjung juga dibatasi tiketnya. Di mana untuk umum hanya disediakan 50 tiket dan sisanya untuk panitia dan pekerja seni. Untuk pameran juga dibatasi jumlah pengunjungnya hanya 30 hingga 35 orang per hari,” terangnya.

Pemerhati Ekonomi Kreatif Sumbar, Yulviadi mendukung kegiatan pertunjukan teather yang dikolaborasikan dengan pameran isntalasi seni rupa berbahan limbah laut. Menurutnya, kreatifitas seni rupa dan pertunjukan teather ini, seharusnya sudah ada nilai ekonomi yang muncul.

“Mestinya, dengan Bbiaya produksi yang luar biasa terhadap kreatifitas ini, tidak seharusnya hanya bisa dinikmati oleh komunitas sendiri. Harusnya karya seni ini dikonsumsi secara umum. Sehingga menghasilkan nilai ekonomi. Ini yang seharusnya menjadi perhatian ke depan,” ujarnya.(***)