Korok Lapau, Budaya Piaman

oleh -173 views
Bagindo Yohanes Wempi (dok)

Oleh: Bagindo Yohanes Wempi

LAPAU Piaman tempo dahulu, sekarang pun masih ditemukan, dipastikan tersedia ruangan tampek lalok (tempat tidur), lantai kayu, ditinggikan agak setengah meter dari permukaan lantai, letaknya disebelah bangunan lapau. Terutama lapaunya terbuat dari kayu berlantaikan tanah. Nah tempat tidur itu yang dikenal dengan Korok oleh Urang Piaman

Anak millineal Piaman sekarang tidak akan kenal dengan Korok Lapau, tapi yang mereka banyak tahu adalah balai-balai. Dan istilah Korok tidak akan mereka ketahui, apalagi kegunaan dan fungsinya, atau nilai sosial budaya yang terkandung dari Korok tersebut mereka juga tidak tahu.

Dahulu di bawah era 90an tempat persingahan istirahat, tidur bagi laki-laki Piaman hanya dua, pertama Surau untuk anak mengaji sekaligus tempat tidur dan orang tuo-tuo tempat beribadah serta tidur. Kedua adalah Korok tempat beristirahatnya orang mudo-mudo, orang tuo yang belum tobat, malas beribadah.

Kedua tempat tersebut menjadi idola bagi laki-laki Piaman bermukim, beristirahat dan tinggal. Namun pada tulisan ini penulis mengajak bercerita tentang Korok tadi. Bahwa Korok memiliki peran penting dalam kehidupan sosial budaya laki-laki Piaman.

Korok merupakan tempat berlabuhnya laki-laki Piaman yang kesepian. Jika anak mudo yang sudah dewasa tapi belum dapat jodoh di sinilah tempat beliau tidur. Sedangkan kondisi tidur di rumah tak mungkin karena malu sama kakak perempuan, adek perempuan yang sudah meningkat dewasa. Maka Laki-laki Piaman di sini tempat tinggalnya di malam hari.

Korok juga menampung atau tempat laki-laki Piaman yang ditinggalkan istri (cerai, meninggal). Sebelum laki-laki Piaman ini dapat jodoh baru maka di sinilah beliau tinggal, terkadang baju untuk pakaian pun ditarok di belakang korong, rata-rata korong pakai dinding seperti kamar segi empat.

Selanjutnya laki-laki Piaman yang tidur di korok adalah laki-laki yang istilah Piamannya “kandang sedang baluluak” atau laki-laki Piaman yang sedang bertengkar dengan istri, lalu meninggalkan rumah, sebelum rujuk/baikan suami-istri tersebut maka Laki-laki Piaman tersebut tinggal di korok.

Korok Lapau memang sangat sepesial bagi orang/laki-laki Piaman, seperti dijelaskan di atas, sangat membantu laki-laki Piaman yang sedang kesepian, merana, marando, begitulah budayanya Korok. Namun Korok juga bisa tempat persinggahan para saudagar/pedagang yang sedang dalam pejalanan jauh.

Lapau Piaman yang asli itu dipastikan punya Korok tersebut. Dijelaskan lebih lanjut bahwa Korok dikasih/beri lantai kayu, di atasnya ditarok susunan kardus/karton tinggi lalu dialas dengan tikar pandan. Batalnya terbuat dari karung gula, yang di dalamnya diisi dengan kain, atau pakaian tidak layak, sehingga empuk dan nyaman ditidurkan.

Sekarang lapau Piaman sudah menghilangkan Korok, kalau pun ada lapau yang dilengkapi fasilitas Korok berarti lapau tersebut didirikan atau dibangun diera 80an sampai 90an. Anjuran kepada pembaca, sesekali coba kunjungi lapau Piaman yang ada fasilitas koroknya, lalu coba tidur agak semalam. Mungkin akan mengetahui nikmatnya Korok tersebut.

Lapau Piaman memang mempengaruhi kehidupan sosial budaya masyarakat Piaman karena fungsinya yang banyak, di sana ada Korok tempat tidur, Ada tempat mahota atau diskusi sambil berbagi informasi, juga tempat anak Nagari melepaskan lelah dengan bermain domino, koa, dan lainnya.

Jika dilihat begitu pentingnya posisi lapau Piaman tersebut dalam kehidupan sosial Urang Piaman maka penulis bisa simpulkan bahwa lapau dan surau (baca ; surau kami) sama-sama mempengaruhi karakter laki-laki Piaman. (analisa)