Kurikulum Merdeka di Ruang Lingkup Madrasah dan Implementasinya

oleh -470 views
oleh
470 views

SEPERTI yang kita tahu, pada tahun ajaran baru 2023/2034 sudah dilaksanakan secara menyeluruh mengenai kurikulum merdeka oleh seluruh Sekolah maupun Madrasah.

Sebenarnya menurut Opini Kemenag di websitenya, pada 2022, telah ditetapkan sebanyak 2.471 lembaga madrasah yang menerapkan kurikulum merdeka.

Di tahun ini ada sekitar 26.169 lembaga madrasah dari jenjang RA, MI, MTs dan MA/MAK yang menerapkan kurikulum merdeka.

Terdapat proses sehingga kurikulum ini dapat diterapkan dengan tujuan menekankan pada pelibatan siswa aktif dalam proses pembelajaran, memberikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan aspirasi, serta mendorong kreativitas dan keberanian dalam berpikir. Madrasah dan Kementerian Agama (Kemenag) menjadi aktor utama dalam mewujudkan kebijakan ini.

Sebagai contoh implementasinya, saya melakukan wawancara kepada adik kelas saya yang berada di MAN 2 PADANG.

“Kurikulum nya sama, proses pembelajaran nya sama cuman kami tidak ada Full Day, kak.”  ucapnya saat saya bertemu dengannya di angkutan kota.

Full Day sendiri merupakan salah satu bagian dari program kurikulum merdeka, yang maknanya siswa/siswi bersekolah hanya selama 5 hari, dari Senin-Jum’at dengan jadwal pulang sekitar jam 17.00, namun di Madrasah hal ini tidak bisa dilakukan, karena mata pelajarannya yang cukup banyak dan ada yang berbeda, dapat kita simpulkan mereka tetap bersekolah selama 6 hari dengan jadwal pulang pukul sekitar jam 13.00 atau 15.00, ini tergantung peraturan jam pulang di Madrasah masing-masing.

Jika di Sekolah umum ada yang namanya Pendidikan Agama Islam, Di Madrasah ada yang namanya pemecahan dari mata pelajaran tersebut, seperti Akidah Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam, Fiqih, Qur’an dan Hadits serta Bahasa Arab.

Saya dapat mengambil tali kesimpulan untuk implementasi kurikulum ini d Madrasah yakni program pelajar, proses mengajar belajarnya sama dengan sekolah dan sepenuhnya Kemenag mengikuti Kemdikbudristek, terdapat perbedaan jadwal seragam, jilbab yang dimana Kemenag tidak mengikuti aturan Kemdikbudristek atau aturan Sekolah-sekolah pada umumnya.

Melalui kebijakan Kurikulum Merdeka di Madrasah, diharapkan dapat mencerminkan standar kurikulum yang disesuaikan dengan ajaran agama Islam, dengan tetap memberikan kebebasan dan ruang untuk siswa dalam mengemukakan ide, pendapat, serta memahami konteks lingkungan sosial yang ada.

Melalui kebijakan ini, madrasah berusaha menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif, terbuka, dan memperkuat harmoni antara agama dan kehidupan berbangsa dan bernegara. (analisa)

Oleh: Winanda

Mahasiswi aktif Ilmu Politik Universitas Andalas