Lebih Menguntungkan, Gubernur Sumbar Dorong Pengembangan Pertanian Organik

oleh -26 views
oleh
26 views

Agam – Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah mendukung upaya pengembangan pertanian organik di Sumbar. Ia menilai, sistem organik tersebut memiliki banyak keunggulan dari pada non organik, mukai dari segi kesehatan sampai harga.

“Dari segi kesehatan, sistem pertanian organik lebih sehat dari pada non organik. Harganya juga lebih tinggi sehingga keuntungan bagi petani juga akan lebih besar,” kata Gubernur Mahyeldi saat menghadiri panen raya padi organik, yang digelar oleh Kelompok Tani Amor di Nagari Koto Tangah Kecamatan Tilatang Kamang, Agam, Jumat (16/06/2023).

Ia mengatakan, selama ini ada kecemasan dari masyarakat, untuk pindah ke pertanian organik, produktivitasnya menjadi menurun sehingga menyebabkan kerugian.

Ia menjelaskan, berdasarkan pendapat para ahli, peralihan dari sistem non organik ke organik untuk tahap awal memang mengalami penurunan produktivitas, karena perlu penyesuaian kembali, mulai dari tanah sampai pola perawatan dengan sistem baru. Namun itu hanya sementara.

Dalam jangka panjang, pertanian sistem organik akan membuat kondisi tanah semakin baik, dan produktivitas panen semakin meningkat.

Namun sepertinya, hal itu tidak sepenuhnya benar. Padi organik yang ditanam oleh Kelompok Tani Amor di Agam, jumlah panennya malah lebih meningkat dibanding saat menerapkan sistem pertanian non organik.

“Laporan dari Ketua kelompok, hasil panen padi organik itu mencapai 7,6 ton per hektare. Lebih tinggi dari jumlah panen sawah non organik yang berada di sekitar kawasan itu, yang hanya 5-6 ton per hektare,” ungkap Mahyeldi.

“Kelompok ini menggunakan jerami dan kotoran ternak sebagai pupuk organik. Artinya limbah pertanian berupa jerami bisa digunakan untuk pupuk. Hal ini tentu akan menurunkan biaya produksi sementara produktivitas meningkat,” katanya.

Ke depan, katanya, pertanian sistem organik lebih menjanjikan untuk kesejahteraan petani karena dari tahun ke tahun kuota pupuk bersubsidi semakin terbatas, sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan petani, sementara pupuk non subsidi harganya relatif mahal.

“Karena itu, kita mengajak para petani untuk mulai menggunakan sistem organik,” ajak Gubernur Mahyeldi.

Sementara itu Ketua Kelompok Tani Amor, Harisman mengatakan pihaknya fokus mengoptimalkan sistem pertanian organik, karena dinilai lebih ramah lingkungan.

Ia menyebut, berdasarkan pengalamannya, kawasan sawah seluas tiga hektare dengan sistem organik bisa menghasilkan panen hingga 7,6 ton, menurutnya itu lebih baik dari sistem non organik.

Ke depan ia berharap, dukungan dari pemerintah daerah melalui berbagai program terus hadir, agar sistem pertanian organik semakin berkembang di Sumbar dan semakin banyak diikuti oleh para petani. (adpsb)