LIPSUS: Listrik Diesel Mahaal Ide Gila pun Lahir, Dari Internet, Dan Hibah pun Ditarik

oleh -131 views
Kerja, kerja, kerja untuk Mentawai terang dengan Listrik Bambu. (foto: dok /bappeda-mtw)

Padang,—Tahukah anda, sejak dulu sampai kini banyak desa di Mentawai untuk energi listrik harus merogoh saku dalam-dalam dan listrik pun bisa nyala lima jam satu hari, pedisss.

Menurut Kepala Bappeda Mentawai Naslindo Sirait, lahirnya gagasan atau ide ‘gila’ ini muncul dari keprihatinanya melihat kondisi masyarakat Mentawai.

Masyarakat kata Naslindo harus membayar mahal listrik Diesel. Menurut hitungannya, masyarakat harus bayar 6000/kwh itu pun hanya hidup 3 sampai 5 jam saja pada saat malam.

“Karena inilah satu selain penyebab kemiskinan di Mentawai selama ini, akses energi yang terbatas dan mahal dan tentu itu berpengaruh luas baik terhadap pendidikan, kesehatan maupun ekonomi masyarakat. Penghasilan masyarakat habis untuk membeli bahan bakar solar demi menghidupkan diesel,” ujar Naslindo berbincang dengan beberapa media Kamis 5/7 malam di Padang.

Bermula pada 2015, waktu itu dimulai gagasan ini. Rasio elektrifikasi Mentawai baru 27 persen, maka  mulailah disusun Rencana Umum Energi Daerah untuk mulai memetakan kebutuhan energi Mentawai waktu dan proyeksi ke depannya.

Kemudian memetakan potensi energi yang dimiliki Mentawai dan pilihan energi apa yang efektif sebagai solusi untuk menerangi pulau pulau terluar ini.

“Maka kita sampai pada satu kesimpulan bahwa Mentawai sebagai satu kepulauan harus memiliki kemandirian energi atau ketahanan energi yang tidak bisa tergantung ke luar. Sekaligus kami merencanakan energi Mentawai di masa depan dengan energi baru terbarukan,” ungkapnya.

Mengingat Mentawai sebagai biosfer dunia juga sebagai daerah pariwisata, lanjut Naslindo, maka Pemkab Mentawai mencanangkan Mentawai ‘green island’. Energinya harus energi baru terbarukan dan sustaibable.

“Langkah yang kami tempuh awalnya meningkatkan rasio elektrifikasi dengan bauran energi kemudian secara simultan ke depan kita akan mendorong energi di Mentawai 100 persen energi baru dan terbarukan. Ini akan menjadi model solusi energi bagi kepulauan dan sekaligus jadi model di dunia,”ujar Naslindo di Sumbar terkenal juga sebagai aktivis kepemudaan.

Adanya rencana itu, lalu ide gila energi terbarukan nan sustainable ini, tentu kata Naslino pertanyaan muncul di kepala banyak orang. Apa yang jadi pilihan energi baru terbarukan direncanakan Pemkab Mentawai termasuk soal pendanaannya.

Berdasarkan pemetaan potensi Mentawai yang memiliki energi arus laut, angin, Surya, mikro hidro dan biomassa.

“Akhirnya pilihan paling efektif dan efesien untuk energi terbarukan biomasa adalah biomassa bambu, mengingat bambu sudah banyak tersedia di Mentawai. Apalagi masyarakat Mentawai sangat familiar dengan bambu. Hanya perlu dibudidayakan lagi agar terjamin stok untuk supllay ke pembangkit,”ujar Naslindo.

Bambu selain digunakan untuk energi sekaligus dapat menyerap karbon, memberikan penghijauan dan menahan erosi dan dapat di manfaatkan untuk kerajinan bambu dan bahan bangunan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dan sustainable. Karena, setelah batangnya dipotong akan muncul tunas baru dari koloni bambu itu.

“Setelah kami memiliki konsep ini, maka yang jadi masalah adalah bagaimana mewujudkannya. Karena Pemda Mentawai terbatas pada kewenangan dan dana. Mengandalkan APBD jelas tidak mungkin,” kata Naslindo.

Nah dari ide gila itu munculah ‘narsis’ seorang Naslindo, dia pun seraching ke dunia maya lewat internet, untuk menawarkan propsal listrik bambu Mentawai.

Beruntung pada saat yang sama ada program MCA Indonesian. Inilah yang diakses  Naslindo. Dana MCC adalah hibah pemerintah Amerika Serikat ke Indonesia yang difasilitasi oleh Bappenas. Dengan bantuan Hibah ini mulai dari penyusunan studi kelayakan dan pembangunan pembangkit.

“Karena mampu meyakini daa di back-up full Menteri Bappenas dan Pak luhut Binsar Panjaitan (Menko Kemaritiman) akhirnya MCC setujui proposal Listrik Biomasa Mentawai termasuk studi kelayakan terexpert senilai Rp 150 Miliar. Hibah murni tanpa syarat, terlaksana tanpa menggunakan dana APBN atau APBD,”ujar Naslindo. (Ichobb/rilis2:alr)