Maafkan Kami Tan…

oleh -362 views
Isa Kurniawan lakukan ritual hormat tanda maaf, karena rumah gadang Tan Malaka lapuk tak terurus. (foto: isakurniawan)
Isa Kurniawan lakukan ritual hormat tanda maaf, karena rumah gadang Tan Malaka lapuk tak terurus. (foto: isakurniawan)

Oleh :                                                               Isa Kurniawan
Koordinator KAPAS
(Komunitas Pemerhati Sumbar)

LEBARAN kedua, Senin 26/6, Saya berkesempatan pulang kampung ke Batu Bauak, Suliki, Kabupaten Limapuluh Kota, bersama Ibu, saudara dan anak-anak.

Kebetulan semenjak Ayah berpulang, Ibu ingin sekali pulang ke kampungnya. Sebenarnya kampung Ibu di Baruh Gunung (lebih ke mudik lagi), tetapi kemudian berumah di Suliki.

Karena ada waktu luang siangnya sesudah shalat Zhuhur, Saya bawa Ibu dan anak-anak melihat rumah gadang Tan Malaka (tempat kelahiran beliau), di Pandam Gadang, Suliki. Tak jauh dari rumah kami. Sekitar 3-4 kilometer lah.

Melihat kondisi rumah gadang —yang sekaligus menjadi museum itu— hati Ibu saya trenyuh.

“Lihatlah, sepertinya rumah gadang ini tidak terurus. Beberapa bagian sudah lapuk. Apa tidak ada niat orang-orang untuk merenovasi?” tanya Ibu ke Saya. Dan, Saya pun cuma bisa diam.

Pikiran Saya menerawang, mengingat-ingat hiruk pikuknya acara “pemindahan jasad” Tan Malaka dari Selopangung, Kediri, ke Pandam Gadang, Suliki beberapa waktu yang lalu. Pokoknya heboh!

Tetapi, setelah Saya mendengar pertanyaan yang disampaikan Ibu, dan melihat kondisi sekarang rumah gadang Tan Malaka, Saya berkesimpulan bahwa apa yang telah mereka lakukan itu, baru sebatas kosmetik dan seremonial belaka. Tidak menyentuh substansi dari apa yang seharusnya ingin diperjuangkan atau dicapai.

Seharusnya, mereka perjuangkan bagaimana rumah gadang Tan Malaka itu bisa direnovasi, kemudian membangun kawasan itu sebagai destinasi wisata sejarah. Dengan landscapes dan infrastruktur yang mumpuni. Berikut dengan sarana prasarana museum yang tertata dengan baik.

Dengan dikeloka secara baik (profesional) rumah gadang Tan Malaka itu, mudah-mudahan bisa memberikan pelajaran berharga bagi generasi muda ke depan, bahwa dari Pandam Gadang, Suliki pernah lahir seorang Pahlawan Nasional, yang bergelar “Bapak Republik”.

Menjelang pulang, Saya menyapa patung Tan Malaka —hibah dari Fadli Zon— yang terletak di pekarangan rumah gadang itu seraya menghormat dan berkata, “Maafkan Kami, Tan,”.