Majukan Energi Terbarukan, Hitay Balai Kaba Sosialisasikan Geothermal pada Masyarakat

oleh -1,162 views
oleh
1,162 views
Foto bersama usai sosialisasi eksplorasi geothermal di X Koto Tanah Datar Sumbar, Kamis 7/3-2024. (dok)

Tanah Datar,– Hitay Balai Kaba terus menunjukan komitmen pengembangan energi terbarukan di Sumatera Barat. Hitay sebagai pemegang PSPE untuk Wilayah Gunung Tandikat, Tanah Datar, Sumatera Barat.

Untuk memajukan energi terbarukan Hitay Balai Kaba memberikan sosialisasi kepada masyarakat yang terdampak langsung terhadap pengembangan pembangkit listrik panas bumi atau geothermal.

Sosialisasi digelar  Kamis 7 Maret 2024 di Aula pertemuan Nagari Pandai Sikek yang dihadiri perwakilan Energi Baru Terbarukan (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Dinas ESDM Provinsi Sumatera Barat, Asisten II (Ekonomi dan Pembangunan) Bupati Tanah Datar, Dinas Investasi PTSP Tanah Datar, Camat X Koto, Wali Nagari, Ketua BPRN, Ketua KAN, dan Tokoh Masyarakat seluruh X Koto, dan Managing Partners Hitay Balai Kaba.

Remzi Caner Yilmaz sebagai perwakilan PT Hitay Balai Kaba menyebutkan komitmen perusahaannya untuk berinvestasi dalam pengembangan panas bumi di wilayah gunung tandikat dan akan terus melakukan sosialisasi dalam setiap tahapannya kepada masyarakat agar dapat memberikan manfaat bagi semua pihak dalam pengembangan panas bumi.

“Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi yang paling berkesan bagi kami dari Hitay Balai Kaba, baik masyarakat, makanan, dan budayanya. InsyaAllah niat baik kita bersama dalam pengembangan panas bumi di wilayah Tandikek dapat terwujud,”ujar Remzi di sosialisasi Kamis tersebut.

PT Hitay Balai Kaba memenggang izin Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE) Gunung Tandikat yang prosesnya sempat tertunda akibat Covid-19.

Inzuddin perwakilan dari Dinas ESDM Provinsi Sumatera Barat menyampaikan tantangan dan potensi pengembangan panas bumi kepada seluruh elemen masyarakat yang hadir.

“Panas bumi berbeda dengan eksplorasi tambang pada umumnya, yang mengekploitasi mineral atau gas di satu titik dan memindahkannya. Sedangkan panas bumi tidak dipindahkan kemana-mana masyarakat sekitar yang akan mendapatkan manfaat pertama dari listrik yang dihasilkan. Jika sudah berjalan pembangkit listriknya, mau untung atau rugi koorporasi yang menjalankan harus memberikan kontribusi langsung kepada pemerintah kabupaten,”ujar Inzuddin.

Sosialisasi berjalan dinamis dengan banyaknya pertanyaan dari masyarakat X Koto berkaitan dengan isu-isu sosial seperti apakah akan seperti lumpur lapindo, efeknya terhadap pengairan pertanian, efek getaran dan suara pada saat pengeboran, hingga efek langsungnya (nilai tambah) kepada masyarakat nagari.

Perwakilan EBTKE menyampaikan bahwa sosialisasi merupakan agenda untuk mengkonfirmasi langsung keresahan dan kekhawatiran masyarakat akan dampak yang ditimbulkan oleh eksplorasi geothermal.

Pada dasarnya banyak geothermal yang sudah kontiniu puluhan tahun di Indonesia seperti wilayah Kamojang, Garut yang sudah beroperasi sejak tahun 1978 atau yang di Larde derre llo, Pisa Italia yang sudah lebih dari 100 tahun sejak 1904.

“Lapindo eksplorasi awalnya adalah migas bukan panas bumi, sehingga ada perbedaan mendasar eksplorasi dan dampaknya. Sudah banyak contoh pengembangan geotermal yang berhasil. Untuk air tidak akan menggangu sumber air masyarakat karena pengeboran dilakukan sedalam 2000 meter. Pada saat pengeboran awal memang dibutuhkan water pumb sebagai pelumas selama proses pengeboran dan itu bisa didatangkan dari luar sehingga tidak menggangu sumber air masyarakat,”ujar perwakilan  EBTKE.

Terakhir, PT Hitay Bala Kabai berkomitmen untuk memfasilitasi masyarakat X Koto untuk melihat langsung dampak dan kemanfaatan pengembangan geotermal di Muaro Labuah, Solok Selatan sebagai rangkaian proses sosialisasi.

“Agar tidak hanya mendapatkan informasi dari kami, masyarakat, Insya Allah difasilitasi untuk mengunjungi Supreme Energi, selepas Idul Fitri,”ujar Cener disambut antusias warga yang hadir pada sosialisasi tersebut. (adr*)