Mematut Figur Minang di Timnas AMIN

oleh -1,458 views
oleh
1,458 views
Orang Awak di Timnas AMIN, dari teropong Ilhamsyah Mirman. (dok)

TIMNAS AMIN  digadang-gadang sebagai ‘the dream team’ didominasi figur professional dan non partisan dari berbagai kalangan dan mewakili kebhinekaan Indonesia.

Terpaan politik identitas sepertinya mulai mengikis dengan hadirnya figur yang dikenal bergaris nasionalis, bahkan tak risih menambahkan keterangan ‘Pendeta’ di nama tokoh Kristen yang didapuk menduduki posisi terhormat, berdampingan dengan deretan panjang ‘Kyai Haji’. Agak dipertanyakan dari aspek ke ‘siak’an orang Minang, karena praktis tidak terwakili.

Berbeda dengan TKN dan TPN yang diisi oleh jajaran top yang malang melintang dijagat politik nasional dan memang telah menjadi buah bibir sebagai ‘all the President’s men’.

Timnas AMIN justru banyak melambungkan nama ‘orang daerah’ seraya kentara benar memberi porsi lebih pada tokoh dari kalangan NU yang berbasis di Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Strategi yang ditinjau dari perspektif lain, urang awak sebagai misal, menarik untuk dikaji sejauh mana pengaruh terhadap pemenangan dan efektifitasnya dalam menggerakkan pemilih.

*Konfigurasi Timnas AMIN*

Dari dokumen yang beredar terlihat jelas nama-nama yang memperkuat Tim Nasional calon presiden/wakil presiden Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (AMIN).

Mulai dari Dewan Pembina yang di ketuai, Surya Paloh, beserta 5 (lima) anggota dan squad Pelatih diketuai oleh politisi Nasdem Ahmad Ali dengan tiga orang asisten mewakili figur tokoh senior partai pengusung dan Tamsil Linrung dari non partai. Tidak ada satupun nama urang awak.

Advisor/Dewan Pertimbangan dikoordinir oleh tiga orang sekretaris jenderal partai pengusung dan 11 (sebelas) orang anggota. Mulai level ini ada wakil Sumatera Barat, yaitu figur muda yang dikenal sangat dekat sejak kuliah di UGM dahulu dengan Anies, John Odius.

Dewan Penasehat diketuai KH. Syukron Makmun bersama 6 (enam) orang wakil Ketua dan 74 (tujuh puluh empat ) orang anggota.

Dalam daftar Dewan Penasehat menyertakan 6 (enam) orang figur Minang atau berdarah Minang, yaitu Willy Aditya, Fahira Idris, Fahrul Razi, Taufik Abdullah, Abbas Thaha dan Bachtiar Chamsyah. Di jajaran inti Timnas, mulai dari kapten, co kapten beserta sekjen, wasekjen dan bendaharah beserta wakil bendahara tidak terlihat ada wakil Minang.

Jajaran Deputi/wakil deputi dan sekretarisnya dengan total 98 (Sembilan puluh delapan) orang, menyisakan slot dua orang wakil ranah ini, yaitu akademisi Universitas Paramadina Handy Reza dan Herry Dharmawan, Putera kebanggaan Ketua Relawan Rumah Bagonjong Rosimeri.

Dewan Pakar Team AMIN diketuai mantan Ketua MK Hamdan Zoelva menempatkan 4 (empat) orang tokoh dari Sumatera Barat, yaitu mantan wakil Menteri Pendidikan sekaligus Rektor Universitas YARSI Jakarta Fasli Jalal, mantan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Dedy Ihsan dan aktivis NGO level global Suherman Noerman.

Selanjutnya pasukan yang langsung berhadapan dengan media dan publik, terdiri dari 89 (delapan puluh sembilan) orang sebagai juru bicara. Dua tokoh muda Minang, Muhammad Iqbal dan Ibrahim Irwan Prayitno didapuk memperkuat team yang banyak diisi oleh nama-nama beken sekelas Eva Sundari, Okki Asokawati, Syahganda Nainggolan, dll.

Ditambah satu lagi Ketua Team Kampanye Daerah (TKD) Sumatera Barat Rahmat Saleh, maka total 16 (enam belas) orang utusan di Timnas AMIN dari total keseluruhan 443 (empat ratus empat puluh tiga) orang, atau dirata-ratakan 3,6 %.

Masih di atas persentase penduduk Sumatera Barat yang menurut BPS tahun 2022 berjumlah 5.641.000, atau 2,04% dari total 275.774.000 penduduk Indonesia. Demikian pula kalau dibandingkan dengan jumlah keseluruhan bersama perantau yang diperkirakan berkisar 2-3 juta, total 8 (delapan) juta jiwa atau 2,9%.

Meski kalau mau ditelisik lebih tajam lagi, praktis hanya Rahmat Saleh bersama Irwan Prayitno dan puteranya Ibrahim yang tinggal di Sumatera Barat. Selebihnya perantau atau orang Minang yang jarang sekali memainkan isu atau bergumul keseharian dengan Sumatera Barat.

Dari unsur politisi didominasi atau pernah berinteraksi dengan PKS, yaitu 5 (lima) figur Handi Resza, Muhammad Iqbal, Rahmat Saleh dan duo Prayitno, Irwan dan puteranya Ibrahim.

Mewakili klub politisi lainnya, Willi Aditya dari Nasdem dan Bachtiar Chamsyah dari PPP serta Fahira Idris dari DPD RI Dapil DKI Jakarta. Selebihnya dari akademisi seperti Fasli Jalal, Taufik Abdullah, aktivis dan satu orang pensiunan jenderal bintang empat, Fachrul Razi.

*Urang Awak di Ring Satu*

Dari padangan yang berkembang di tengah masyarakat Minang disebutkan nama John Odius sebagai figur ring satu Anies sejak diamanahi Gubernur DKI Jakarta. Putera Kamang ini dipercayai sebagai anggota Dewan Pertimbangan bersama para sekjen dan tokoh senior partai pengusung dan orang dekat kedua capres-cawapres, termasuk Prananda Surya Paloh.

Hampir pada setiap kontestasi nasional selalu ada ring satu para tokoh yang berlatarbelakang Minang. Ambil contoh Sjahrul Udjud di pasangan SBY-JK atau Andrinov Chaniago yang dianggap tangan kanan Jokowi-JK, atau Fadli Zon di internal Prabowo. Mereka itu bisa dikatakan orang dekat, paling tidak pada satu masa atau era keemasan para tokoh tersebut.

Satu nama tokoh Piaman sekaligus bendahara DPP Nasdem sekaligus partner di iven ajang Formula E, yaitu Syahroni, yang agak dipertanyakan karena tidak masuk dalam daftar. Demikian pula utusan Cak Amin atau wakil PKB Sumbar tidak tampak. Selepas Feby Dt Berbangso pindah partai belum ada penyambung suara NU dari daerah ini di tingkat nasional.

Untuk Anies sendiri, selain tema pendidikan yang mempercayai Prof dr Fasli Jalal, sepertinya peran ‘ring satu’ tersebut terpatri di pundak John Odius sebagai wakil non partai. Tidak banyak memang bertriwikrama secara terbuka dan dadakan dari Prabowo ke Anies bagi tokoh-tokoh Minang.

Sejauh mana bisa memerankan dan menjadi suluh publik Sumatera Barat sekiranya AMIN diamanahi pamuncak tentu tidak bisa dilepaskan dari kesungguhan mereka dalam memperbesar jaringan sekaligus menambah suara melawan calon lain yang full support dari partai maupun kapasitas logistik.

Karena dari unsur pendukung AMIN sangat diharapkan sekali kesolidan relawan sebagai tumpuan utama mengandalkan ketokohan seorang Anies bertarung di kontestasi 2024, paling tidak dimata orang Sumatera Barat beserta jejaring rantaunya.

*So what gitu lho…*

Meski informasi tentang personal orang Minang di Timnas AMIN ini merupakan hasil telaah non akademik karena dilakukan secara umum, namun paling tidak bisa menggambarkan peran maksimal dalam proses laga pilpres.

Agak sulit mendeteksi sepenuhnya nama-nama yang tertera karena banyak dari perantau yang sudah lenyap atau tidak terdeteksi darah keminangannya.

Dari hampir lima ratusan, bahkan nyaris tujuh ratus orang secara keseluruhan, bisa dipastikan kalau seluruh nama yang memang akrab dengan telinga urang awak, baik kiprah keminangan maupun sayup-sayup terpantau melalui media, sudah tercover dalam tulisan ini.

Meski secara kuantitas diatas rata-rata nasional, namun kualitas maupun keterwakilan tokoh rasanya masih terbuka untuk dikritisi. Tidak lepas dari kelemahan ‘Team Sumbar’ harapannya mampu dikoordinir sekaligus diorkestrai oleh siapapun yang ada didalam.

Jangan sampai karena kurang dibukanya akses bisa mempengaruhi eksistensi dan kepedulian orang awak yang bisa berimplikasi pada hasil suara. Karena merangkul orang awak memang perlu seni tersendiri. Semua kembali sepenuhnya hak Anies dan Cak Amin menentukan siapa saja yang dipilih.

Lepas dari kemungkinan menang atau kalahnya, namun diyakini suara Anies akan signifikan di ranah bundo. Memang tidak mudah pertarungan dengan partai Gerindra sebagai pemenang dan Prabowo sebagai peraih suara digdaya, 76 dan 84 % dua pilpres terakhir Sumbar.

Namun dengan kesadaran masyarakat yang terbiasa dengan gerik dan gerak politisi tentu bisa diprediksi kearah mana angin bertiup. Alun takilek alah takalam, petuah orang tua dahulu yang masih dipegang erat sebagai pedoman di kehidupan keseharian.(analisa)

Oleh: Ilhamsyah Mirman
Founder Ranah Rantau circle (RRc)