Meningkatnya Permintaan Pakaian Daster Pak Makmur di Masa Pandemi

oleh -135 views
Dater Pak Makmur (dok)

Oleh : Jihan Ranjani Saputri

SEJAK terjadinya pandemi covid-19 perekonomian masyarakat mengalami penurunan salah satunya menurunnya pendapatan dan minat daya beli, beberapa pengusaha terpaksa gulung tikar karena tidak cukupnya modal untuk membangun usahanya kembali.

Berbeda dengan pengusaha pakaian daster, selama pandemi permintaan pada daster terus meningkat dari waktu ke waktu. baju daster dibuat dari berbagai macam kain seperti rayon dan kaos dengan model yang beraneka ragam.

Baju daster biasanya dipakai oleh wanita, menurut mereka menggunakan daster di rumah sangat efektif dan nyaman. Selama WFH (Work from Home) banyak wanita mengenakan daster maka dari itu permintaan pada pakaian daster terus meningkat.

“karena pekerjaan dilakukan di rumah terus jarang menggunakan pakaian formal, saya jadi sering memakai daster karena sangat nyaman dan bahan nya tidak panas.” ucap Nung 29 tahun, salah satu wanita karir yang bekerja di rumah karena terdampak WFH.

Pak Makmur (48 tahun) yang merupakan salah satu penjual pakaian daster cukup terkejut dengan permintaan daster yang meningkat selama pandemi, bahkan dia pernah menjual 60 kodi atau setara dengan 1200 pakaian daster dalam sehari. Dia menjual pakaian daster dari harga terendah yaitu dua puluh lima ribu hingga seratus dua puluh per daster.

“Semakin bagus kualitas bahannya maka semakin mahal harganya.” ungkapnya.

Sebelum membangun usaha pakaian daster, pak Makmur adalah seorang kuli bangunan karena penghasilannya tidak memuaskan, pak Makmur berhenti dari pekerjaanya dan mulai membuka usaha pakaian daster pada tahun 2010 dengan modal bersama istrinya, Dewi (45 tahun).

Pak Makmur mengakui bahwa dirinya tidak memproduksi pakaian daster yang ia jual, dia membeli pakaian daster di pusat pakaian daster salah satunya di daerah pekalongan, Jawa Tengah.

Awal membangun usaha pakaian daster dirinya mengunjungi berbagai tempat pusat produksi pakaian daster lalu menemukan tempat yang menurut dirinya bagus dari produksi hingga hasil Produksi. setelah menetapkan tempatnya, Pak Makmur tidak lagi mengunjungi langsung tempat produksi, dirinya hanya cukup memesan melalui telepon dan dikirim melalui pengiriman barang.

Terkadang barang yang ia pesan beberapa ada yang rusak dan bolong kecil untuk menghindari kerugian pak Makmur harus menurunkan harga bagi barang yang rusak.

Dalam mengenalkan produknya untuk jangka yang lebih luas pak Makmur aktif melakukan pemasaran di salah satu sosial media yaitu facebook dan dikelola bersama dengan istrinya.

Berkat pemasaranya yang sudah meluas pak Makmur mendapatkan pesanan dari luar daerah Jakarta seperti Medan dan Lampung. Selama meningkatnya permintaan pada baju daster, pendapatan pak Makmur terus bertambah dalam sebulan ia mendapatkan omzet sekitar Rp 40 juta

Dengan meningkatkan peminat dan menjaga agar pelanggan tidak mudah bosan, pak Makmur selalu menambahkan model pakaian daster yang baru. Ini merupakan Salah satu strategi dalam menjalankan usaha yang ditekuninya.

“Selama menjalankan bisnis mau sebanyak apapun saingannya, kesabaran dan konsep adalah hal yang paling utama.” ujar pak Makmur mengakhiri wawancara. (analisa)