Menyingkap Surga Hijau di Lingkup Kaki Tri Arga

oleh -316 views
oleh
316 views
Pakan Labuah nan amazing. (ilhm)

Oleh: Ilhamsyah Mirman

Founder RRc/TP2 Dewi Sumbar

“DARI 50 (LIMA PULUH) desa wisata agro, ini terdekat dari pusat aktivitas pariwisata Sumbar,”ujar Muhamad Subari.

‘Bahkan dari dua puluh wisata agro yang jadi target pendampingan tahun 2022, Jorong Tigo Baleh paling strategis,” lanjut Ketua Asosiasi Homestay Bukittinggi itu saat menapaki jalan usaha tani di pinggiran timur batas kabupaten Agam.

Bersama Ketua Pokdarwis Iqbal, Ketua LPM Surya, dan aparat kelurahan. Berganti langkah di pematang, padi, sawah lanyah dan aneka sayuran hijau. Dengan latar belakang puncak gunung, tempat asal nenek moyang orang Minang.

Diwarnai pula gemericik air saluran banda tangah dan seekor kerbau bermandi kubangan, di siang nan terik. Sungguh ‘dunia lain’ dari yang acap ditemui keseharian. Mengesankan.

View ciamik dengan posisi sangat menguntungkan, yang menjadi potensi bagi masyarakat, bukan sekedar klaim Nadia, Sekdis Pariwisata Bukittinggi. Mantan Camat Aur Birugo Tigo Baleh (ABTB) menjamu kuartet Indra Dody, Ilhamsyah Mirman, Muhamad Subari dan Yuliza Zein dengan berita gembira capaian jajaran Dinas Pariwisata di ruang pertemuan kantor lurah Pakan Labuah.

Kuartet Team Pemberdayaan dan Pengembangan Desa Wisata (TP2 Dewi) Sumbar ini selama dua hari memberi Pendampingan, Identifikasi Potensi dan pengembangan jaringan dengan _local champion_ langsung menangkap surga tersembunyi yang sepelemparan batu dari Jam Gadang.

Misi luhur yang ditugaskan Kadis Pariwisata Sumbar, Luhur Budianda bisa menjadi jembatan antara pelaku wisata dan para pemangku kepentingan yang memiliki pengalaman bisnis dengan masyarakat yang wilayahnya telah ditetapkan sebagai kawasan agro wisata. Termasuk tentunya mengajak instansi terkait membersamai program kolaborasi ini.

Potensi destinasi dan atraksi yang cukup atraktif, hamparan sawah diwarnai bangunan aneka motif rumah dan kubah mesjid serta _background_ 2 (dua) gunung ikon Sumbar Merapi dan Singgalang. Disisi utara jajaran bukit dengan Gunung Talakmau sebagai pelengkap ikut mewarnai siluet landscape menjadi wujud yang nyata-nyata menghijaukan mata. Tri Arga nan menggawangi.

Masyarakat relatif homogen dengan pola hidup agraris dan agamis menjadi penambah khas yang menarik bagi wisata syariah, terutama turis asal Malaysia. Sebagaimana diketahui pelancong negeri jiran sangat mendominasi kunjungan ke ‘tanah leluhur’nya ini.

Program ini kian prospektif dengan keberadaan situs bersejarah Nagari Kurai. Batu Jorong Limo, Balai Adat serta keberadaan Batang Kurai menjadi penanda kalau nenek moyang dahulu telah menghuni hamparan wilayah yang eksotis ini. Bahkan sebelum dibangun pasar Aur Kuning, simpang empat Pakan Kurai. Legenda turun temurun yang storynomicnya menjadi daya tarik tersendiri.

Sebagai penunjang pariwisata, sentra kuliner dan oleh-oleh, terutama cemilan cukup banyak tersedia. Bahkan kelurahan Kubu Tanjung di tetapkan sebagai kawasan UMKM, karena banyaknya produk industri skala kecil ditengah masyarakat.

Demikian banyak keunggulan namun belum bisa menjadi wujud konkrit kalau tidak ada yang mau turun langsung berjibaku. Persepsi miring perilaku wisatawan yang dianggap tidak sesuai norma adat, masih hidup ditengah masyarakat. Perlu edukasi terus menerus yang melibatkan ninik mamak dan tokoh masyarakat serta pemuda tentang esensi wisata agro.

Upaya pendampingan yang dilakukan Team Pemberdayaan dan Pengembangan Desa Wisata (TP2 Dewi Sumbar) sengaja memasukkan tema krusial ini dalam kunjungan pendampingan, Senin-Selasa (17-18/10). Agenda formal kedua yang direspon hangat ini dilaksanakan di rumah gadang Uwak Taluak, Ladang Cakiah.

Kelompok tani, ibu-ibu aktivis, LPM, pemuda serta perwakilan Dinas Pariwisata dan aparat kelurahan hadir. Acara yang dibuka dengan menikmati nasi _bungkuih_ daun atau _ka boka_ diawali presentasi Yuliza Zein tentang apa dan bagaimana Desa Wisata. Selanjutnya Subari yang membahas Peran Masyarakat dalam Penyediaan Homestay.

Hal yang mengemuka diacara yang di pandu Ilhamsyah Mirman adalah harapan para calon pegiat melihat langsung _success story_ yang disampaikan oleh kedua narsum. ‘Studi tiru’, memakai istilah yang kerap dipakai, menjadi kunci agar calon tuan rumah bisa melihat langsung pengalaman dilapangan. Ide awal yang dilemparkan ke forum oleh Ketua LPM Ladang Cakiah, Yerry Amiruddin langsung disambut oleh peserta yang hadir.

Pada bagian akhir, Indra Dodi membacakan draft Surat Kesepahaman, yang menjelaskan langkah pendampingan berdasarkan diskusi dan temuan lapangan. Surat Kesepahaman ditanda tangani Team Monev, Perwakilan Pokdarwis dan LPM serta Lurah dan Dinas Pariwisata Bukittinggi ini juga mencantumkan rekomendasi dan langkah terukur, lengkap dengan target waktu pelaksanaan.

Harapannya, agar seluruh pihak yang punya peran dan bertanggung jawab secara formal maupun moral dapat melaksanakan program membesut dari bumi yang langsung menyentuh masyarakat ini.(analisa)