Maulid Nabi Muhammad. SAW, dan Momen Sejarah Persatuan Islam

oleh -81 views
Khairul Ikhwan (dok)

Oleh : Dr. Khairul Ikhwan

(Pengurus LPTQ Sumbar)

DALAM sejarah Islam, terkait perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu, dan sudah menjadi komitmen sakral ummat Islam yang tidak boleh diabaikan atau merasa penting mengadakan perayaan tersebut.

Secara teori perlu dijelaskan asal usul perayaan tersebut (bisa dibaca dalam literatur) lahir dari Maulid Nabi berasal dari kalangan ahlus sunnah oleh Gubernur Irbil di wilayah Irak, Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri.

Dikisahkan, saat perayaan Maulid Nabi dilakukan Muzhaffar mengundang para ulama, ahli tasawuf, ahli ilmu, dan seluruh rakyatnya. Ia juga memberikan hidangan, hadiah, hingga sedekah kepada fakir-miskin. Bentuk kegembiraan Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri dengan momen kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Atau ada juga sejarahwan yang berpendapat perayaan Maulid diadakan oleh kalangan Dinasti Ubaid (Fathimi) di Mesir yang berhaluan Syiah Ismailiyah (Rafidhah). Mereka berkuasa di Mesir pada tahun 362-567 hijriyah.

Perayaan dilakukan sebagai salah satu perayaan saja. Selain itu, mereka juga mengadakan perayaan hari Asyura, perayaan Maulid Ali, Maulid Hasan, Maulid Husain, Maulid Fatimah, dan lainnya.

Ketiga asal usul perayaan tersebut secara teorinya dianggap benar, namun itu bentuk kecintaan kepada Nabi. Sesuai dengan kejadian lahirnya Nabi Muhammad SAW dilaksanakan pada tanggal 12 Rabiul Awal. Tanggal tersebut pun ditetapkan sebagai hari Maulid Nabi.

Namun, bagaimana sejarah Maulid Nabi yang lengkap?.
Rasulullah sendiri lahir di kota Mekkah saat tahun Gajah dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab. Namun, sang ayah meninggal dunia sebelum Nabi Muhammad lahir dan ibunya menghembuskan nafas terakhir saat Nabi berusia 6 tahun.

Sejarah momen lahirnya Nabi Muhammad SAW ini dijadikan sarana perekat persatuan ummat Islam, dimana di dunia ini ummat Islam menjadi bersatu padu memperingati, tidak terlepas di negri sendiri, dimana di Nusantara ini terjadi peringatan maulid Nabi yang terbukti bisa mengokohkan persaudaraan dan persatuan Islam tersebut.

Sejarah peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia juga tercatat semenjak dakwah Wali Songo atau sekitar tahun 1404 Masehi. Perayaan Maulid tersebut dilakukan demi menarik hati masyarakat memeluk agama Islam, bersatu bersama Islam.

Maka dari itu, Maulid Nabi di Jawa juga dikenal dengan nama perayaan Syahadatin. Selain itu, perayaan ini juga dikenal dengan Gerebeg Mulud karena cara masyarakat merayakan Maulid Nabi dengan menggelar upacara nasi gunungan.

Uraian sejarah di atas perlu sama-sama dipahami bahwa tidak ada keraguan lagi bagi ummat untuk tidak melaksanakan acara Maulid Nabi Muhammad SAW dengan cara, model, dan kegiatan apapun yang di dalamnya ada rasa syukur dan persatuan ummat Islam.

Di Sumatera Barat Kemeriahan Maulid Nabi Muhammad SAW ini dirasakan sekali di kehidupan sosial dan menjadi bagian dari budaya Islam. Dimana semua lapisan masyarakat di pelosok Nagari akan berkumpul melalui satu kegiatan, baik berkumpul melalui pringatan keluarga pribadi, melalui Surau Kaum/Korong/Jorong, dan Masjid Nagari atau Masjid anak dagang (Masjid Muhummadiyah) dipastikan menyelengarakan peringatan Maulid ini secara gembira dan meriah.

Dalam ajaran/kebiasan sosial budaya Islam yang diketahui oleh orang awam Sumatera Barat, bahwa peringatan Maulid ini ada dua model yaitu model pertama adalah Maulid Kariang/Berceramah, Pengajian diselenggarakan di masjid-masjid paham Muhammadiyah. Mereka berkumpul, mendengar ceramah kisah Nabi, besedekah membangun komitmen satu, dan padu.

Model kedua adalah Maulid Basah/ Maulid dengan cara model Syaraf al-Anaam yang diselengarakan di Surau/Jorong, Masjid Nagari dengan paham Syatariah yang dibawa oleh Syekh Burhanuddin yang dimakamkan di Ulak an.

Budaya ritual maulid Nabi Muhammad SAW dengan peringatan cara paham syatariah, bisa dilihat mereka ini dengan mengadakan acara secara besar-besaran, semua ummat, anak nagari tumpah ruah, semuanya bersedekah dengan macam bentuk, ini satu bentuk persatuan yang tidak bisa dinilai dengan materi, hanya ada di saat kegiatan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW saja.

Kedua bentuk peringatan ala ummat di Sumbar itu mencerminkan bahwa semua ummat berkumpul, bersatu padu dengan satu kegiatan ritual maulid Nabi Muhammad SAW, sebagai wujud bukti kecintaan ummat kepada Rasulullah.

Melihat acara ritual maulid Nabi Muhammad SAW ini dapat ditemui di semua elemen masyarakat yang antusias untuk berkorban, mengikatkan diri satu ikatan bahwa semua ummat satu, terbangun persatuan cinta kepada sosok yang terlah merubah peradaban ini dengan Islam.

Tulisan ini sengaja kembali memaparkan sejarah dan makna dari peringatan maulid Nabi Muhammad SAW ini dengan tujuan agar ummat jangan terpecah belah. Namun tetap bersatu padu seperti ikatan lidi yang kuat yang tercermin dari antusias masyarakat memperingati acara maulid Nabi Muhammad SAW tersebut.

Momen ini ke depan sudah barang tentu tujuannya adalah bagaimana peringatan maulid Nabi Muhammad SAW pada tahun 2021 ini menjadi momen kebangkitan ummat bersatu keluar dari pandemi covid-19.

Wallahu’alam..

(tayang di teras Padeks 19 Oktober 2021)