Nanda Gadis Belia, Hidupi Tiga Adiknya dengan Jualan Onde-onde

oleh -257 views
Bupati Pessel Hendrajoni dan Istri Lisda jamu Nanda bersama tiga adiknya di rumah dinas, Sabtu 15/9 (foto: mario)

Painan,—Hidup di tengah segala keterbatasan tanpa penerangan, tanpa alas tidur, tanpa selimut dengan dinding rumah kayu yang telah rapuk dengan banyak lubang angin dicelah – celahnya.

Itulah lakon hidup gadis belia, Nanda (16 tahun) harus menghidupkan bersama tiga orang adiknya di sebuah kampung Taratak Sungai Lundang, Nagari Taratak Sungai Lundang, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan.

Sudah 4 Tahun ke empat bocah ini hidup tanpa kedua orang tua, ibu telah meninggal dunia, dan ayah telah pergi meninggalkanya, Nanda (16), Nabila (13), Bella (12) dan Samuel (8), nama bocah nya.

Dikalah anak seusia mereka bisa menikmati aktifitas bersama kedua orang tua, mendapatkan perhatian dan kasih sayang kedua orang tua, dan segala kebutuhan yang cukup. Namun tidak bagi ke empat bocah ini, untuk mencukupi kebutuhan hidup ketiga adik-adiknya itu, Nanda harus berjualan onde-onde keliling kampung demi ketiga adiknya.

Sang Ayah sejak empat tahun silam ibunya meninggal telah pergi jauh dan sampai kini tak ada kembali, empat orang bocah ini harus tidur berempat di rumah, sementara untuk menerangi rumah nya Nanda hanya menggunakan lampu tempel. (lampu minyak).

Keterbatasan segalanya membuat Nanda hanya mampu mencicipi bangku sekolah sampai kelas 5 Sekolah Dasar, seribu – dua ribu rupiah Nanda kumpulkan setiap hari dari hasil penjualan onde- onde untuk membeli kebutuhan hidup bagi ketiga adiknya. Dan sesekali ia pun bekerja sebagai pemotong rumput dengan upah Rp 30 ribu, itu pun tidak setiap hari.

Kehidupan Nanda bersama tiga adiknya  cukup mengharukan. Hingga anak seusia mereka yang seharusnya mendapatkan pendidikan selayaknya harus putus, harapan dan cita-cita mereka mungkin sama seperti anak seusia mereka ingin hidup layak dan pendidikan yang sama.

Sandang, Pangan dan Papan yang serba keterbatasan, melihat anak membeli baju, sekolah, mainan, bermain bersama orang tua mereka, Nanda harus mengelus-mengelus dada, karena kondisi yang menjepitnya.

Walaupun begitu, Nanda tetap semangat dengan segala keterbatasan yang ada, ini lah yang harus kita ambil sisi positif dari semangat (spirit) mereka untuk hidup.

“Jualan onde- onde, dan potong rumput untuk mencukupi kebutuhan adik di rumah,”ujar Nanda.

Melihat lakon hidup sehari-hari dijalani Nanda bersama tiga adiknha itu akhirnya terdengar oleh telinga pemerintah kabupaten Pesisir Selatan (Pemkab Pessel).

Pemkab Pessel turun kerumah Nanda di
Taratak Sungai Lundang, Nagari Taratak Sungai Lundang, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan. Kemarin, Sabtu 15/9 kemarin.

Lisda Hendrajoni bersama tim Bedah Rumah Pemkab Pessel, didampingi pihak Kecamatan dan Nagari, membawa Nanda dan ketiga orang adiknya kerumah dinas untuk menginap, dan makan malam bersama Ketua TP. PKK Pessel Lisda Hendrajoni, dan Bupati Pessel H.Hendrajoni. Sementara rumah mereka akan dibedah, oleh Pemkab Pessel.

“Selama ini tidak ada laporan dari warga, ini kita dapat informasi dari media, dan kita langsung turun, dan mulai sekarang rumah mereka kita bedah,”ujar Lisda.

Sebelum diajak berbelanja, Nanda bersama tiga orang adiknya dijamu makan pagi bersama di rumah dinas Bupati, bersama Bupati Pessel H.Hendrajoni, dan Ibu Bupati Lisda Hendrajoni. Sambil menikmati makanan, Nanda bercerita-cerita tentang adik – adiknya.

Kedepan kata Lisda PKK Pesssl akan dibaantu dengan kemampuan yang ada. Pemkab Pessel sangat menaruh prihatin, sedih dengan kondisi mereka.

“Kita, juga bantu Sembako,”ujarnya

Didampingi Lisda, Nanda dan ketiga adiknya, Minggu 16/9 diajak berbelanja di salah satu pasar di Kabupaten Pessel.

Nampak sumringah terpancar dari wajah Samuel (8) saat membeli mainan topeng, baju dan sepatu, hal yang sama juga dirasakan Nanda (16), Nabila (13), Bella (12), membeli baju.

“Mudah-mudahan bantuan ini cukup bisa meringankan beban hidup Nanda bersama adik-adiknya, dan setelah berbelanja Nanda akan kita bawa lagi ke kampunnya, tinggal sementara bersama tetangga, sambil menunggu rumah mereka dibedah,”ujar Lisda.(oleh: mario rosy)