Pasaman Barat H+9 pasca gempa, banyak PR ‘tergantung’

oleh -115 views

 

Report by

Ilhamsyah Mirman

Founder RRc – IKA Unand Peduli

Alhamdulillah, trip 2 perjalanan ‘Timbo Abu – Kajai Bangkit’ (5/6) kolaborasi Ranah Rantau circle (RRc) dengan URC IKA Unand Peduli, didukung Dinas Perkimtan Sumbar, Kogami, IKBA Satili & Ukhuwah 12-89, lancar dalam suasana cerah. Meski diwarnai kabut dan hujan di sepertiga perjalanan, antara Bawan – Simpang IV, namun situasi umum mulai mengarah normal.

Giat awal koordinasi dengan mahasiswa yang bertugas sebagai team pendataan/assessment, warga Timbo Abu (lokasi sasaran utama pembuatan Huntara) serta dialog bersama pengungsi.

Banyak informasi dan kondisi terbaru dari ketiga kelompok tadi, mahasiswa, masyarakat dan pengungsi, yang perlu dicermati agar proses berikutnya, rehab rekon maupun pemulihan kehidupan pasca gempa dapat berjalan cepat dan berlangsung dengan baik.

Bangunan dilokasi jorong Tanjung Beruang, Nagari Kajai, berhasil di data subkelompok yang terdiri dari 3 orang, sebanyak 34 rumah. ‘Kesulitan dilapangan, banyak rumah yang dibongkar pemiliknya, sehingga saat kami datang membuat penilaian, umumnya masuk kriteria rusak berat’, ungkap Habibi.

Dikoordinir oleh Geby, sebanyak 106 mahasiswa Unand bersama beberapa perguruan tinggi lainnya, terlibat dalam proses yang bakal di jadikan dasar bagi pemerintah membantu hunian terdampak gempa.

BNPB, sebagai penanggungjawab, menggandeng Pusat Studi Bencana (PSB) Unand koordinator pendataan yang direncanakan dalam waktu sepuluh hari dapat diketahui jumlah dan kategori kerusakannya.

Dengan sikap warga yang mulai berbenah merapikan tempat tinggalnya, tentu bakal menyulitkan. Bukannya tidak mungkin akan menghasilkan data baru yang berbeda jauh dengan yang selama ini dijadikan acuan.

Sementara kondisi Nagari Persiapan Simpang Timbo Abu kian memilukan. Adanya longsor jalan Jembatan Panjang – Talu, membuat makin terisolir. Dua jalur ke arah Kajai kondisinya masih tak menentu.

Memanfaatkan potensi yang ada dan intensnya perhatian, hendaknya dinas teknis terkait proaktif mengajak peran strategis kepada para donatur membantu.

Bukan sekedar sembako, terpal atau baju bekas, namun sumbangsih berupa peminjaman alat berat, truk pengangkut, material bangunan dan tenaga terampil, amat berarti saat ini.

Demikian pula nasib pengungsi di halaman kantor Bupati Pasbar. Meski dilengkapi toilet portabel, namun kenyataannya tiga dari enam toilet tersebut dalam kondisi terkunci. Suasana tenda besar mengeluarkan bau kurang sedap, karena udara sepertinya tidak mengalir dengan baik. Padahal jumlahnya sudah jauh berkurang ketimbang hari sebelumnya.

Dari ketiga kondisi tersebut, bisa disimpulkan banyak pekerjaan rumah. Mau tidak mau harus diperkuat koordinasi dan kesungguhan para pengemban amanah. Harapannya tentu segala permasalahan dapat dicarikan solusi terbaik dan secepatnya, agar tidak berlarut-larut.

Sekalipun tema gempa hanya berlaku di satu dua nagari dan selingkup halaman, karena diseberang pagar kantor bupati kaum muda duduk santai menikmati udara malam, namun bagaimana kita menangani kerja kemanusiaan ini menjadi catatan kedepan.
Tingginya partisipasi pemerintah (pusat dan daerah) dan para dermawan diranah dan rantau, serta turun tangannya ratusan relawan, hendaknya menjadi penyemangat aparat pemerintah daerah Pasaman Barat khususnya.

Seluruh team Penanganan Darurat Bencana (PDB), dengan dukungan aparat daerah dan pengusaha lokal, terutama perusahaan sawit besar, punya peran vital untuk menormalkan kembali kehidupan warga sejak dini, tanpa harus menunggu selesai masa tanggap darurat bencana.

@AngsaPutih – 060222