PE Sumbar Kecil, Kepala Daerah Berhentilah Mabuk Award

3958
Andrianof ajak kepala daerah di Sumbar fokus kerja percepat pertumbuhan ekonomi, tidak berburu award lagi, Kamis 13/7 pada diskusi WAG AC SHARING. (foto: google)

Padang,—Menjelang proses lanjutan pemindahan ibuk kota negara dari Jakarta ke Kalimantan, Sumatera Barat (Sumbar) harus bersiap.

Tapi melihat pertumbuhan ekonomi Sumbar yang berjalan seperti siput banyak pihak menilai sulit bagi Sumbar untuk menjadi provinsi maju di segala sektor.

“Jangan bicara Sumbar minin SDA, lihat Sulawesi kekayaan SDAnya sedikit di atas Sumbar tapi laju ekonominya kencang di atas tujuh persen,”ujar Mantan Menteri Bappenas, Andrianof Chaniago saat diskusi pagi pada whatshap group (WAG) AC SHARING, Kamis 13/7.

Menurut Andrianof, mengapa provinsi di Sulawesi mampu memacu pertumbuan ekonominya walau kekayaan SDA tidak melimpah.

“Kepala daerah di pulau Sulawesi itu tidak mabuk, tidak latah award atau penghargaan artifisial melainkan fokus memajukan pertumbuhan ekonomi daerahnya,”ujar Andrianof.

Sedangkan di Sumbar, anggota WAG AC Sharing hanya menimpali dengan emotion tertawa, senyum dan lain yang menandakan kepala daerah di Sumbar masih banyak berburu award sebagai eksistensi jabatan dan diri.

“Mabuk award ini hentikanlah lagi , fokus saja kepada pemberdayaan ekonomiI, tidak perlu award yang penting pengkuan rakyat yang dipimpin mestinya untuk eksistensi diri dan jabatan itu,”ujar anggota WAG AC SHARING yang juga wartawan senior, Gusfen Khairul.

Menimpali reaksi warga group, Andrianof mengingatkan supaya kepala daerah tidak mabuk lagi pada penghargaan atau award.

“Lebih baik belajar ke Sulawesi, kenapa ekonomi mereka tumbuh pesat. Struktur sumber daya alam Sumbar mirip dgn provinsi di Sulawesi. Bahkan mungkin Sumbar lebih kaya.Tetapi kenapa pertumbuhan ekonomi kita jauh di bawah Sulawesi dan hanya sedikit di atas rata-rata nasional, ini lebih bagus ketimbang berburu award,”ujar Andrianof.

Dan tidak banyak alasan pertumbuhan ekonomi Sumbar bergerak seperti jakab siput.

“Terbukti mesk angka pertumbuhan ekonomi Sumbar sedikit di atas rata-rata nasional, tapi angka pengangguran juga di atas nasional. Padahal, sebagian tamatan SMA dan sarjana di Sumbar juga sudah mencari kerja ke daerah lain, alias merantau. Nah, beban ekonomi sudah berkurang, tapi itu pun tidak dikerjakan dgn serius,”ujar Andrianof.

Sedangkan terkait pemindahan ibu kota negara sudah lama dikaji bahkan tertuang pada Visi Indonesia 2033 yang konseptornya Andrianof Chaniagoa, putera asli Sumatera Barat.

Menurut Gusfen, pindah ibu kota negara banyak yang sontak apalagi banyak yang tergantung selama ini di Jakarta.

“Harus ada penyamaan strategi bersinergi dengang proses pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan atau kemana saja,’ujar wartawan senior Gusfen Khairul.

Pembicaraan dan kajian pindah ibu kota negara makin mengerucut. “Sumbar jangan sampai jadi penonton terkait pindah ibu kota negara ini, harus bersiap karena peluang dan tantangannya pasti ada, harus ada rencana antisipasinya,”ujar Gusfen.

 

Diskusi WAG AC SHARING ini merupakan pengayaan dan wadah ide untuk menjadi masukan bagi daerah di Sumbar.

“Murni, tidak punya kepentingan apa pun,”tegas Andrianof.(wandi)

BAGIKAN