Pencalonan Wapres Cak Imin, Kesantunan dan Legacy ala PKB

oleh -437 views

Oleh : Noura Fadhilah

CAWAPRES jomblo menjadi ledekan yang begitu sering kita dengar ahir-ahir ini baik di stasiun TV atau dalam diskuSi-diskusi publik terkait Pilpres yang di tujukan kepada Cak Imin dan PKB.

Banyak Sindiran-sindiran lain yang juga harus di terima oleh Cak Imin dan oleh banyak kader PKB, atas keinginan dan harapan mereka pada Ketumnya, agar Cak Imin bersedia mencalonkan diri menjadi wakil presiden di 2019 nanti.

Saya rasa tidak ada satu pun partai atau kader partai yang tidak mengharapkan ketum partainya bisa meraih posisi presiden atau wakil presiden. Karena itu berarti, harapan dan cita-cita partai mereka tentang Indonesia akan menemukan realitanya, jika pimpinan partai mereka menjadi orang nomer 1 atau nomer 2 di negeri ini.

PKB adalah partai yang lahir dari Doa dan buah pikiran para Kiyai dan ulama. Sebagai partai yang lahir dari rahim NU, tentunya ada kesantunan ala Islam tradisional yang di ajarkan di pondok-pondok pesantren yang juga di wariskan dan menjadi WAY (jalan, arah atau cara) bagi PKB dalam merespon atau memaknai sesuatu.

Ledekan sebagai Cawapres jomblo mungkin terlihat begitu miris dan cukup menyedihkan. Dikatai belum ada yang meminang tapi sudah menyatakan diri akan maju sebagai cawapres.

Tapi PKB punya argumentasi rasional sendiri atas pilihan sikapnya yang di tertawai dan menjadi bahan ledekan partai lain dan banyak pihak.

Jika para Kader PKB dengan Percaya diri mendorong Ketumnya untuk maju sebagai calon Presiden, apa kah itu tidak akan dimaknai, bahwa PKB merasa kepemimpinan Presiden Jokowi ini memiliki banyak persoalan sehingga tidak perlu diberikan kesempatan kembali untuk 2019.

Akan tetapi, PKB memilih mengedepankan kesantunan dan menekan ego kepartaian. Hanya merasa cukup puas jika bisa mendorong Ketum partainya menjadi Cawapres Presiden jokowi di Pemilu 2019, Karena PKB memberikan apresiasi yang baik atas kerja pemerintahan Presiden Jokowi.

Kesantunan dalam budaya keseharian bangsa kita, ini semakin hari semakin tergerus. Nilai-nilai kesantunan berganti dengan sikap egaliter atau kesetaraan dalam segala hal. Bukan ingin mengembalikan nilai feodalisme, namun mendidik anak bangsa tidak cukup hanya dengan retorika tanpa legacy.

Pilihan PKB menyebutkan harapannya dan mendorong Ketumnya menjadi wakil presiden Jokowi, karna PKB menghargai kepemimpinan presiden Jokowi. Karena bagaimana pun Presiden Jokowi juga manusia yang memiliki perasaan, bukan malaikat apa lagi robot.

Presiden Jokowi sebagai manusia biasa, saya rasa tentunya berharap semua partai mitra koalisinya yang hari ini menjadi bagian dari pemerintahannya, bisa kembali mendukung presiden Jokowi di Pemilu 2019 nanti, termasuk PKB pastinya.

Ada nilai-nilai baik yang ingin disampaikan oleh PKB dengan pilihan mendorong Ketumnya, hanya pada posisi wakil Presiden, dengan harapan nilai-nilai ini akan menjadi legacy bagi generasi selanjutnya dalam memandang kekuasaan. Bahwa ada perasaan dan hati manusia lain yang harus di pertimbangkan, bukan hanya sekedar mendorong dan mengantarkan Ketumnya untuk meraih posisi yang tinggi dalam pemerintahan. Ada Perasaan dan hati Presiden Jokowi dan keluarganya, ada perasaan dan hati seluruh loyalis Presiden jokowi termasuk menteri-menteri Presiden Jokowi yang beberapa di antaranya juga merupakan kader Partai PKB yang menjadi pertimbangan.

Akan berbeda ceritanya jika Pemilu 2019 adalah masa akhir pemerintahan presiden Jokowi di periode ke2, maka tentunya PKB pasti dengan percaya diri mendorong Ketum nya untuk maju sebagai Presiden.

PKB memang menunjukkan harapan jelas agar Ketumnya bisa di “pinang” sebagai wakil presiden oleh Presiden Jokowi. Untuk bisa bersama-sama melakukan dan mewujudkan banyak hal untuk Indonesia. Akan tetapi, ibarat “gadis cantik “ yang cerdas dan sadar akan seberapa besar potensi dirinya, maka PKB pasti menunjukkan ketertarikan cukup pada presiden Jokowi terlebih dahulu, sebelum membuka hati dan komunikasi dengan kandidat calon presiden lain. karena PKB menghargai hubungan koalisi dalam pemerintahan dan hubungan personal serta emosional yang sudah terbangun antara Presiden Jokowi dengan Cak Imin(PKB) selama ini.

Kecuali jika Cinta PKB pada Presiden Jokowi ternyata hanya bertepuk sebelah tangan, maka tentunya PKB pasti akan segerah move on dari cinta lama, dan akan berusaha menemukan cinta baru yang bisa bersinergi bersama untuk memberikan yang terbaik untuk Bangsa dan Negara ini kedepan.

Pilihan menjadi Eapres Presiden Jokowi yang diharapkan kader PKB untuk Ketumnya, saya rasa itu bukan karena PKB merasa kurang percaya diri untuk mendorong Ketumnya sebagai Presiden di Republik ini. Pilihan Sikap PKB ini sepertinya lebih pada keinginan memberikan legacy bagi generasi muda bangsa ini, bahwa menghargai Presiden sebagai pemimpin tertinggi Bangsa ini harus di lakukan, oleh semua pihak.

Menempatkan diri sebagai rival jokowi adalah pilihan terakhir bagi PKB. Membaca banyak statment yang pernah disampaikan oleh Ketum PKB di media-media, dalam pandangan Cak Imin dan PKB, pemerintahan presiden Jokowi sudah berada di rel yang benar. Maka menjadi sangat logis jika PKB mengharapkan dan mendorong Ketumnya untuk bersanding dengan Presiden jokowi di Pemilu 2019 nanti.

Pemerintahan Presiden Jokowi bukan pemerintahan tanpa cela, ada beragam isu-isu panas yang bisa digelindingkan oleh banyak pihak untuk membuat pemerintahan Presiden jokowi berhenti di 2019. Namun semua pihak juga harus berani mengakui dengan jujur bahwa kinerja pemerintah Jokowi ini bukanlah pemerintahan dengan rapor buruk. Memang belum maksimal, karena begitu beragamnya kompleksitas persoalan di tengah bangsa yang sedang tumbuh dan berkembang seperti di Indonesia saat ini.

Dalam pandangan saya, Pemerintahan Presiden Jokowi perlu diberikan kesempatan kembali untuk melanjutkan semua yang sudah dilakukan selama ini. Akan tetapi, ada beberapa catatan yang tentunya yang harus menjadi perhatian serius oleh presiden Jokowi dan tim 2 periodenya. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim, maka sudah sewajarnya, jika mayoritas muslim menghendaki para pemimpinnya adalah pribadi yang memiliki pengetahuan ke Islaman cukup dan mendapatkan dukungan kuat dari para Kiyai, Habaib serta Ulama. Dan keberpihakan pemerintah pada rakyat pribumi dalam persoalan kemandirian pangan, ekonomi rakyat dan tenaga kerja ini juga merupakan point-point penting yang akan menjadi penentu pemerintahan presiden Jokowi akan terhenti di periode ini atau akan berlanjut di periode berikutnya.

Mengutip pernyataan Cak Imin dalam salah satu tayangan program TV, tepatnya program Mata Najwa belum lama ini, Cak Imin memiliki jargon dalam berpolitik, bahwa Politik itu harus dilakukan dengan riang gembira. Saya percaya, Pribadi yang memandang Politik ini sebagai bagian dari aktivitas yang harus di lakukan dengan riang gembira, pastinya akan berusaha menjaga hati dan perasaan pihak-pihak lain agar tidak merasa tersakiti apalagi sampai merasa terkhianati oleh kawan-kawan mitra koalisinya sendiri.

Politik riang gembira ala Cak Imin mungkin bisa menjadi cara, untuk memperkenalkan politik dengan wajah yang berbeda pada generasi muda. Untuk menghadirkan ketertarikan kaum muda pada dunia politik, agar tidak menjadi generasi muda yang apatis pada situasi bangsa dan negaranya, karena memandang politik sebagai sesuatu yang buruk dan hanya menjadi pilihan pribadi-pribadi tua dan serius.

Politik riang gembira ala Cak Imin, bahkan mungkin bisa menjadi menjadi solusi untuk kampanye besar KPU RI, dalam rangka peningkatan partisipasi publik dalam pemilu.

Mengamati warna-warni mozaik yang lahir dari pikiran para Kiyai, ulama, santri-santri NU dan kawan-kawan politisi baik muslim maupun Non muslim yang ada bersama PKB, memang selalu menarik. PKB selalu punya cara sendiri untuk menjawab setiap persoalan bangsa dan negara, namun pasti memiliki pesan yang dalam untuk menujukan cara berdakwa dengan nilai-nilai keIslaman itu sebaiknya, tidak dilakukan dengan cara yang keras apa lagi kasar.

Nilai-nilai ke-Islaman harus senantiasa di sampaikan dengan kesantunan, agar bisa menjadi legacy bagi generasi berikutnya dalam merawat keberagaman yang ada di tengah bangsa.

Kekuasaan bukanlah segala-galanya, tapi kebersamaan dengan riang gembira mengurusi bangsa dan negara demi menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat adalah tujuan.

Damailah dan Jayalah Bangsaku, Sejahterahlah Rakyatnya…😊🙏🏻(analisa)