Pendamping Desa Pilar Penting Pembangunan Desa

oleh
Pendamping Desa harus bisa menjadi entrepreniur karena paham potensi desa, Semarang, Kamis 22/11 (foto: humker/kdpdtt)

Semarang,—Peningkatan kapasitas pendamping desa terus dilakukan pemerintah dalam upaya percepatan pembangunan di desa-desa. Pendamping desa juga diperlukan dalam upaya pendampingan program dana desa dan program inovasi desa.

“Pendamping desa ini kan salah satu pilar yang sangat penting untuk pembangunan desa. Desa-desa perlu pendampingan dan kapasitasnya kita tingkatkan terus,”ujar Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo saat memberikan arahan pada acara Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pendamping Desa se-Provinsi Jawa Tengah di Setos Hotel, Semarang, Kamis 22/11.

Eko melanjutkan, dana desa pada tahun depan lebih banyak dipakai untuk pemberdayaan masyarakat, karena peningkatan Sumber Daya Manusia sangat penting, dan pemberdayaan ekonomi desa. Dengan adanya pendamping desa ini diharapkan bisa memunculkan potensi dan inovasi di desa-desa untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di desa.

“Kita bisa mencontoh desa-desa yang BUMDes-nya sukses, sekarang sudah banyak BUMDes yang membayar pajaknya lebih besar dari dana desa yang diterima. Nah ini kita copy, kita tularkan melalui pendampingan pendamping-pendamping desa supaya disampaikan ke perangkat dan masyarakat desa binaannya masing-masing,” jelasnya di hadapan para pendamping desa.

Lebih lanjut Ia mengatakan, pelatihan kepada pendamping desa ini terus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas pendamping desa. Salah satunya untuk menggenjot program inovasi desa. Karena dengan inovasi desa, desa-desa lebih cepat maju.

Contohnya seperti di Desa Kutuh, Bali. Karena inovasinya membelah tebing yang awalnya untuk budidaya rumput laut, ternyata bisa menjadi jalan ke pantai dan menjadi desa wisata dengai Pantai Pandawa-nya. Tahun lalu sekitar 1 juta wisatawan yang berkunjung dengan penghasilan desanya dari BUMDes/ Badan Usaha Milik Desa Adat (BUMDA) sebesar 34 Miliar, penghasilan bersih 14 Miliar dan Pajak 3 Miliar, padahal dana desanya Rp800 juta.

“Dengan bursa inovasi desa, keberhasilan desa lain kita copy. Kalian tinggal ambil saja dari media sosial, website kemendesa.go.id, atau inovasidesa.kemendes.go.id ada ribuan video contoh pemberdayaan ekonomi seperti desa-desa wisata. Saya yakin inovasi-inovasi ini akan membantu pertumbuhan ekonomi di desa-desa dan membantu pendamping desa jadi pengusaha-pengusaha di masa datang,” paparnya memberi semangat dan optimisme.

Pendamping Desa Ayo jadi Pengusaha

Menteri Eko mendorong para pendamping desa untuk menjadi pengusaha-pengusaha di desa.

“Kalian tidak mungkin jadi orang kaya karena jadi pendamping desa. Tapi kalian bisa kaya karena pernah menjadi pendamping desa. Gimana caranya? Kalian para pendamping desa tahu potensi desa. Akan ada banyak peluang di desa. Saya berharap kalian lihat kesempatan di desa untuk peluang-peluang usaha di desa. Saat ini Kemendes PDTT dengan World Bank sedang membangun bagaimana mendidik jiwa entrepreneur pendamping desa,”tegasnya.

Dia pun mengungkapkan bahwa pendamping desa bisa berkontribusi pada pengembangan ekonomi berupa BUMDes.

Pemerintah membentuk PT Mitra BUMDes Nusantara bekerja sama dengan BUMDes membentuk PT Mitra BUMDes Desa. Yang nantinya akan salurkan pupuk, sembako dan lain sebagainya kemudian ke warung-warung, desa-desa, bisa kerja sama juga dengan Pertamina melalui pompa-pompa bensin dan lain-lain Indo grosir, E-commerce.

“Kalian bisa lihat peluang-peluang itu. Kalian bisa bikin satu usaha,” ujarnya.

Terkait kontrak pendamping desa, Menteri Eko mengungkapkan ada sekitar 40 ribu pendamping desa yang sudah mendapatkan pelatihan dari pemerintah dengan biaya Rp 2 Triliun, yang akan terus ditingkatkan kapasitasnya.

“Jadi jangan takut kontrak diputus kalau berkinerja baik, kita juga supaya tidak memulai mendidik lagi dari nol kalau rekrut lagi pendamping desa yang baru. Saya lebih butuh pendamping desa, ketimbang pendamping desa butuh saya,”pungkasnya.

Acara Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pendamping Desa se-Provinsi Jawa Tengah ini dilaksanakan dari tanggal 19-23 November dan dihadiri sekitar 1.380 pendamping desa, 141 Pelatih dari Tenaga Ahli. Pelatihan ini melingkupi isu-isu pengembangan inovasi desa dan mempertegas posisi pendamping desa.(*rilis: humker/kdpdtt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *