Peran Semua ELEMEN BANGSA untuk Mengakhiri Badai COVID 19

oleh -352 views
dr Akmal Hanif, angka kematian Covid-19 di Sumbar tertinggi di Sumatera dan persentasenya tinggi dari data nasional, Senin 27/4 (foto: dok)

Renungan Buat Kita Semua

Oleh: dr Akmal Hanif

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

SAAT ini kita telah memasuki minggu ke 9 sejak kasus COVID-19 dikonfirmasi positif di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020.

Data terakhir per tanggal 27 April jumlah kasus COVID-19 terkonfirmasi positif di Indonesia sebanyak 9096 kasus, dengan jumlah kasus sembuh sebanyak 1151 kasus dan kasus meninggal sebanyak 765 kasus.

Berita baiknya saat ini jumlah kasus yang sembuh lebih banyak dari kasus meninggal. Namun berita buruk nya Angka Kematian Kasus Nasional masih tinggi 8,4 persen.

Kasus COVID-19 terkonfirmasi positif di Sumatera Barat pertama kali dilaporkan pada tanggal 28 Maret 2020, dan saat ini kita memasuki minggu ke 5 dengan jumlah kasus COVID-19 terkonfirmasi positif 121 kasus dengan jumlah kematian 14 kasus. Angka Kematian kasus di Sumatera Barat sebesar 11,6 persen, jauh lebih tinggi dari Angka Kematian Kasus Nasional.

Apakah kekhawatiran kita semua Sumatera Barat akan menjadi kuburan massal akan terjadi. Wallahu alam

Di awal pandemi COVID-19, Negara mempunyai 2 pilihan yaitu (1) *Fight it hard now* (berjuang keras sekarang) atau (2) *We will suffer a MASSIVE epidemic/pandemic* (kita akan menderita wabah masif).

Pada akhirnya Negara/Pemerintah Pusat memilih opsi nomor 2, dan itu lah yang kita rasakan sekarang betapa masifnya peningkatan jumlah kasus COVID 19 terkonfirmasi positif.

Dalam penatalaksanaan epidemi/pandemi wabah, semua upaya yang dilakukan *bertujuan bagaimana menurunkan puncak kurva kasus*. Semakin intensif upaya yang dilakukan semakin cepat kurva menjadi landai dan ini juga tergantung kepada kapasitas pelayanan kesehatan yang berbeda beda di masing masing daerah.

Dari contoh beberapa Negara melakukan upaya yang intensif untuk memutus rantai penularan dengan melakukan isolasi kasus, karantina di rumah, pakai masker, cuci tangan dan social distancing.

*Upaya ini bila dilakukan oleh lebih dari 70 persen populasi/penduduk ternyata sangat efektif* secara bermakna dapat menurunkan puncak kurva.

*Apa yang menjadi problem kita?*
Ada 3 kemungkinan yang menjadi problem kita yaitu

(1) *underdiagnosis* dimana kasus yang terkonfirmasi positif Covid 19 masih jauh dari jumlah yang sebenarnya.

(2) *kapasitas pelayanan kesehatan kita masih sangat rendah* mencakup jumlah dokter, jumlah tempat tidur Rumah Sakit, jumlah tempat tidur ruang rawat intensif (ICU) dan.jumlah APD.

(3) *Strategi (contigency plan)* yang akan dijalankan harus jelas dan konsisten

(1) *underdiagnosis?*
Data dari 11 Negara di Asia Tenggara per tanggal 25 April 2020 memperlihatkan *jumlah rasio test COVID-19 di Indonesia masih sangat rendah* dan menempati rangking terbawah, yaitu 235 test / 1 juta penduduk, jauh lebih rendah dibandingkan dengan Negara Brunei Darussalam 28.413 test/ 1 juta penduduk dan Singapore 16.203 test/ 1 juta penduduk.
Padahal secara iklim dan genetik kita tidak berbeda dengan mereka, tetapi *ada perbedaan dari kesigapan pemerintahnya, sistem kesehatan sebelumnya, karakter masyarakat nya dan kemampuan kita untuk melakukan test*

(2) *Kapasitas pelayanan kesehatan yang masih sangat kurang*
(1) Rasio dokter di Indonesia hanya 4 per 10.000 penduduk, jauh kurang dibandingkan dengan rasio dokter di Singapura 23 per 10.000 penduduk, Malaysia 16/10.000 penduduk.
Dalam hal rasio dokter ini, Indonesia menduduki *rangking terbawah dibawah Timor Leste dan Laos*

(2) *Rasio tempat tidur Rumah Sakit di Indonesia juga masih sangat rendah* yaitu 12 tempat tidur per 10.000 penduduk, dibawah Brunei Darussalam (28/10.000 penduduk), Singapura (24/10
000 penduduk) dan Malaysia (19/10.000 penduduk)

(3) *Rasio tempat tidur ICU Rumah sakit per 100.000 penduduk*, Indonesia hanya mempunyai 3 tempat tidur ICU RS per 100.000 penduduk, dibawah Brunei Darussalam (13 ICU Bed/ 100.000 penduduk), Singapura (12/100.000 penduduk) dan Thailand (11/100.000 penduduk). Karena nya jika 5% dari kasus COVID 19 yang memerlukan Ruang Rawat Intensif, tetapi dia tidak mendapatkan nya, maka banyak kasus akan meninggal

*Bagaimana dengan Propinsi Sumatera Barat?*
Propinsi Sumatera Barat dengan jumlah penduduk 5,5 juta, kalau kita pakai rasio tersebut diatas, maka jumlah dokter di Sumatera Barat seharusnya sebanyak 2200 orang tenaga Dokter, tersedia 6600 tempat tidur Rumah Sakit dan 165 tempat tidur ICU. Apakah jumlah ini tersedia di Propinsi Sumatera Barat (sesuai standar Nasional)?

Saya belum mendapatkan data pasti, tapi sepertinya kita belum mencapai standar minimal Nasional itu.

*MITIGATION STRATEGI*
Walaupun Wabah Pandemic COVID-‘19 ini bukan merupakan wabah bencana alam, tetapi secara Micro Health System *harus diperlakukan seperti Wabah Bencana ALAM* Kalau manajemen Bencana Alam jelas siklusnya yaitu; MITIGASI, fast response, late respon dan kemudian rehabilitasi, *frame time* nya jelas dan terukur.
Walaupun WABAH pandemic Covid 19 ini BUKAN WABAH BENCANA ALAM yang masih berlangsung, maka untuk menghindari kematian massal (kuburan massal) *diharapkan semua siklus penanganan bencana tersebut harus diperlakukan sama*, mulai dari MITIGASI. Fast response, late response dan rehabilitasi

Sangat penting kita memahami dalam menghadapi situasi ini dengan *prinsip bencana, bukan kondisi normal* Strategi yang dijalankan jelas akan *mengakibatkan dampak yang luas yaitu kehancuran tatanan ekonomi, sosial dan politik*
Strategi yang harus dijalankan sebetulnya kalau disederhanakan hanya 2 saja yaitu *(1) memutus rantai penularan dan (2) meningkatkan kapasitas sistem.pelayanan kesehatan*

Memutus rantai penularan dengan 3 cara yaitu (1) Zero contact = karantina wilayah, PSBB (2) Masker. Physical sistancing, cuci tangan. (3) Test masif untuk selanjutnya dilakukan tracing, clustering and containing.

Meningkatkan kapasitas pelayanan kesehatan dengan 3 cara yaitu (1) Meningkatkan jumlah bed, jumlah ruang isolasi, jumlah ventilator, sistem pembiayaan, dan pengadaan obat efektif. (2) Meningkatkan jumlah dan kemampuan Sumber Daya Manusia Kesehatan dan jumlah Alat pelindung Diri (3) menyediakan tempat isolasi, menyempurnakan dan melaksanakan sistim tracing, clustering and containing dengan maksimal.

*Secara Micro Health System, prinsip siklus bencana* :
1. Pelaksanaan harus berjalan secara paralel meliputi : MITIGASI, fast response, kate response san rehabilitasi
2. Alur KOMANDO harus jelas dengan sistem yang jelas dan tegas. *Pada kondisi bencana tidak ada ruang diskusi panjang lebar, otoriter kadang dibutuhkan dan keputusan selalu berdasarkan skala prioritas*
3. Pengaturan SDM selalu mempertimbangkan potensi bahaya yang masih mengancam. *Jadi semua relawan yang terjun akan punya risiko terdampak COVID 19*

4. *Pertimbangan untung rugi dan prioritas di fokuskan pada menolong orang sebanyak banyaknya dari ancaman kematian dan penderitaan*

Oleh karena itu *butuh kepemimpinan yang kuat dan harus dilakukan secara bersama oleh seluruh elemen bangsa*(analisa)